Leo Lelis dan Misi Mengulang Memori Manis di Pamelingan
MERAHPUTIH I SURABAYA - Pamekasan bukan sekadar destinasi tandang bagi Leo Lelis. Stadion Gelora Ratu Pamelingan menyimpan potongan kenangan yang tak mudah dilupakan bek asal Brasil itu. Musim 2022/2023 silam, namanya sempat bergema ketika Persebaya Surabaya menaklukkan Madura United dengan skor meyakinkan 0-2. Sebuah gol yang lahir bukan hanya dari kaki, tetapi dari keberanian dan determinasi.
Kini, cerita lama itu kembali terlintas di benaknya. Derby Suramadu edisi Super League 2025/2026 pekan ke-16, Sabtu (3/1) malam, menghadirkan peluang baru bagi Leo Lelis untuk menulis ulang kisah manis di tempat yang sama. Berseragam hijau kebanggaan Bajol Ijo, ia datang bukan sekadar untuk bertanding, tetapi untuk menuntaskan ambisi.
Kepercayaan diri Leo tengah berada di titik yang tepat. Gol ke gawang Persijap Jepara pada laga sebelumnya menjadi pelecut semangat sekaligus penanda kebangkitannya. Bek tangguh itu mengaku siap membawa energi positif ke laga panas melawan Madura United, duel yang selalu sarat gengsi dan emosi.
“Saya punya kenangan yang bagus di Pamelingan. Pernah mencetak gol dan membawa Persebaya menang di sana. Tentu saya ingin mengulang momen itu,” ujar Leo dengan nada optimistis.
Namun perjalanan Leo menuju titik ini bukan tanpa liku. Ia sempat berada dalam tekanan berat, terutama saat harus menerima kenyataan pahit mencetak gol bunuh diri pada laga sebelumnya. Kritik datang bertubi-tubi, sorotan publik kian tajam. Di situlah mentalitas seorang pemain diuji.
“Itu adalah momen yang sangat sulit bagi saya. Terutama saat mencetak gol bunuh diri. Saya harus tetap fokus, tapi secara umum tidak mudah untuk mengatasi tekanan dan kritikan,” ungkapnya jujur.
Alih-alih tenggelam dalam beban, Leo memilih bangkit. Laga melawan Persijap menjadi pembuktian. Berduet dengan Risto Mitrevski di jantung pertahanan, Leo tampil disiplin dan agresif. Selain mencetak gol, ia juga mencatatkan kontribusi defensif impresif: satu blok krusial, tujuh clearance, tiga intersep, dan tiga tekel. Statistik itu menegaskan perannya sebagai benteng kokoh Persebaya.
Di balik performa solid tersebut, ada kekuatan lain yang mengalir deras: dukungan suporter. Bonek dan Bonita hadir sebagai penyemangat, bukan hanya saat Leo bersinar, tetapi juga ketika ia berada di titik terendah.
“Saya ingin berterima kasih ke Bonek dan Bonita karena banyak penonton memberi dukungan kepadaku setelah momen-momen yang sulit. Mereka memberikan pesan positif,” tandasnya.
Derby Suramadu bukan sekadar soal tiga poin. Ini adalah pertaruhan harga diri, sejarah, dan karakter. Bagi Leo Lelis, laga di Pamelingan adalah kesempatan untuk membayar kepercayaan, menghapus keraguan, dan kembali menghadirkan memori indah.
Jika malam itu kembali berpihak, bukan mustahil Stadion Gelora Ratu Pamelingan sekali lagi menjadi saksi: seorang bek Brasil mengulang cerita, dan Persebaya pulang membawa kebanggaan.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih