Kabid Cipta Karya PUPR Maluku Dicopot

Cafe Warung Katong. HMP/BOY
Cafe Warung Katong. HMP/BOY

MERAHPUTIH| MALUKU-Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Provinsi Maluku Andreanita Sulistiorini akhirnya dicopot dari jabatan kepala bidang cipta karya yang baru beberapa bulan diembannya.

Pelantikan juga berlang­sung tertutup oleh Sekda Maluku Kasrul Selang di ruang kerja, Rabu (21/4).

Sumber harianmerahputih.id yang tidak ingin namanya ditulis di Kantor Gubernur Maluku menyebutkan, pencopotan Andrea­nita berhubungan erat dengan pem­bangunan jalan lingkar Kelurahan Tihu, Kecamatan Teluk Am­bon,

Jenis pe­ngadaan pekerjaan kons­truksi oleh Dinas Peker­jaan Umum Provinsi Ma­luku dengan ang­garan sebesar Rp 5 miliar yang dikerjakan oleh kontraktor bernama Kipe,  merupakan  orang dekat Gubernur Maluku Murad Ismail.

Proyek yang baru dikerjakan de­ngan menggunakan anggaran pin­jaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) tersebut telah mencapai 80 persen , na­mun kontraktor ini mendesak agar Andreanita selaku PPK proyek SMI untuk mencairkan 100 persen anggaran pekerjaan tersebut.


Sumber tersebut  menambahkan, diduga juga akibat dari pengerjaan proyek penataan dan rehabilitasi kawasan Islamic Center yang menjadi polemik di masyarakat Maluku, karena kesalahan nomenklatur yang mana anggaran hampir Rp 3 Miliar tersebut yang bersumber dari Dana APBD Maluku, digelontorkan untuk membangun Cafe PKK, berbekal nomen­kla­tur yang sengaja dibuat tak jelas.

Pemprov Maluku sedari awal memang sengaja menganggar­kan dana itu untuk pengerjaan pro­yek yang berlabel Penataan Kawasan dan Rehabilitasi Ge­dung Islamic Center.
Nama proyeknya memang dibikin sedemikian rupa, agar samar dan tak terlacak.

Menurut Mantan Kepala Bidang Cipta Karya, Andreanita, pem­bangunan café tersebut dila­kukan sesuai dengan peren­canaan.

"Anggaran proyek tersebut berasal dari APBD murni tahun 2020 sebesar Rp 2,9 miliar. Ang­garan itu kemudian diper­untukan untuk melaku­kan pe­nataan dan rehabilitas Gedung Islamic Center yang terletak di kawasan Waiha­ong, Kecama­tan Nusaniwe, Kota Ambon," jelasnya.

Dia menambahkan, dari anggaran 2,9 miliar itu, Rp 1 miliar lebih digunakan untuk pembangunan café, sedangkan arsitektur se­besar Rp 700 juta, sisanya untuk item-item pekerjaan lainnya.


Ia menyebutkan, pekerjaan penataan dan rehabilitasi gedung Islamic Center yang dilakukan oleh PT Erloom Anugerah Jaya sangat banyak. Untuk pembangunan café sendiri sebesar Rp 1 miliar lebih, artistektur sekitar Rp 700 juta, se­dangkan nilai nominal pada item-item pekerjaan lainnya, dirinya tidak sebutkan dengan alasan sangat­lah banyak.

"Nomen­klatur proyek tersebut adalah Pe­nataan Kawasan dan Rehabilitasi Gedung Islamic Center sementara ada pembangun café, mengapa tidak dirubah saja nomenklatur tersebut," kata Andreanita.

“Tidak ada, kalau kita tidak fokus untuk pembangunan café saja. Itu tidak ada. Dan dana ini kita juga terbatas, dan jika direhab secara keseluruhan tentu butuh dana besar,” sebutnya.(boy)

 

Editor : Eko Yudiono