Ratusan Pelaku Budaya Terima Apresiasi, Bukti Nyata Keberpihakan Pemprov Jatim

MERAHPUTIH I MALANG - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa kembali menegaskan komitmennya dalam merawat denyut kebudayaan Jawa Timur. Bertempat di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Minggu (22/2), Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyerahkan apresiasi kepada 500 seniman dan 148 juru pelihara cagar budaya, sekaligus menyerahkan 46 sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia untuk 22 kabupaten/kota di Jatim.

Acara bertajuk Penyerahan Apresiasi Seniman, Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya dan Warisan Tak Benda Indonesia itu berlangsung hangat dan sarat makna. Ratusan pelaku budaya dari berbagai daerah hadir, mengenakan busana khas daerah masing-masing, menghadirkan mozaik tradisi yang hidup dan berwarna.

Secara simbolis, Gubernur Khofifah menyerahkan apresiasi kepada 10 perwakilan. Total 500 seniman masing-masing menerima insentif sebesar Rp1.000.000, naik dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya ditambah dengan paket bahan pokok. Sementara itu, 148 juru pelihara cagar budaya juga memperoleh tunjangan kehormatan senilai Rp1.500.000 beserta paket bahan pokok.

“Terima kasih terutama Bu Evy, Kepala Dinas Pariwisata, seluruh seniman, budayawan, dan panjenengan semua yang merawat cagar budaya di Jawa Timur ini, maturnuwun semuanya,” ujar Khofifah di hadapan para hadirin.

Dalam sambutannya, Khofifah secara khusus menyebut nama Budi Utomo, pelestari Topeng Panji yang konsisten menjaga eksistensi budaya Panji. Festival Panji yang ia inisiasi bahkan telah menembus forum-forum kebudayaan di negara-negara ASEAN, mempertemukan generasi muda lintas bangsa untuk merawat nilai-nilai kearifan lokal.

Menurutnya, animo masyarakat terutama generasi muda Malang terhadap Topeng Panji masih sangat tinggi. Drama Topeng Panji yang digelar beberapa waktu lalu mampu menyedot sekitar 2.000 penonton. Fakta ini menjadi penegas bahwa budaya tradisional tetap memiliki ruang di tengah arus modernisasi.

“Artinya, napas budaya untuk bisa melestarikan seluruh wisdom dari proses transformasi budaya tetap bisa kita lakukan di tengah proses transformasi digital IT yang luar biasa,” tegasnya.

Ia menilai, sinergi antara pelaku budaya, juru pelihara, serta pemerintah kabupaten/kota menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya, baik yang berwujud benda maupun tak benda. Tanpa kolaborasi, warisan hanya akan menjadi catatan sejarah, bukan praktik hidup yang terus diwariskan.

Momentum tersebut juga ditandai dengan pengakuan resmi sejumlah warisan budaya baru oleh pemerintah pusat. Di antaranya adalah Nasi Boran dari Lamongan serta Budaya Tengger yang kini tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pengakuan ini memperkaya daftar khazanah budaya Jatim yang telah diakui secara nasional.

Khofifah pun meminta para bupati dan wali kota untuk terus menginventarisasi potensi budaya di wilayah masing-masing. Ia mendorong penguatan manuskrip budaya serta percepatan digitalisasi arsip sebagai langkah strategis menghadapi era teknologi informasi.

“Kalau ada manuskrip kemudian dibuat digital IT manuskripnya, betapa kayanya budaya di Jawa Timur dan itu akan menjadi referensi budaya Indonesia dan dunia,” ujarnya optimistis.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, Evy Afianasari, menegaskan bahwa pemberian apresiasi ini merupakan implementasi program Nawa Bhakti Satya, khususnya misi “Jatim Harmoni”.

Menurut Evy, kenaikan insentif dua kali lipat bagi seniman dan juru pelihara merupakan arahan langsung Gubernur sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka menjaga identitas budaya daerah. Ia juga mengungkapkan, tahun ini Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak kedua secara nasional dalam penetapan WBTB Indonesia.

Prosesnya dimulai dari usulan kabupaten/kota, diverifikasi oleh Disbudpar Jatim, lalu disidangkan di hadapan tim ahli WBTB Indonesia di Jakarta hingga akhirnya ditetapkan.

“Matur sembah nuwun Ibu Gubernur. Ini bukti komitmen bahwa kebudayaan bukan hanya dijaga, tetapi juga diperkuat secara administratif dan legal,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, langkah ini menjadi penegasan bahwa Jawa Timur tidak sekadar mempertahankan tradisi sebagai simbol masa lalu. Lebih dari itu, budaya ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, menguatkan identitas, menggerakkan ekonomi kreatif, serta menautkan generasi muda dengan akar sejarahnya.

Sebab pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang warisan. Ia adalah napas yang terus dihidupkan, dirawat, dan diwariskan. Dan di Malang, komitmen itu kembali ditegaskan.(dpr) 

Editor : Redaksi