Lebih dari Sekadar Memberi Instruksi: KONI Jatim Dorong Pelatih Jadi Pendamping dan Motivator Atlet

harianmerahputih.id
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, M. Nabil,

MERAHPUTIH I SURABAYA - Tidak cukup hanya menyusun program latihan yang sistematis dan menargetkan medali. Menjadi pelatih di lingkungan Pusat Latihan Daerah (Puslatda) Jawa Timur kini menuntut dimensi lebih dalam: menjadi sosok pendamping, pembina, sekaligus motivator yang mampu menjaga suasana tim tetap harmonis di tengah tekanan persiapan menuju ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2025.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, M. Nabil, menyampaikan hal ini dalam pembukaan kegiatan screening calon pelatih Puslatda 100 VI dan pelatih cabang olahraga bela diri untuk PON 2025. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 31 Juli 2025, dan melibatkan 293 calon pelatih dari berbagai cabang olahraga.

Baca juga: Solidaritas Jatim untuk Aceh: Khofifah Tinjau Pengungsian Pidie Jaya

"Pelatih bukan hanya orang yang memberi perintah atau menyusun skema latihan. Ia juga guru, tempat pulang, sekaligus penentu arah suasana dalam tim. Jangan sampai justru masalah muncul dari pelatih. Penyelesai konflik internal, itu tugas pelatih. Mereka harus bisa menciptakan keguyuban di antara atlet," ujar Nabil, di hadapan peserta dan asesor di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (28/7/2025).

Dalam seleksi ini, keahlian teknis bukan satu-satunya kriteria. Menurut Nabil, kepribadian, integritas, dan kemampuan interpersonal menjadi aspek penting yang kini mendapatkan perhatian serius dari KONI Jawa Timur. Ia menyebut pelatih ideal sebagai figur yang memiliki performance plus—yakni kombinasi antara kompetensi teknis, moralitas, serta kemampuan menciptakan lingkungan yang suportif bagi tumbuh kembang atlet.

"Namanya pelatih harus punya performance plus. Plusnya itu ya skill-nya, kompetensinya, moralnya, dan sikapnya. Harus bisa menjadi orang tua yang mengayomi, bukan malah menjadi sumber ketegangan dalam tim," tegasnya.

Baca juga: DMI Jatim Gelar Masjid Award 2025: Dorong Masjid Kembangkan Fungsi Sosial hingga Pendidikan

Proses screening kali ini dilakukan oleh 13 asesor dari Tim Pendidikan dan Pelatihan Olahraga (Diktar) Unesa. Selain mewawancarai peserta dan menilai kemampuan interpersonal, mereka juga mengevaluasi portofolio program latihan yang telah disusun para calon pelatih. Aspek lain yang tak kalah penting ialah pengalaman mereka dalam menangani atlet serta jejak prestasi yang telah dicapai—baik di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.

Bagi Jawa Timur, keberhasilan dalam PON bukan sekadar deretan medali, melainkan buah dari kerja tim yang kokoh dan komitmen terhadap pembinaan jangka panjang. Karena itu, kualitas pelatih menjadi pondasi utama. Puslatda bukan hanya tempat latihan fisik, tetapi juga ruang tumbuh bagi mentalitas dan karakter juara.

"Kadang orang hanya melihat hasil akhir di podium. Tapi proses di belakang layar, terutama peran pelatih, itu yang sangat menentukan. Kalau suasana tidak nyaman, atlet tidak akan maksimal. Sebaliknya, jika merasa didukung, mereka bisa melampaui batasnya," ujar salah satu asesor, Dr. Sari Kusuma dari Unesa.

Baca juga: Gubernur Khofifah Pimpin Sholat Ghaib untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Dengan pendekatan seleksi yang lebih menyeluruh ini, KONI Jawa Timur berharap pelatih yang lolos nanti bukan hanya menjadi instruktur teknis, tetapi juga penggerak semangat juang dan penopang mental para atlet. Terlebih, Jawa Timur menargetkan posisi tiga besar di PON XXI yang akan digelar di Aceh dan Sumatera Utara pada 2025.

"Jawa Timur ini punya tradisi juara, tapi kita juga ingin tradisi pembinaan yang sehat dan berkelanjutan. Itu hanya bisa dicapai jika pelatih dan atlet tumbuh bersama dalam suasana saling percaya dan menghargai," pungkas Nabil.(red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru