Teror Batu di Malam Kemenangan: Bus Persik Dihujani Serangan Usai Bungkam Arema di Kanjuruhan

harianmerahputih.id
Foto ILUSTRASI : bus yang ditumpangi tim PERSIK Kediri diserang oknum suporter dengan lemparan batu saat keluar dari Stadion Kanjuruhan Malang.

MERAHPUTIH I MALANG — Malam yang seharusnya menjadi puncak sukacita bagi Persik Kediri berubah menjadi momen menegangkan nan traumatis. Seusai mengalahkan tuan rumah Arema FC dengan skor telak 3-0 dalam lanjutan Liga 1 Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Minggu (11/5), bus yang ditumpangi tim Macan Putih justru diserang oknum suporter dengan lemparan batu.

Dalam video amatir yang beredar luas di media sosial, tampak jelas detik-detik bus Persik Kediri dihujani lemparan batu oleh sekelompok orang yang diduga berasal dari barisan pendukung Arema. Salah satu serpihan kaca pecah terlihat berhamburan dari sisi kiri bus, memecah suasana malam menjadi kepanikan dan ketakutan.

Baca juga: Persebaya Pecat Eduardo Perez, Gejolak di GBT Berbuah Keputusan Besar

Sumber internal Persik menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa menit setelah bus keluar dari kompleks Stadion Kanjuruhan. Tidak tampak adanya pengawalan dari aparat keamanan di bagian depan rombongan bus, yang seharusnya menjadi standar pengamanan usai laga sarat tensi seperti Derbi Jatim tersebut.

“Kami masih melakukan pemeriksaan terhadap para pemain dan ofisial. Sejauh ini belum ada laporan cedera serius, tapi kaca depan dan samping bus pecah akibat lemparan batu,” ujar Media Officer Persik Kediri, Haryanto.

Aksi brutal ini sontak menuai kecaman luas. Ze Valente, kapten Persik Kediri, membagikan kondisi memprihatinkan bus tim melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan itu, terlihat sisi dalam bus yang porak-poranda akibat hantaman benda keras. “Kita tidak pernah belajar. Tapi lebih baik saya tidak mengatakan apa yang saya pikirkan,” tulis Valente, menyiratkan kekecewaan dan keprihatinan mendalam terhadap aksi kekerasan tersebut.

Pertandingan malam itu sejatinya menjadi momentum istimewa bagi Arema FC. Ini adalah laga perdana mereka kembali ke Stadion Kanjuruhan pasca-tragedi memilukan 1 Oktober 2022. Sayangnya, kembalinya Singo Edan ke kandang justru ternoda oleh kekalahan telak dan insiden pascalaga.

Baca juga: Persebaya Gagal Maksimalkan Keunggulan Pemain, Arema Pulang dengan Satu Poin dari GBT

Persik Kediri tampil dominan sejak awal dan berhasil mencetak tiga gol tanpa balas. Hasil tersebut mengukuhkan posisi mereka di Liga 1 dan memastikan diri lolos dari ancaman degradasi. Namun, alih-alih kembali ke Kediri dengan penuh suka cita, skuat Macan Putih harus menghadapi teror jalanan yang mengancam keselamatan mereka.

Pihak Liga Indonesia Baru (LIB) maupun PSSI hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun, tekanan dari publik mulai menguat, menuntut investigasi menyeluruh dan sanksi tegas bagi pelaku.

“Apapun hasil pertandingan, kekerasan tidak bisa ditoleransi. Sepak bola adalah olahraga pemersatu, bukan ajang balas dendam,” kata pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali, kepada Harian Merah Putih.

Baca juga: Persebaya Siaga Penuh Hadapi Derbi Panas Jatim di GBT

Tragedi lemparan batu terhadap tim Persik kembali mengingatkan publik akan rapuhnya sistem pengamanan sepak bola Indonesia. Dalam laga yang penuh rivalitas, terutama yang melibatkan klub-klub besar di Jawa Timur, pengawalan seharusnya dilakukan dengan prosedur ketat untuk mencegah insiden semacam ini.

"Apapun yang sifatnya anarkisme dan vandalisme tidak dibenarkan. Baik secara hukum positif (pidana) maupun hukum football family. Harus diberikan sanksi berat agar tak berulang ke depannya," tegas Akmal.

Kekerasan dalam dunia sepak bola bukan hanya mencederai fisik, tetapi juga menorehkan luka psikologis mendalam bagi pemain, ofisial, hingga suporter yang mencintai olahraga ini. Momentum ini harus dijadikan refleksi bersama oleh semua pihak: klub, federasi, suporter, dan aparat keamanan.

"Jika sepak bola Indonesia ingin terus maju, maka keamanan dan kenyamanan seluruh elemen pertandingan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar," ucap Akmal. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru