Dekranasda Jateng Perkuat Pendampingan Batik, Bidik Pasar Global
MERAHPUTIH I SEMARANG - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat pendampingan bagi produsen dan pengrajin batik lokal guna meningkatkan daya saing hingga pasar global. Langkah ini dilakukan seiring posisi Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah produsen batik terbanyak di Indonesia.
Data Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian mencatat, Jawa Tengah memiliki 2.299 unit produsen batik, jauh melampaui Jawa Timur, DIY, dan Jawa Barat.
Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin, menyebut besarnya jumlah produsen menjadi potensi sekaligus tantangan. Karena itu, Dekranasda menyiapkan strategi pendampingan berkelanjutan, mulai dari penguatan literasi digital, peningkatan kualitas produk, hingga regenerasi pengrajin.
“Literasi digital masih menjadi tantangan utama UMKM batik kita,” kata Nawal usai Rapat Kerja Daerah Dekranasda Jateng 2025–2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin (15/12/2025).
Selain digital marketing, Dekranasda juga mendorong standarisasi produk melalui kurasi bersama Bank Indonesia Jateng. Regenerasi pengrajin turut menjadi perhatian, menyusul penurunan jumlah pengrajin batik hingga 40 persen dalam empat tahun terakhir.
Upaya regenerasi dilakukan melalui pembelajaran membatik di sekolah serta pelatihan di SMK. Dekranasda juga memperbanyak pelatihan busana siap pakai (ready to wear) untuk mendukung pemasaran batik modern.
Pada 2026, Dekranasda Jateng menyiapkan tiga agenda pameran utama, yakni Dekranasda Jateng Modest Fest, Jateng InFashion, dan UMKM Jateng Fair di Sarinah, Jakarta.
Nawal menegaskan pentingnya pelestarian motif batik khas daerah, seperti batik tulis Rifa’iyah Batang yang kini terancam hilang. Seluruh pendampingan tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi dan ekspor batik, yang pada 2024 tercatat naik 76 persen.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi langkah Dekranasda dalam pembinaan UMKM. Ia menegaskan dukungan Pemprov Jateng melalui akses permodalan, termasuk penyaluran KUR Bank Jateng yang mencapai Rp34,3 triliun hingga Oktober 2025.
“Tujuannya agar pemerataan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat Jawa Tengah,” pungkas Gus Yasin.(sem)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih