Hasto Ajak Kader PDIP Jatim Menimba Kekuatan Sejarah Perjuangan Bangsa

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto

MERAHPUTIH I SURABAYA – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengingatkan seluruh kader partai agar tidak pernah melepaskan diri dari akar sejarah perjuangan bangsa. Sejarah, menurutnya, bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber energi ideologis yang harus terus dihidupkan dalam gerak politik PDI Perjuangan.

Pesan tersebut disampaikan Hasto usai membuka secara resmi Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan Jawa Timur yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya, Sabtu (20/12). Kegiatan konsolidasi partai ini menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas kader sekaligus meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan.

Hasto menegaskan, Jawa Timur memiliki posisi istimewa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Provinsi ini bukan hanya wilayah administratif, melainkan ruang lahirnya gagasan besar, perlawanan ideologis, hingga pengorbanan rakyat demi berdirinya Republik Indonesia.

“Di Jawa Timur ini kita belajar dari lima peristiwa besar. Mulai dari sejarah kerajaan Nusantara Majapahit, kemudian Bung Karno lahir dan digembleng secara ideologis di Jawa Timur, hingga Republik ini berdiri kokoh karena pengorbanan luar biasa rakyat melalui peristiwa heroik 10 November 1945,” ujar Hasto.

Menurutnya, memahami sejarah tersebut merupakan kewajiban moral kader PDI Perjuangan, agar setiap langkah politik selalu berpijak pada kepentingan rakyat dan cita-cita kemerdekaan.

Tak hanya sejarah bangsa, Hasto juga mengajak kader untuk meneladani perjalanan panjang PDI Perjuangan di Jawa Timur. Ia menyebut banyak peristiwa penting yang menempa partai berlambang banteng moncong putih itu hingga menjadi kekuatan politik rakyat.

“Di Jawa Timur, kita menyaksikan bagaimana Ibu Megawati Soekarnoputri secara de facto memimpin PDI pada tahun 1993 di Sukolilo, menghadapi rezim yang otoriter. Lalu muncul kekuatan arus bawah yang luar biasa, ditandai dengan peristiwa Pandegiling,” jelasnya.

Bagi Hasto, rangkaian peristiwa tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan cermin keteguhan sikap dan keberanian politik yang harus diwarisi kader hari ini. Ia menekankan bahwa PDI Perjuangan lahir, tumbuh, dan besar karena keberpihakannya pada rakyat kecil, bukan karena kekuasaan.

“Seluruh spirit juang itu harus dimiliki oleh setiap kader. Tidak masuk ke zona nyaman, berani melakukan kritik dan autokritik, serta turun ke bawah adalah jati diri PDI Perjuangan,” tegasnya.

Ia menambahkan, Konfercab dan Konferda bukan hanya agenda organisatoris lima tahunan, melainkan ruang refleksi untuk menguatkan kembali karakter partai sebagai alat perjuangan rakyat.

Konferda dan Konfercab PDI Perjuangan Jawa Timur ini diikuti oleh seluruh struktur partai dari 38 kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, mulai 20 hingga 21 Desember 2025, dengan agenda utama konsolidasi organisasi, evaluasi kinerja, serta penguatan ideologi partai.(dpr)

 

Editor : Redaksi