Inovasi Justine, Mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya: Mesin Pengering Gabah Ekonomis Jawaban Petani di Musim Hujan
MERAHPUTIH I SURABAYA – Di tengah tantangan sektor pertanian nasional, terutama persoalan pascapanen yang kerap menghantui petani saat musim hujan, secercah solusi lahir dari tangan mahasiswa. Nur Ahmad Justine Ivana, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, memperkenalkan sebuah karya inovatif berupa mesin pemisah dan pemanas gabah padi yang dirancang khusus untuk menjawab problem klasik petani Indonesia.
Karya tersebut dipresentasikan dalam sebuah press conference pameran karya menarik calon wisudawan, menjelang pelaksanaan wisuda Untag Surabaya yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Februari 2026. Di hadapan wartawan, Justine memaparkan secara lugas fungsi, cara kerja, hingga visi pengembangan alat yang ia rancang secara mandiri dengan pendekatan teknologi sederhana dan ekonomis.
“Alat ini saya rancang khusus untuk petani, terutama karena Indonesia hanya punya dua musim, hujan dan panas. Saat musim hujan, banyak petani mengeluh karena gabah sulit dikeringkan,” ujar Justine membuka penjelasannya.
Berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan sinar matahari, mesin karya Justine mampu mengeringkan gabah basah menjadi kering hanya dalam waktu sekitar 10 menit. Proses ini memungkinkan petani segera menjual gabah tanpa harus menunggu cuaca cerah berhari-hari.
Secara teknis, mesin tersebut bekerja melalui beberapa tahapan. Gabah dimasukkan melalui corong atau cerobong, kemudian sebuah blower berfungsi memisahkan padi dari sekamnya. Sekam akan terbuang otomatis, sementara gabah bersih masuk ke ruang pemanas atau heater.
“Prinsipnya seperti dioven. Gabah dipanaskan sampai benar-benar kering,” jelasnya.
Untuk tahap awal, mesin ini masih memiliki kapasitas sekitar dua kilogram gabah per proses. Meski demikian, Justine menegaskan kapasitas tersebut masih bisa ditingkatkan dengan melakukan pembaruan pada sistem dan mesin pendukung.
“Kalau mau lebih berat, tentu bisa. Tinggal upgrade mesinnya,” katanya.
Dari sisi efisiensi energi, mesin ini tergolong hemat. Total daya listrik yang digunakan berkisar 40 watt, dengan konsumsi terbesar berasal dari heater yang bekerja pada kombinasi daya 15 hingga 30 watt. Angka ini dinilai cukup ramah bagi petani kecil di pedesaan.
Tak kalah menarik, biaya pembuatan alat ini tergolong sangat terjangkau. Untuk komponen elektrikal, Justine hanya menghabiskan dana sekitar Rp750 ribu, sementara material lainnya memanfaatkan barang daur ulang sisa proyek, seperti PVC plafon, pipa besi, dan plat pelapis.
“Kalau ditotal memang lebih dari satu juta, tapi karena banyak bahan dari daur ulang, biayanya bisa ditekan,” ungkapnya.
Dalam pengembangan alat ini, Justine mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga mesin selesai dirakit, meski secara keseluruhan kampus memberikan rentang waktu dua bulan. Tantangan utama yang dihadapi pun bukan pada desain, melainkan pada ketelitian teknis, khususnya pengecekan kabel.
“Yang penting sabar. Kabel harus dicek satu per satu,” ujarnya sambil tersenyum.
Lebih jauh, inovasi ini dinilai selaras dengan program ketahanan pangan nasional, termasuk arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor beras. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Lutfi Agung Swarga, dosen pendamping sekaligus akademisi Untag Surabaya, yang turut hadir dalam sesi diskusi bersama wartawan.
“Tujuan mahasiswa dan universitas sejalan, yaitu ketahanan pangan. Bagaimana teknologi bisa masuk ke semua lini, termasuk pertanian,” jelas Lutfi.
Menurutnya, persoalan pengeringan gabah masih menjadi masalah nyata di sejumlah daerah, seperti Mojokerto, Trawas, dan Pacet, di mana petani kerap kesulitan menyiapkan gabah sebelum masuk ke mesin penggiling padi atau selep.
“Alat ini hadir sebagai solusi agar petani tidak lagi bergantung pada matahari,” tegasnya.
Meski masih dalam tahap awal, Justine membuka peluang hilirisasi alat tersebut ke masyarakat. Rencananya, mesin pengering gabah ini akan diuji coba terlebih dahulu di lingkungan sekitar sebelum dikembangkan lebih luas.
“Target saya setelah wisuda, ingin mencoba langsung ke masyarakat,” ucapnya.
Ke depan, alat ini juga masih akan disempurnakan, baik dari sisi kapasitas, efisiensi, maupun keamanan penggunaan. Dukungan kampus dinilai menjadi faktor penting agar inovasi mahasiswa tidak berhenti di ruang pameran semata, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi petani.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan nasional, inovasi sederhana dari mahasiswa ini menjadi bukti bahwa teknologi tepat guna bisa lahir dari kampus dan memberi harapan baru bagi sektor pertanian Indonesia.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih