RS Bunda Dikomplain Keluarga Pasien

Petugas RS Bunda dinilai lamban oleh keluarga pasien. ist
Petugas RS Bunda dinilai lamban oleh keluarga pasien. ist

MERAHPUTIH|SURABAYA-Keluarga besar Bagar complain dengan pelayanan Rumah Sakt (RS) Bunda di Jl Manukan. Penyebabnya, keluarga Bahar seolah dipingpong ketika membawa ayah mereka Farhad Bagar ke rumah sakit tersebut.

Ketakutan berlebihan juga lambannya penanganan hingga Farhad Bagar mengembuskan nafas terakhir di RS Bunda. Masalah pun belum selesai ketika Farhad sudah tidak bernyawa. RS Bunda bersikeras melakukan protap Covid-19 kepada Farhad.

Padahal, Bagar, Farhad sudah menjelaskan kronologis sakit yang diderita ayahnya. Menurut bagar, ayahnya Rabu, (27/5) malam mengeluhkan sakit. Ia kemudian membawanya ke poliklinik di Kawasan Balongsari. Karena kurang sreg, Bagar lalu membawa ayahnya ke dokter Bekti di Kawasan Manukan.

Paginya, ayah Bagar mengeluhkan sesak nafas. Tanpa menunggu lama, Bagar membawanya ke RS Bunda. Sayang, ketika di rumah sakit, Bagar seolah dipingpong. Padahal, Bagar sudah menjelaskan Riwayat penyakit ayahnya. “Mereka ketakutan berlebihan dengan adanya Covid-19. Padahal saya juga sudah menjelaskan baru tes Covid-19 dan hasilnya non reaktif,” ungkap Bagar kecewa.

Bagar yang merupakan anggota Polsek Wiyung juga menjelaskab kepada dokter RS setempat tentang kondisi bapaknya. “Bapak saya didiagnosis tipus awalnya. Tapi kemudian hasil tes negatiof Covid-19. Itu pun dokter masih mbulet. Mereka ketus sekali dalam memberikan pelayanan. Saya sempat mencatat nama dokter Hana dan Yahya yang menangani ayah saya. Bahkan untuk mencari infus saja lamanya minta ampun. RS Bunda benar-benar tidak professional,” sambung Bagar.

Setelah meninggal pun, pihak rumah sakit masih mbulet dan mengulur-ulur waktu. “Awalnya pihak rumah sakit mengatakan ambulans dari rumah sakit. Saya bilang oke. Tapi lama sekali. Lalu kemudian didatangkan ambulans dari luar rumajh sakit, saya juga nggak masalah. Tapi kenapa lama sekali. Padahal ayah saya meninggalnya cepat dan kami pihak keluarga ingin membawa pulang secepatnya untuk dikuburkan,” jelas Bagar.

Baru ketika Bagar mengeluarkan ponsel dan merekam lambannya pelayanan RS Bunda, dokter dan perawat setempat baru kebingungan. “Untuk membawa jenasah ayah saya malah dipinjami payung pasien lain bukan payung pihak rumah sakit,” jlentrehnya. Bagar menyebut, setelah menyelesaikan administrasi pembayaran, keluarganya seolah dibiarkan begitu saja. “Kami benar-benar kecewa dengan pelayanan RS Bunda. Petugas setempat malah enak-enakan nongkrong ketika kami bingung akan membawa pulang jenasah ayah. Bahkan petugas parkir pun tidak ada sehingga kami harus menggotong jenasah ayah keluar padahal saat itu hujan deras,” bebernya.

Akibat kejadian itu, jenasah Farhad tertahan cukup lama di rumah sakit. Baru sekitar pukul 18.30 WIB, Jenasah tiba di kediaman Kawasan Manukan. “Padahal ayah saya meninggal siang sekitar pukul 13.00 WIB. Ayah saya meninggalnya cepat kok di hari baik yaitu Kamis malam Jumat,” paparnya. (red)

 

 

Editor : Eko Yudiono