Tercium Bau Amoniak, Unit Tipiter Polrestabes Pantau Limbah SIER


Waduk SIER yang diduga tempat penampungan limbah pabrik-barik di kawasan Rungkut Industri, Surabaya. (Foto HMP/Zulfikar)

MERAH PUTIH | Surabaya – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya yang belum mengungkap hasil uji laboratorium atas matinya ribuan ikan di Waduk SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) Surabaya, memicu berbagai spekulasi. Ada yang menyebut waduk yang luas itu untuk penampungan limbah pabrik-pabrik yang dikelola PT SIER. Benarkah?

Ribuan ikan mati di Waduk PT SIER terus menjadi sorotan masyarakat Surabaya. Menurut warga yang tinggal di sekitar Rungkut Industri, waduk SIER sudah ada sejak lama. Ia mengungkapkan waduk itu untuk menampung limbah pabrik agar tidak meluber ke jalanan atau bocor ke kampung-kampung di sekitar SIER.

“Mungkin saja itu limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya), tapi saya tidak tahu. Kalau tidak beracun bagaimana bisa ribuan ikan mati dalam waktu cepat,” ungkap warga yang meminta namanya tak dipublikasikan saat ditemui Selasa (9/6) kemarin.

Koordinator Komunitas Nol Sampah Wawan Some juga angkat bicara. Menurut Wawan, untuk mengetahui penyebab pasti matinya ribuan ikan Waduk SIER memang dibutuhkan uji laboratorium tentang air dan ikan yang mati.

"Untuk tahu penyebabnya, mesti ada pemeriksaan kualitas air dan ikan. Seharusnya DLH kota Surabaya melakukan hal itu dan segera mengungkapnya," kata Wawan Some kepada Harian Merah Putih, Selasa (9/6/2020).

Dijelaskan Wawan, penyebab matinya ribuan ikan itu memang bisa saja terjadi karena kekurangan oksigen. Bisa juga karena ada zat pencemar yang masuk ke dalam Waduk PT SIER. Apalagi di sekitar waduk banyak berdiri pabrik di sana. "Penyebabnya bisa karena kekurangan oksigen atau karena ada zat pencemar (limbah, red) yang masuk ke waduk tersebut. Karena penyebab kekurangan oksigen bisa karena ada bahan pencemar yang dibuang melebihi ambang batas," terang Wawan.

Namun, Wawan meragukan jika penyebab matinya ribuan ikan itu hanya karena faktor kekurangan oksigen seperti yang dilontarkan pihak PT SIER. "Kalau karena kekurangan oksigen mungkin tidak sebanyak itu ikan yang mati. Maksudnya kekurangan oksigen karena proses alam. Karena sekali lagi saya beranggapan bahwa kasus kekurangan oksigen bisa juga terjadi karena ada zat pencemar yang dibuang atau masuk ke kawasan tersebut. Bisa disengaja atau tidak disengaja karena bocor atau bisa juga karena IPAL macet atau rusak," beber aktivis lingkungan hidup ini.

Wawan menambahkan, jika penyebab ribuan ikan mati itu karena faktor alam bisa juga terjadi karena upweling. Namun kondisi ini hanya terjadi pada waduk atau kolom yang sangat dalam. "Bisa juga karena alam, karena terjadi upweling, dimana lumpur di dasar waduk akan naik ke permukaan karena ada perbedaan tekanan air dan udara. Lumpur ini biasanya mengandung amoniak yang terjadi karena proses alam dan akibatnya oksigen dalam air kurang. Namun upweling ini biasanya terjadi pada waduk yang dalam," urainya.

Bau Amoniak

Untuk mengetahui penyebab pastinya, Wawan mengatakan jika harus dilakukan uji laboratorium sample air dan ikan yang seharusnya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Surabaya. "Penyebab pastinya, hanya bisa diketahui dari hasil lab kualitas air dan pemeriksaan lab ikan. Pemeriksaan Ikan yang mati bisa diketahui memang karena kekurangan oksigen atau karena keracunan zat pencemar," tegasnya.

Wawan mengaku jika melintas di lokasi tersebut sering mencium aroma tidak sedap dan juga bau amoniak. "Sampeyan bisa nyoba main ke sekitar waduk itu pada jam 17.00-19.00 Wib, pasti akan mencium aroma tidak sedap, mata bisa perih karena bau amoniak. Karena saya lewat beberapa kali merasakan itu," ujar Wawan. “Cuma (pencemaran limbah, red) itu mesti dibuktikan dulu,” imbuh dia.

Wawan juga berharap agar pihak kepolisian segera turun melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. Karena kasus pencemaran lingkungan ini tidak harus menunggu laporan warga untuk kepolisian turun langsung menyelidiki penyebab pasti matinya ribuan ikan di waduk PT SIER. "Ya seharusnya polisi bisa langsung turun, tanpa ada yang lapor," tukas Wawan.

Tipiter-DLH Koordinasi

Dikonfirmasi terpisah, Kanit Harda Satreskrim Polreetabes Surabaya Iptu Handa Wicaksana mengatakan ia sudah melakukan cek lolasi di lapangan. Ia juga memonitor jika tak hanya ikan mujair dan nila yang mati. "Memang ada ikan lain seperti ikan sapu-sapu banyak yang mati juga. Kami monitor itu," kata Handa, Selasa (9/6/2020).

Untuk itu, lanjut Handa, pihaknya sudah berkoordinasi dengan DLH untuk memastikan penyebab ikan-ikan tersebut mati. "Kita sudah koordinasi dengan DLH dan melakukan penyelidikan untuk memastikan ada pelanggaran atau tidak," ucap dia.

Ditanya jika ada pelanggaran undang-undang lingkungan hidup, siapa yang harus bertanggung jawab,  Handa mengatakan jika memunggu proses penyelidikan dahulu. "Ya nanti, dilihat proses lidik dulu mas," tutup Handa Singkat.

Sementara itu. Tuaji Sekeetaris PT SIER saat dikonfirmasi hasil laboratorium air waduk tersebut melalui pesan Whastapp, masih belum memberikan jawabannya. Meski dihubungi sambungan telepon, harian Merah Putih masih belum mendapat jawaban pasti mengenai kepastian penyebab kematian ribuan ikan tersebut.

Sebelumnya, Tuaji mengatakan tidak benar jika ikan-ikan tersebut mati karena limbah melainkan kekurangan oksigen. Menurut Tuaji, hal ini biasanya terjadi setiap 5 tahun sekali karena anomali cuaca yaitu hujan deras dengan durasi yang lama dan bersamaan kondisi air laut pasang sehingga lumpur diwaduk tercampur air/keruh sehingga sebagian ikan mati. "Sebagian besar masih hidup pak, di waduk kami luasnya 11 hektare dan jumlah ikannya banyak sekali," kata Tuaji.

Tuaji memastikan penyebab ikan-ikan itu mati bukan karena limbah. Hasil analisa air waduk oleh petugas lab air yang dilakukan PT SIER, airnya memang air hujan. "Kami memiliki tim yang mampu menganalisa kondisi air bahwa air tersebut derajat polutannya seberapa jauh. Jadi sudah dipastikan bukan limbah," terang dia. (her/jim)