MERAHPUTIH I BATU — Di kaki Gunung Welirang, di antara kabut dan hawa sejuk Pemandian Air Panas Alam Cangar, puluhan jurnalis dari Pokja Grahadi dan Pokja Indrapura berkumpul bukan untuk meliput, melainkan belajar. Mereka duduk bersila di tengah alam, mengikuti pelatihan bertajuk Jurnalis Tangguh Bencana, sebuah inisiatif Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur untuk memperkuat peran media dalam mitigasi kebencanaan.
“Pers bukan sekadar penyampai kabar. Ia adalah jembatan pengetahuan dan kepedulian,” ujar Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Jatim, membuka kegiatan, Selasa (29/7/2025).
Baca juga: Tarif Murah, Fasilitas Nyaman: Trans Jatim Gajayana Jadi Idola Baru Malang Raya
Dalam konteks Indonesia yang rawan bencana, peran jurnalis tak bisa sekadar reaktif. Diperlukan pengetahuan dan empati agar setiap kata yang ditulis tidak sekadar memberitakan, melainkan memberi arah, menenangkan, dan membangun kesiapsiagaan publik.
“Melalui edukasi ini, kami berharap para jurnalis mampu menyampaikan informasi kebencanaan dengan tepat, santun, dan mencerahkan,” lanjut Gatot. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan media dalam menghadirkan informasi yang akurat dan solutif.
Forum ini menghadirkan pakar kebencanaan Prof. Eko Teguh Paripurno. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa komunikasi bencana bukan hanya soal data dan fakta, tetapi juga soal membangun ketangguhan kolektif masyarakat, baik sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi.
“Jurnalis adalah bagian dari sistem peringatan dini. Mereka bisa memicu kesiapsiagaan atau justru kepanikan. Maka, pemahaman tentang risiko sangat penting,” tegasnya.
Selain memahami teknis kebencanaan, peserta juga diajak mendalami dimensi kemanusiaan dalam peliputan. Jurnalis/forografer Bahana Patria Gupta mengingatkan pentingnya empati di tengah tragedi.
Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami
“Kesalahan sikap satu jurnalis bisa mencederai kepercayaan publik terhadap media secara keseluruhan,” ungkapnya. Ia menyebut pentingnya membangun relasi yang menghargai perasaan korban dan komunitas terdampak.
Pelatihan ini juga memberi panggung bagi komunitas lokal. Komunitas Banyu Bening, misalnya, membagikan praktik pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan darurat saat bencana. Inisiatif ini lahir dari pengalaman langsung menghadapi keterbatasan air bersih saat bencana melanda.
Ketua Pokja Wartawan Grahadi, Fatimatuz Zahroh, menyebut pelatihan ini sebagai ruang refleksi yang sangat penting.
Baca juga: Kendal Kian Berlari: Gelaran Fun Run Picu Ekonomi, Gairahkan Wisata, dan Tanamkan Budaya Sehat
“Sudah tiga tahun kami konsisten menggelar pelatihan semacam ini. Dan setiap tahun, materinya semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim, peran jurnalis menjadi semakin strategis. Mereka tak hanya merekam peristiwa, tetapi juga membentuk persepsi dan menentukan bagaimana publik bersikap.
Melalui pelatihan seperti ini, BPBD Jatim berharap hadirnya jurnalisme yang tak hanya tanggap, tetapi juga tangguh—mengabarkan, mengedukasi, dan membangun daya tahan masyarakat. (dpr)
Editor : Redaksi