Festival Mangrove Ke-7 di Probolinggo: Dari Pantai Bahak untuk Dunia
MERAHPUTIH I PROBOLINGGO – Hamparan Pantai Bahak, Desa Curahdringu, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, kembali menjadi panggung aksi nyata kepedulian lingkungan. Selasa (19/8), ratusan orang dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Festival Mangrove ke-7, sebuah perayaan yang tak sekadar menanam bibit, melainkan meneguhkan janji bersama menjaga benteng hijau pesisir Jawa Timur.
Festival yang lahir dari kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sektor swasta, akademisi, dan komunitas masyarakat pesisir ini telah menjadi ikon tahunan gerakan pelestarian mangrove. Tahun ini, sorotannya bukan hanya pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada warisan ekologi dan ekonomi yang dibangun untuk generasi mendatang.
Konsistensi Jawa Timur dalam menjaga kawasan mangrove mendapatkan pengakuan nasional. Deputi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Sigit Reliantoro, hadir memberikan apresiasi.
“Pada 2024, Ibu Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menerima penghargaan dari LHK. Ilmu dan pengalaman yang Ibu miliki harus dapat ditularkan ke provinsi lain,” ujar Sigit.
Ia mengingatkan, pelestarian mangrove bukan semata urusan lingkungan. Lebih jauh, ia menekankan perlunya inovasi pembiayaan agar fungsi ekologis mangrove berjalan beriringan dengan manfaat ekonominya.
Komitmen menjaga bumi datang pula dari PT Semen Indonesia (SIG) Tbk. Direktur Utama, Indri Sony Indra, menyebut pihaknya menanam 17.845 bibit mangrove, seluruhnya hasil budidaya petani lokal Jatim.
“Kami berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan dalam seluruh aktivitas operasional di Indonesia. Bibit ini diharapkan memberi manfaat ganda, ekonomi dan ekologi,” tegasnya.
Gerakan ini tak hanya melibatkan perusahaan, tetapi juga menghidupkan mata pencaharian masyarakat pesisir, memperlihatkan bahwa pelestarian alam bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menghadirkan kisah tentang almarhum Karim, seorang tokoh Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Pasuruan, yang gigih menanam mangrove.
“Sekarang nelayan dari sembilan kecamatan mencari ikan di Nguling. Mereka tidak perlu melaut jauh, karena ikan datang ke habitat baru. Ini bukti mangrove menghadirkan kehidupan,” kata Khofifah.
Bagi Khofifah, rehabilitasi mangrove bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan transformasi sosial-ekonomi. Mangrove mengubah wajah desa, menahan abrasi, memberi rumah bagi fauna, sekaligus menghadirkan dapur penghidupan baru bagi masyarakat pesisir.
Festival ini menjadi ajang pertemuan berbagai unsur: TNI AL (diwakili Kolonel Pardede dari Akademi Angkatan Laut), kepala daerah dari Probolinggo, Situbondo, Lamongan, Pasuruan, hingga perwakilan universitas ternama seperti UIN Maliki, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya.
Simbol-simbol ekologis turut dipertunjukkan. Selain penanaman mangrove, dilakukan pelepasan kepiting dan burung ibis kepala hitam. Pesan yang hendak ditegaskan jelas: mangrove bukan hanya tentang pohon, tetapi juga tentang seluruh ekosistem yang saling terhubung.
Festival ditutup dengan nada optimisme. Di hadapan hadirin, Khofifah mengutip lirik Michael Jackson, Heal the World.
“Marilah kita menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik, mari kita jadikan bumi ini lebih layak huni,” ujarnya, sebelum memanjatkan doa agar upaya kecil dari Pantai Bahak ini memberi dampak besar bagi bumi dan anak cucu mendatang.
Festival Mangrove ke-7 di Probolinggo memberi pesan sederhana namun kuat: melestarikan alam adalah investasi kehidupan. Dari akar-akar mangrove yang ditanam hari ini, tumbuh harapan bagi laut yang lebih sehat, desa yang lebih tangguh, dan masa depan yang lebih hijau. (igo}
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih