"Bus TransJatim Kian Ngebut", Jadi Penggerak Baru Ekonomi Daerah
MERAHPUTIH I MALANG – Tak banyak moda transportasi publik yang berhasil mengubah wajah ekonomi daerah. Namun Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur membuktikan sebaliknya lewat gebrakan TransJatim. Bus berwarna hijau kuning itu kini tak sekadar membawa penumpang dari satu kota ke kota lain, tapi juga menjadi simbol konektivitas yang menggerakkan ekonomi rakyat.
Inovasi itu tak datang tanpa hasil. Pada 2025, Dishub Jatim menyabet penghargaan bergengsi detikJatim Awards untuk kategori Anugerah Program Ekonomi Terpuji: Konektivitas Transportasi Publik Penunjang Ekonomi.
“Penghargaan ini bukan akhir, tapi motivasi. Kami ingin TransJatim menjadi simbol kemajuan, kemandirian, dan solidaritas masyarakat Jawa Timur,” ujar Kepala Dishub Jatim, Nyono, usai menerima penghargaan, Rabu (5/11).
Menurutnya, TransJatim bukan sekadar proyek transportasi massal. Di balik kenyamanan kursi empuk dan jadwal teratur, tersimpan misi besar: menghubungkan potensi antarwilayah agar ekonomi lokal tumbuh beriringan.
“Bus TransJatim bukan sekadar alat transportasi, tetapi sudah menjadi penunjang ekonomi regional. Konektivitas yang baik memperlancar arus tenaga kerja, barang, dan wisatawan,” jelasnya.
Awalnya TransJatim hanya beroperasi di kawasan Surabaya Raya, meliputi Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Kini, jaringannya menjangkau Mojokerto, Lamongan, Bangkalan, hingga Malang Raya. Perluasan ini, kata Nyono, adalah bagian dari strategi besar membangun transportasi publik yang bukan hanya menghubungkan kota, tetapi menyatukan ekosistem ekonomi antarwilayah.
“Perluasan ke Malang Raya akan dilengkapi feeder lokal dan integrasi dengan angkutan kota. Kami ingin sistem transportasi yang menyatu, efisien, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, Dishub Jatim juga tengah menjalankan gebrakan baru bernama TransJatim Ekspedisi (TRADISI), layanan logistik berbasis jaringan bus massal. Lewat TRADISI, armada TransJatim tak hanya mengangkut manusia, tapi juga barang, membuka peluang efisiensi distribusi terutama bagi pelaku UMKM.
“Kami ingin menekan biaya logistik, mempercepat distribusi, dan memperkuat daya saing ekonomi lokal. Ini bagian dari upaya kami menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman,” terang Nyono.
Langkah Dishub Jatim ini mendapat apresiasi banyak pihak. Masyarakat menilai, TransJatim telah menjadi wajah baru pembangunan Jawa Timur yang inklusif. Aksesibilitas yang makin terbuka memudahkan warga desa memasarkan produk ke kota, dan sebaliknya, membuat pusat ekonomi makin ramai dengan pergerakan orang dan barang.
Di Lamongan dan Bangkalan misalnya, pelaku UMKM kini bisa menjangkau pasar Surabaya dengan ongkos lebih ringan berkat rute TransJatim. “Transportasi publik yang efisien berarti ekonomi rakyat lebih hidup,” tegas Nyono.
Kini, TransJatim bukan sekadar bus. Ia telah menjadi simbol kemajuan yang berpacu di jalanan Jawa Timur, membawa penumpang, mengantarkan peluang, dan menumbuhkan harapan baru bagi kesejahteraan rakyat di seluruh penjuru provinsi. (dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih