Distribusi Aman, Stok LPG 3 Kg di Jatim Diklaim Cukup hingga 20 Hari
MERAHPUTIH I SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak memastikan ketersediaan LPG bersubsidi ukuran tiga kilogram di wilayahnya dalam kondisi aman. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjamin rantai distribusi berjalan lancar, dengan proyeksi stok mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 20 hari ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Emil saat melakukan peninjauan langsung ke pangkalan LPG milik warga di kawasan Jemursari, Surabaya, Senin (6/4/2026). Dalam kunjungan itu, ia menekankan bahwa stabilitas distribusi menjadi faktor krusial, terlebih di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi.
Menurut Emil, kecukupan stok tidak hanya dilihat dari jumlah yang tersedia di depo, melainkan dari keseluruhan sistem distribusi, termasuk pasokan yang masih dalam perjalanan. “Yang terpenting adalah kelancaran distribusi. Ketika masyarakat membutuhkan, pasokan harus bisa segera tersedia,” ujarnya.
Ia mengakui sempat terjadi kendala suplai di sejumlah daerah, salah satunya di Kabupaten Tuban. Namun, kondisi tersebut kini mulai teratasi seiring dengan masuknya pasokan secara bertahap ke wilayah tersebut. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, distribusi LPG ke tingkat warung dan pangkalan tetap berjalan.
“Di Tuban, suplai terus berdatangan. Warung-warung juga masih menerima pasokan secara rutin,” jelasnya.
Hal serupa sebelumnya juga terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Emil menyebut kelangkaan di daerah tersebut dipicu lonjakan permintaan dalam waktu bersamaan, bukan karena terhentinya distribusi. Untuk meredam kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga melakukan penambahan pasokan hingga 73 persen dari kondisi normal.
“Setelah dilakukan penambahan suplai, kondisi di Banyuwangi kini sudah kembali normal. Tidak ada laporan kelangkaan serupa di daerah lain,” katanya.
Lebih lanjut, Emil menjelaskan bahwa distribusi LPG bersubsidi di Jawa Timur didukung oleh sekitar 36 ribu pangkalan resmi. Ia mengimbau masyarakat untuk membeli LPG di pangkalan guna mendapatkan harga sesuai ketentuan pemerintah.
“Kalau di tingkat pengecer harganya lebih tinggi, masyarakat sebaiknya cek ke pangkalan. Harga resmi di pangkalan sekitar Rp18 ribu,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Iwan Yudha Wibawa menjelaskan bahwa stok LPG yang siap disalurkan di tingkat depo memang berada di kisaran 4,4 hari. Namun angka tersebut bukan mencerminkan keseluruhan ketersediaan.
Ia menuturkan, jika dihitung secara nasional, termasuk stok di kapal, pelabuhan, serta yang masih dalam proses pengiriman total ketersediaan mencapai sekitar 20 hari. Sistem pencatatan ini kerap disalahartikan oleh publik.
“Stok di depo hanya bagian dari rantai distribusi. Sementara yang lain masih dalam perjalanan atau bersandar di pelabuhan. Jadi tidak bisa dilihat secara parsial,” ujarnya.
Iwan memastikan, pihaknya terus menjaga ketersediaan energi dengan mengacu pada standar stok nasional yang berada di atas tujuh hari. Dengan sistem distribusi yang terintegrasi, Pertamina optimistis kebutuhan LPG masyarakat tetap terpenuhi.
“Pertamina berkomitmen menjaga pasokan energi agar tetap aman dan mencukupi,” tandasnya.(pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih