Reaktivasi Jalur Kereta di Jawa Barat, Harapan Baru untuk Mobilitas dan Pariwisata

PT Kereta Api Indonesia menyambut positif langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akan menghidupkan kembali sejumlah jalur kereta api yang telah lama tidak beroperasi
PT Kereta Api Indonesia menyambut positif langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akan menghidupkan kembali sejumlah jalur kereta api yang telah lama tidak beroperasi

MERAHPUTIH I BANDUNG — PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyambut positif langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akan menghidupkan kembali sejumlah jalur kereta api yang telah lama tidak beroperasi. Rencana ini dinilai mampu membuka kembali ruang konektivitas antardaerah, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mengangkat potensi pariwisata yang selama ini belum tergarap optimal.

Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 2 Bandung, Kuswardojo, mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tersebut. Sebagai operator transportasi berbasis rel, KAI melihat reaktivasi jalur kereta sebagai solusi mobilitas sekaligus strategi pembangunan wilayah yang berkelanjutan.

“Kalau KAI sebagai operator, pada prinsipnya kami mendukung penuh rencana Gubernur Jabar yang akan mereaktivasi jalur kereta api yang sudah lama tidak beroperasi,” ujar Kuswardojo saat ditemui di Bandung, Selasa (23/4/2025).

Menurut Kuswardojo, pengaktifan kembali jalur-jalur lama tak hanya memudahkan mobilitas warga di kawasan sekitar, tetapi juga menjadi salah satu solusi nyata dalam mengurangi beban kemacetan lalu lintas, terutama pada jalur-jalur wisata yang kerap padat di musim liburan.

“Reaktivasi juga berpotensi besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Jalur kereta api yang melewati kawasan pedesaan dengan panorama alam yang indah bisa dikembangkan menjadi rute wisata tematik,” kata Kuswardojo menambahkan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam beberapa kesempatan menekankan bahwa pembangunan moda transportasi massal seperti kereta api merupakan bagian penting dari visi besar pemerintahannya. Ia meyakini bahwa sistem transportasi berbasis rel memiliki keunggulan dalam hal kapasitas angkut, efisiensi waktu, dan ketahanan terhadap kemacetan.

“Kereta api bisa mendukung pariwisata karena sifatnya yang massal dan antimacet. Dengan kereta api, orang bisa bergerak bersama secara efisien,” kata Dedi dalam pernyataan resminya.

Beberapa jalur yang masuk dalam prioritas reaktivasi antara lain Bandung–Pangandaran, jalur kereta api Garut, Bogor–Sukabumi–Cianjur hingga Padalarang, dan jalur Bandung–Ciwidey. Semua kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata unggulan dengan potensi ekonomi yang besar, tetapi seringkali terkendala oleh akses transportasi yang belum optimal.

Reaktivasi jalur ini, lanjut Dedi, bukan sekadar membangun kembali rel dan stasiun yang terbengkalai, tetapi juga membangkitkan ingatan kolektif tentang kejayaan perkeretaapian di masa lalu. "Kami ingin menghadirkan kembali romantisme perjalanan kereta yang menyatu dengan alam dan budaya lokal," ujar Dedi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencanangkan reaktivasi 11 jalur kereta api dengan total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 20 triliun. Dana ini akan digunakan untuk membangun ulang infrastruktur fisik, revitalisasi stasiun, serta pengadaan sarana dan prasarana pendukung yang sesuai dengan standar transportasi modern.

Sejumlah pihak menilai bahwa langkah reaktivasi tersebut dapat memperkuat integrasi antarwilayah di Jawa Barat. Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Persoalan pembebasan lahan, pemukiman warga di atas jalur rel lama, serta kebutuhan pendanaan yang besar menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Kuswardojo menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. “Keterlibatan masyarakat sangat penting. Sosialisasi harus dilakukan dengan pendekatan yang persuasif, agar masyarakat mendukung dan merasa memiliki proyek ini,” tuturnya.

Di sisi lain, akademisi dari Universitas Padjadjaran, Ahmad Wicaksono, mengatakan bahwa reaktivasi jalur kereta juga perlu diiringi dengan penataan kawasan secara menyeluruh. “Tidak cukup hanya membangun rel, tetapi juga harus ada perencanaan tata kota dan konektivitas lanjutan seperti angkutan pengumpan di sekitar stasiun,” ujar Ahmad.

Bagi sebagian masyarakat, kembalinya jalur-jalur lama kereta api memberi harapan baru akan masa depan transportasi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan terjangkau. Tak hanya untuk pelancong atau pegiat ekonomi kreatif, tetapi juga bagi para petani, pelajar, hingga pekerja harian yang membutuhkan moda transportasi aman dan murah.

Dengan sinergi dan perencanaan matang, reaktivasi jalur kereta api di Jawa Barat tak sekadar menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga tonggak baru dalam membangun peradaban transportasi yang lebih manusiawi dan berorientasi pada masa depan. (red)

Editor : Redaksi