Usung Pariwisata Berkelanjutan, Raka Raki Jatim 2026 Siap Tentukan Duta Wisata Terbaik
MERAHPUTIH I SURABAYA – Puncak Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur ke-28 semakin dekat. Setelah melewati proses seleksi dan pembinaan yang berlangsung sejak Maret 2026, malam Grand Final dijadwalkan digelar pada 8 Agustus 2026 di Hotel Aston Gresik. Sebanyak 36 pasangan finalis dari berbagai kabupaten dan kota akan bersaing memperebutkan gelar Raka dan Raki Jawa Timur 2026.
Ajang yang telah menjadi ikon pembinaan duta wisata di Jawa Timur selama hampir tiga dekade ini tidak lagi sekadar menilai penampilan para peserta. Lebih dari itu, setiap finalis dituntut memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi publik, wawasan budaya, serta gagasan nyata dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Ali Afandi, mengatakan seluruh tahapan menuju grand final telah berjalan sesuai rencana. Saat ini para finalis sedang menyelesaikan program berdampak atau impact project yang menjadi bagian penting dari proses penilaian.
"Insyaallah grand final akan dilaksanakan pada 8 Agustus di Hotel Aston Gresik. Saat ini seluruh peserta sedang menjalankan program berdampak di daerah masing-masing," ujarnya.
Menurut Ali, rangkaian seleksi tahun ini dimulai sejak Maret dengan berbagai tahapan, mulai dari administrasi, pembekalan, pelatihan, hingga implementasi proyek yang harus dijalankan para peserta.
Program tersebut bukan sekadar tugas kompetisi, melainkan bentuk kontribusi nyata para finalis bagi daerah asalnya. Setiap peserta diminta merancang kegiatan yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan sektor pariwisata.
"Program berdampak itu seperti mini project yang mereka lakukan di daerah masing-masing. Bisa berkaitan dengan pariwisata, budaya maupun ekonomi kreatif, tetapi tema besarnya adalah sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan," jelasnya.
Konsep pariwisata berkelanjutan menjadi fokus utama penyelenggaraan tahun ini. Para finalis didorong menghadirkan inovasi yang mengedepankan pelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, hingga pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata.
Ali menuturkan, implementasi konsep tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kampanye wisata bersih, pelestarian tradisi daerah, promosi produk ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga destinasi wisata.
"Pariwisata berkelanjutan itu mencakup wisata bersih, berbasis budaya, dan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki setiap daerah," katanya.
Sebanyak 36 kabupaten dan kota mengirimkan wakilnya pada penyelenggaraan tahun ini. Jumlah tersebut sedikit berkurang dibandingkan jumlah daerah di Jawa Timur karena terdapat dua kabupaten yang tidak menyelenggarakan proses pemilihan di wilayahnya sehingga tidak dapat mengirimkan delegasi.
"Yang ikut ada 36 kabupaten dan kota. Ada dua kabupaten yang tidak berpartisipasi karena memang tidak menyelenggarakan pemilihan di daerahnya," ujar Ali.
Persaingan menuju malam puncak diperkirakan berlangsung ketat. Seluruh finalis telah melewati berbagai materi pembinaan yang menguji kemampuan public speaking, wawasan kebangsaan, pengetahuan mengenai destinasi wisata, budaya daerah, etika, kepemimpinan, hingga kemampuan memanfaatkan teknologi digital sebagai media promosi.
Aspek komunikasi digital kini menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian. Seiring perubahan perilaku wisatawan yang semakin bergantung pada media sosial dan platform digital dalam menentukan tujuan perjalanan, seorang duta wisata dituntut mampu menghadirkan konten kreatif sekaligus membangun citra positif daerahnya.
Karena itu, kemampuan menghasilkan narasi promosi yang menarik, mengelola media sosial secara profesional, hingga membangun interaksi dengan masyarakat menjadi bagian dari kompetensi yang harus dimiliki para finalis.
Penyelenggaraan Raka Raki Jawa Timur selama ini juga dikenal sebagai wadah pembentukan karakter generasi muda. Banyak alumni ajang tersebut yang kemudian berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, akademisi, industri kreatif, dunia usaha, hingga menjadi figur publik yang tetap aktif mempromosikan potensi Jawa Timur.
Tidak hanya menjadi simbol promosi wisata, Raka Raki Jawa Timur juga diharapkan mampu menjadi penggerak kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, komunitas budaya, dan masyarakat dalam mengembangkan destinasi yang berdaya saing.
Pada malam Grand Final nanti, panitia akan menetapkan penerima lima gelar atribut, empat gelar utama, hingga pasangan terbaik yang resmi menyandang predikat Raka dan Raki Jawa Timur 2026. Para pemenang selanjutnya akan menjadi mitra Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam berbagai agenda promosi wisata, festival budaya, kampanye ekonomi kreatif, hingga kegiatan edukasi kepada masyarakat.
Dengan mengusung semangat pariwisata berkelanjutan, ajang Raka Raki Jawa Timur 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan duta wisata yang mampu tampil di atas panggung, tetapi juga generasi muda yang menghadirkan gagasan, aksi nyata, dan inovasi untuk memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.(pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih