Petani Jatim Siaga Dampak Konflik Global, HKTI Dorong Inovasi Energi Surya untuk Irigasi
MERAHPUTIH I SURABAYA – Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur periode 2024–2029, Arum Sabil, menyoroti potensi dampak konflik Perang Iran dan Israel terhadap sektor pertanian, khususnya terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Hal itu disampaikannya usai melakukan silaturahmi dan halal bihalal bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Rabu (1/4).
Menurut Arum, dampak konflik geopolitik tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga negara-negara lain di dunia. Salah satu kekhawatiran utama adalah terganggunya distribusi dan ketersediaan BBM yang menjadi penopang utama operasional pertanian modern.
“Persoalan BBM ini sangat krusial. Saat ini saja sudah mulai terlihat antrean di sejumlah SPBU. Sementara pertanian tidak boleh berhenti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar alat pertanian seperti traktor dan pompa air masih bergantung pada bahan bakar fosil. Ketika distribusi BBM terganggu, aktivitas pertanian ikut terancam, terutama dalam hal pengairan lahan.
Arum menegaskan, persoalan utama pertanian saat ini bukan lagi pada teknik budidaya, melainkan ketersediaan air. Menurutnya, petani pada dasarnya sudah menguasai cara tanam, pemupukan, hingga pengolahan lahan.
Namun, tantangan terbesar adalah memastikan air tetap tersedia, terutama di tengah ancaman musim kemarau panjang.
“Air itu nadi pertanian. Tanpa air, semua tidak bisa berjalan. Masalahnya sekarang, tidak semua lahan memiliki akses irigasi teknis,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, kondisi infrastruktur irigasi saat ini jauh berbeda dibandingkan dua dekade lalu. Banyak saluran irigasi yang rusak atau terputus akibat alih fungsi lahan, seperti pembangunan perumahan. Selain itu, debit sumber air juga terus menurun.
Akibatnya, banyak lahan pertanian yang bergantung pada sistem tadah hujan. Kondisi ini semakin rentan ketika curah hujan berkurang.
“Air sebenarnya ada, tapi debitnya kecil. Untuk mengangkat air itu ke lahan, petani butuh pompa. Nah, pompa ini yang jadi persoalan karena bergantung pada BBM,” katanya.
Sebagai solusi, HKTI Jawa Timur mendorong pemanfaatan energi terbarukan melalui teknologi pompa air tenaga surya. Inovasi ini dinilai menjadi alternatif strategis di tengah ketidakpastian pasokan energi fosil.
Arum menyebut, sejumlah petani muda yang tergabung dalam HKTI telah mengembangkan teknologi pompa air berbasis panel surya yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
“Ini bukan lagi wacana. Sudah ada dan sudah kami uji coba. Bahkan ada yang sifatnya portable, bisa dipindah-pindah menggunakan kendaraan,” ungkapnya.
Menurutnya, teknologi tersebut juga bisa dimanfaatkan secara gotong royong oleh petani dalam satu kawasan. Dengan demikian, biaya investasi yang relatif tinggi di awal dapat ditekan melalui penggunaan bersama.
Tak hanya untuk pengairan, inovasi berbasis tenaga surya juga telah dikembangkan untuk kebutuhan lain, seperti alat perontok gabah dalam satu unit perangkat multifungsi.
Meski demikian, Arum menekankan bahwa pengembangan teknologi tersebut membutuhkan dukungan serius dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan alat maupun pendampingan teknis.
Ia berharap program pemberdayaan petani dapat lebih difokuskan pada kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang sudah terdaftar secara resmi.
“Bantuan jangan hanya diberikan, tapi juga harus ada bimbingan. Mulai dari cara penggunaan, perawatan, hingga pengelolaan agar bisa berkelanjutan,” tegasnya.
Selain persoalan air dan energi, HKTI juga menyoroti pentingnya akses permodalan yang lebih mudah bagi petani melalui sektor perbankan. Hal ini dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberlangsungan usaha tani.
“Ini bukan keluhan, tapi persoalan riil di lapangan. Petani tidak bisa berjalan sendiri. Butuh perlindungan dan dukungan dari pemerintah,” katanya.
Menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini, HKTI Jawa Timur menegaskan pentingnya adaptasi melalui inovasi dan kolaborasi. Ketergantungan pada energi fosil dinilai harus mulai dikurangi secara bertahap.
Arum juga mengaitkan perkembangan ini dengan tren global, termasuk meningkatnya penggunaan kendaraan listrik sebagai respons terhadap krisis energi dunia.
“Kalau sektor transportasi sudah mulai beralih ke energi listrik, pertanian juga harus bergerak ke arah yang sama. Ini bukan pilihan lagi, tapi kebutuhan,” pungkasnya. (pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih