MERAHPUTIH I SURABAYA - Peningkatan daya saing dan penguatan posisi di pasar perbankan nasional menjadi sorotan utama dalam strategi pengembangan Bank Jatim. Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, menekankan pentingnya pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Bank Jatim yang digelar Rabu (11/12), Adhy mengungkapkan optimismenya terhadap langkah strategis ini.
Menurut Adhy, sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) seperti Bank Lampung, Bank NTB Syariah, dan Bank Banten telah menunjukkan minat untuk bergabung dalam KUB Bank Jatim. Bank NTT dan Bank Sultra disebutkan akan segera menyusul, memperluas sinergi ke berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Kolaborasi ini tidak hanya memperluas jaringan dan produk perbankan, tetapi juga memperkuat pembangunan ekonomi regional, khususnya di Kawasan Timur Indonesia,” jelas Adhy.
Adhy menjelaskan bahwa KUB memungkinkan bank-bank anggota untuk saling mendukung dari sisi permodalan, layanan, hingga pengembangan jaringan usaha. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi efektif antara BPD agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak, termasuk masyarakat luas.
“Tujuannya bukan hanya untuk bank yang terlibat, tetapi juga untuk mendukung perekonomian daerah yang kita layani,” tambahnya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Selain fokus pada KUB, Bank Jatim juga mendapatkan perhatian dalam pengelolaan Unit Usaha Syariah (UUS). Adhy menyebutkan bahwa UUS memberikan kontribusi signifikan bagi sektor perbankan syariah di Jawa Timur. Namun, regulasi baru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memerlukan penyesuaian struktur pengurus Bank Jatim agar pengelolaan sektor konvensional dan syariah dapat berjalan lebih optimal.
"Adanya direktur yang khusus menangani UUS diharapkan mampu memberikan fokus lebih besar pada pengembangan layanan syariah yang potensial untuk memajukan ekonomi berbasis syariah di Jawa Timur," ujarnya.
Dukungan semua pihak, termasuk pemegang saham, pengurus, dan pemangku kepentingan lainnya, dianggap krusial oleh Adhy dalam memastikan keberhasilan langkah strategis Bank Jatim.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Pertumbuhan perbankan di Jawa Timur juga mencatatkan angka yang menggembirakan. Hingga Agustus 2024, aset perbankan meningkat 6,27 persen menjadi Rp 852,9 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 6,11 persen menjadi Rp 785,2 triliun, dan Kredit yang Disalurkan (KYD) tumbuh 6,36 persen menjadi Rp 589,6 triliun.
Adhy menutup sambutannya dengan menyoroti capaian Jawa Timur dalam menjaga stabilitas ekonomi. “Inflasi Jawa Timur di bulan November 2024 tercatat sebagai yang terendah di Pulau Jawa, dengan angka year-on-year sebesar 1,41 persen dan month-to-month sebesar 0,24 persen. Ini bukti bahwa Jawa Timur berada di jalur yang benar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (red)
Editor : prass prasetyo