Khofifah Motivasi 438 Ribu Murid Jatim Hadapi Tes Kemampuan Akademik

MERAHPUTIH I SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan semangat kepada 438.126 murid SMA, SMK, SLB, dan sederajat yang terdaftar mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai Senin (26/10). Ia meminta para peserta menghadapi asesmen dengan tenang, percaya diri, dan menjunjung tinggi kejujuran.

Khofifah menegaskan, TKA bukan satu-satunya penentu masa depan murid. Asesmen tersebut justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan capaian belajar sekaligus mengenali potensi diri yang masih perlu dikembangkan.

“Jangan pernah merasa bahwa masa depan kalian hanya ditentukan oleh angka hasil ujian. Setiap anak memiliki kecerdasan, kelebihan, dan potensi yang berbeda. Yang terpenting adalah berusaha sungguh-sungguh, mengerjakan dengan jujur, dan memberikan kemampuan terbaik,” ujar Khofifah.

Ia juga meminta orang tua memberikan dukungan tanpa membebani anak dengan tuntutan nilai berlebihan. Sementara itu, guru dan sekolah diharapkan memastikan kesiapan peserta, mulai dari pemahaman tata tertib hingga kondisi mental sebelum mengikuti tes.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jatim per 16 Oktober 2026, jumlah murid yang telah terdaftar mencapai 438.126 orang atau 94,54 persen dari total 463.397 calon peserta. Dari 4.863 satuan pendidikan yang terdata, sebanyak 4.546 sekolah telah berstatus terdaftar final.

Pelaksanaan TKA dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026 secara bertahap. Sebanyak 3.518 satuan pendidikan menggunakan moda daring penuh, sedangkan 1.028 lainnya menerapkan moda semi daring, menyesuaikan kondisi jaringan internet dan infrastruktur di wilayah masing-masing.

Khofifah meminta Dinas Pendidikan Jatim, cabang dinas, dan kepala sekolah memastikan seluruh kebutuhan teknis maupun administratif siap sebelum pelaksanaan. Kesiapan komputer, jaringan internet, pasokan listrik, serta petugas pengawas dan teknisi menjadi perhatian utama.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan TKA terus dimatangkan, mulai dari pendataan peserta, kesiapan sarana pendukung, hingga petugas penyelenggara. Koordinasi juga dilakukan untuk mengantisipasi gangguan teknis yang berpotensi menghambat jalannya asesmen.

“Sesuai arahan Ibu Gubernur Khofifah, kami ingin memastikan pelaksanaan TKA berjalan lancar, tertib, dan memberikan rasa nyaman kepada seluruh murid. Sekolah harus memastikan anak-anak bisa berkonsentrasi mengerjakan soal tanpa dibebani kekhawatiran terhadap kendala teknis,” ujar Aries.

Untuk mengantisipasi gangguan kelistrikan, sekolah penyelenggara mandiri diminta menyiagakan perangkat uninterruptible power supply (UPS) untuk server maupun komputer proktor, serta generator set (genset) apabila memungkinkan. Proktor dan teknisi juga harus memahami prosedur penanganan gangguan serta memastikan jalur komunikasi dengan helpdesk cabang dinas maupun provinsi dapat diakses.

Dinas Pendidikan Jatim juga telah berkoordinasi melalui surat kepada PLN dan Telkom wilayah Jawa Timur untuk meminta penundaan pemeliharaan jaringan yang berpotensi mengganggu pasokan listrik maupun konektivitas selama jam pelaksanaan TKA. Koordinasi ini diharapkan memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan layanan.

Apabila muncul kendala di lapangan, petugas diminta segera mencatat dan melaporkannya melalui helpdesk agar penanganan dapat dilakukan sesuai prosedur.

“Apabila terjadi gangguan listrik atau internet, murid tidak perlu panik. Petugas sekolah telah disiapkan untuk melakukan penanganan. Kami juga memastikan setiap kendala ditindaklanjuti sesuai prosedur agar hak murid untuk mengikuti TKA tetap terlindungi,” tegas Aries.

Lebih lanjut, Aries menjelaskan bahwa hasil TKA tidak hanya memberikan gambaran capaian akademik bagi murid, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara pendidikan. Informasi tersebut diharapkan membantu pemetaan kebutuhan pembelajaran, penyusunan pelatihan guru yang lebih tepat sasaran, serta penguatan kompetensi murid sesuai kebutuhan setiap satuan pendidikan.

Evaluasi capaian akademik juga diharapkan mendukung upaya pemerataan mutu pendidikan, baik di wilayah perkotaan maupun daerah pelosok. Dengan demikian, perbaikan proses pembelajaran dapat dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

“TKA bukan semata-mata tentang mendapatkan nilai tinggi. Bagi kami, hasilnya juga menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agar semakin banyak anak Jawa Timur memiliki kompetensi yang unggul dan mampu bersaing di masa depan,” pungkasnya.(pps)

Editor : Redaksi