Adu Tangguh Kebijakan BI vs ECB: Menjaga Rupiah, Wujud Nyata Bela Negara di Sektor Ekonomi

ilustrasi
ilustrasi

MERAHPUTIH I SURABAYA - Bayangkan ketika Kita sedang merencanakan liburan ke Eropa, tetapi tiba-tiba harga tiket melonjak dan nilai tukar rupiah melemah. Begitu pula saat kita ingin mengajukan kredit rumah, suku bunga bank justru naik sehingga cicilan terasa semakin berat

Di balik keputusan-keputusan besar yang memengaruhi dompet kita tersebut, ada dua aktor utama yang menarik untuk dikupas, yaitu Bank Indonesia dan European Central Bank (ECB). Di tanah air, Bank Indonesia merupakan bank sentral Republik Indonesia yang berdiri sejak tahun 1953. Bank Indonesia memiliki tujuan utama menjaga kestabilan nilai Rupiah melalui kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, dan pengaturan sistem pembayaran. Saat ini, BI dipimpin oleh Gubernur Perry Warjiyo.

Sementara itu, European Central Bank adalah bank sentral untuk kawasan zona euro yang berdiri pada tahun 1998 dan bermarkas di Frankfurt, Jerman. ECB bertugas menjaga stabilitas harga dan mengatur kebijakan moneter bagi negara-negara pengguna mata uang euro. Saat ini, ECB dipimpin oleh Christine Lagarde.

Meskipun keduanya sama-sama bertugas menjaga stabilitas ekonomi, berikut adalah perbedaan kebijakan moneter yang signifikan di antara keduanya:

1. Suku Bunga Acuan (2026): BI menetapkan BI-Rate yang lebih tinggi sebesar 4,75% karena status Indonesia sebagai negara berkembang dengan risiko investasi besar, sementara ECB menetapkan MRO Rate yang lebih rendah sebesar 2,15% yang berlaku serentak untuk seluruh negara anggota zona euro.

Suku Bunga Acuan (2026)
BI: 4,75% (BI-Rate)
ECB: 2,15% (MRO Rate)

2. Pengendalian Inflasi: BI menargetkan inflasi sebesar 2,5% ±1% untuk periode 2024-2026 melalui bauran kebijakan moneter, sedangkan ECB menargetkan inflasi 2lam jangka menengah dengan tantangan menyelaraskan kondisi ekonomi 20 negara anggota yang berbeda.

3. Stabilitas Nilai Tukar: BI bertindak aktif mengintervensi pasar valas dan menjual cadangan devisa demi menahan depresiasi Rupiah, sementara ECB membiarkan mata uang Euro mengambang bebas mengikuti mekanisme pasar internasional.

Kesimpulan: BI lebih "aktivis" soal nilai tukar. ECB lebih "santai" karena Euro sudah punya posisi kuat sebagai mata uang globa.

Perbedaan strategi kedua bank sentral ini tidak hanya terlihat dalam kondisi normal, tetapi juga tercermin dari cara mereka merespons krisis ekonomi global yang menguji ketahanan sistem keuangan masing-masing. Bagaimana kedua bank sentral ini merespons ketika dunia menghadapi krisis ekonomi global? Bagian ini menjadi salah satu pembahasan paling menarik untuk dibandingkan.

 

1. Krisis 2008 (Global Financial Crisis)

BI: Bank Indonesia menurunkan BI Rate dari 9,5% menjadi 6,5%, melakukan injeksi likuiditas ke perbankan, serta intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas Rupiah. Kebijakan tersebut dinilai efektif karena Indonesia tetap mampu mencatat pertumbuhan ekonomi positif di tengah krisis global.

ECB: European Central Bank (ECB) merespons krisis dengan memangkas suku bunga acuan dan menyediakan likuiditas jangka panjang bagi perbankan melalui program Long-Term Refinancing Operations (LTRO). ECB juga menerapkan Quantitative Easing (QE) dan suku bunga negatif untuk mendukung pemulihan ekonomi kawasan zona euro.

2. Pandemi COVID-19 (2020-2021)
BI: Bank Indonesia menurunkan BI Rate sebesar 150 bps, melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM), serta membeli Surat Berharga Negara (SBN) melalui skema burden sharing bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi selama pandemi.

ECB: European Central Bank (ECB) meluncurkan Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP) senilai €1,85 triliun sebagai program pembelian aset darurat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendukung pemulihan ekonomi kawasan zona euro.

Pendekatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
BI Bank Indonesia memiliki tujuan utama menjaga kestabilan nilai Rupiah. Selain itu, BI juga mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan stabilitas sistem keuangan sehingga perlu menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

ECB European Central Bank (ECB) memiliki mandat utama menjaga stabilitas harga di kawasan zona euro. Meskipun pertumbuhan ekonomi bukan fokus utama, ECB tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi dan keuangan kawasan euro dalam pengambilan kebijakan moneter.

A.   

B. Dampak Nyata Kebijakan Moneter dan Kaitannya dengan Bela Negara
Setiap keputusan yang dibuat oleh bank sentral memiliki dampak langsung yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat: Saat Suku Bunga Naik: Cicilan KPR/kredit menjadi lebih berat dan konsumsi melambat, tetapi bunga tabungan meningkat dan nilai tukar Rupiah cenderung lebih stabil. Saat Suku Bunga Turun: Kredit menjadi lebih murah sehingga bisnis/UKM berkembang dan ekonomi bergeliat , meskipun ada risiko inflasi jika tidak dikelola dengan baik. Saat Nilai Tukar Stabil: Harga barang impor (BBM, pangan, elektronik) tetap terjaga, memberikan kepastian bagi investor, serta membuat biaya utang luar negeri lebih terprediksi.

Jauh dari sekadar teori ekonomi yang abstrak, menjaga stabilitas finansial sebenarnya merupakan wujud nyata dari aksi bela negara di era modern. Melalui pengendalian inflasi dan penjagaan stabilitas Rupiah, Bank Indonesia memainkan peran krusial dalam memperkuat ketahanan nasional non-militer. Ketika nilai mata uang domestik terjaga dengan baik, kedaulatan ekonomi bangsa secara otomatis ikut kokoh karena harga barang-barang impor strategis seperti pangan dan energi tidak akan melonjak drastis. Selain itu, pengelolaan cadangan devisa yang bijak dan sistem keuangan yang kokoh mampu melindungi negara dari hantaman gejolak finansial global. Pada akhirnya, seluruh bauran kebijakan moneter ini bermuara pada satu tujuan mulia, yaitu melindungi daya beli masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan dan stabilitas nasional yang berkelanjutan.

**Penulis : Dr. Ririt Iriani Sri S. S.E., M.E (Dosen EP-FEB UPN Veteran Jatim) & Nesia Putri Pertiwi , mahasiswa EP-FEB UPN Veteran Jatim

Editor : Redaksi