MERAHPUTIH I SURABAYA - Dalam upaya melestarikan budaya, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-79 dan Dies Natalies Untag Surabaya Ke-66. Acara yang berlangsung di Lapangan Timur Untag Surabaya pada Minggu (1/9) malam menampilkan Dalang Ki Genit Santoso, Sinden Nimas, serta Pelawak Komet CS. Dengan tema ‘Parikesit Jumeneng Ratu’, pagelaran tersebut mengisahkan perjuangan dan tanggung jawab besar seorang pemimpin.
Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar
Acara ini berhasil menarik perhatian dan mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., dalam sambutannya menekankan pentingnya melestarikan budaya Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.
"Sebagai Kampus Nasionalis, Untag Surabaya memiliki misi untuk melestarikan budaya Indonesia, salah satunya melalui Pagelaran Wayang Kulit ini," ungkap Prof. Nugroho.
Ia juga menekankan bahwa tema pagelaran tersebut relevan dengan tantangan kepemimpinan masa kini.
"Pagelaran ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa menjadi pemimpin yang sukses memerlukan proses dan perjuangan yang matang, seperti yang digambarkan dalam tokoh wayang Parikesit," lanjutnya. Prof. Nugroho juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk aktif dalam menjaga dan melestarikan budaya wayang kulit sebagai bentuk tanggung jawab seorang patriot dan calon pemimpin masa depan.
Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, Bapak J. Subekti, S.H., M.M., turut menyatakan rasa bangganya atas konsistensi Untag Surabaya dalam menjaga nilai-nilai budaya.
"Salah satu yang mulai hilang di Indonesia saat ini adalah konsistensi dalam melestarikan budaya. Namun, kita patut berbangga karena Untag Surabaya sebagai kampus nasionalis terus konsisten setiap tahun dalam melestarikan budaya melalui pagelaran wayang kulit ini. Selain itu, Untag Surabaya juga tetap berkomitmen menyediakan fasilitas pendidikan yang efisien," ungkapnya.
Respon positif juga datang dari masyarakat yang hadir, termasuk Dani Kurniawan, seorang warga Sukolilo, Surabaya. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan acara semacam ini.
Baca juga: Surabaya Kokohkan Komitmen Jaga Anak dari Ancaman Digital
"Sebagai penikmat wayang kulit sejak kecil, saya sangat senang dengan digelarnya kegiatan ini, terutama di Kota Surabaya. Kami mendukung agar kegiatan ini terus diselenggarakan dan dilestarikan hingga generasi mendatang," ujar Dani.
Dalam rangkaian acara tersebut, Muhammad Santoso, warga Ngagel, Surabaya, berhasil membawa pulang hadiah utama berupa satu unit sepeda motor.
"Saya tidak menyangka keberuntungan ini bisa saya dapatkan. Ini adalah kado untuk anak saya yang menginginkan sepeda motor. Terima kasih Untag Surabaya, jaya selalu," ungkapnya dengan penuh syukur.
Selain pagelaran wayang kulit, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan Tari Kembang Gayang dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Untag Surabaya, serta berbagai stand Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Untag Surabaya juga menyediakan kupon undian dengan hadiah utama sepeda motor dan berbagai hadiah menarik lainnya, menjadikan acara ini semakin semarak dan dinantikan oleh masyarakat.
Pagelaran Wayang Kulit yang digelar Untag Surabaya ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi yang mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan tanggung jawab kepada masyarakat, terutama generasi muda, dalam rangka memperingati HUT Ke-79 Republik Indonesia dan Dies Natalies Untag Surabaya Ke-66. (red)
Editor : prass prasetyo