Bunda Rini Ajak Orang Tua Jadi “Teman Ngobrol” Anak: Jangan Kalah Cerdik dari Gawai

harianmerahputih.id
pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Anak dan Orang Tua: Peluk Anak, Rangkai Harapan,” yang digelar dalam rangka Hari Anak Nasional ke-41 di Auditorium SMA Khadijah, Senin (4/8/2025)

MERAHPUTIH I SURABAYA — Tidak semua anak punya keberanian untuk sekadar ngobrol dengan orang tuanya. Di tengah perayaan Hari Anak Nasional ke-41, fakta ini terungkap di tengah ruangan Auditorium SMA Khadijah, Senin (4/8/2025), ketika beberapa anak memberanikan diri naik ke panggung dan menceritakan hubungan mereka dengan keluarga.

“Sederhana, dia hanya ingin berbicara sama ayahnya. Ternyata dia takut,” kata Rini Indriyani, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, atau yang akrab disapa Bunda Rini, dengan nada haru namun tegas.

Baca juga: Surabaya Wajibkan Parkir Digital, Tolak Nontunai Kena Denda Mulai 2026

Acara bertajuk “Penguatan Anak dan Orang Tua: Peluk Anak, Rangkai Harapan” itu menjadi ruang refleksi yang dalam. Di balik sorotan lampu dan sambutan hangat, Rini tak hanya menyampaikan ajakan, tapi juga menggelar cermin: sudahkah para orang tua benar-benar hadir bagi anak mereka?

Menurut Bunda Rini, banyak orang tua terjebak dalam pola lama. Zaman berganti, tetapi pendekatan lama terus diulang dan gagal menjawab kebutuhan anak-anak masa kini.

“Sekarang sudah bukan zamannya orang tua kaku dan selalu benar. Kalau ingin dekat dengan anak, ya harus belajar juga. Jangan gengsi untuk ngalah,” katanya. “Semua masalah itu kuncinya komunikasi.”

Bukan sekadar komunikasi satu arah, melainkan komunikasi yang membuka ruang aman bagi anak untuk bercerita, mengeluh, atau bahkan sekadar berbagi hal kecil.

Bunda Rini juga menyoroti situasi yang semakin jamak: anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua, karena kesibukan kerja, perceraian, atau alasan lainnya.

“Kalau sudah seperti ini, pendekatannya memang harus pelan-pelan. Mungkin sudah ada luka di hati anak. Kita harus bantu dengan pendampingan psikologis,” ujarnya. Pemerintah Kota Surabaya, lanjut Rini, telah menyediakan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di tingkat RW untuk menjembatani kebutuhan ini.

“Kita sudah siapkan di dekat rumah mereka. Tidak harus ke Siola. Tapi kalau kasusnya kompleks, baru kita arahkan ke psikolog,” tambahnya.

Baca juga: Dishub Surabaya Tertibkan Jukir Liar dan Parkir Sembarangan di Pusat Kota

Tantangan lain yang tak kalah pelik: gawai dan dunia maya. Bunda Rini menyadari betul bahwa banyak anak—bahkan usia sekolah dasar—sudah akrab dengan konten yang seharusnya belum mereka akses.

“Anak-anak sekarang bisa bikin akun kedua tanpa sepengetahuan orang tuanya. Makanya, orang tua harus lebih cerdas dari anak-anaknya. Jangan kalah lincah,” tegasnya.

Tapi lagi-lagi, solusinya kembali pada komunikasi. Rini menyarankan orang tua menjadikan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), sebagai bahan diskusi yang positif dengan anak.

“Kalau ngobrol pakai bahasa mereka, anak akan tertarik. Dari situ kita arahkan,” katanya.

Baca juga: Surabaya Tunda Tanggul Laut, Pemkot Fokus Pompa dan Bozem Tekan Rob

Tak semua anak nyaman berbicara dengan orang tua. Di sinilah peran guru Bimbingan Konseling dan peer counsellor menjadi vital. Menurut Rini, anak-anak sering merasa lebih aman berbagi kepada teman yang seumuran atau sosok dewasa yang tidak menghakimi.

“Pilihan itu harus terbuka. Yang penting anak tidak memendam,” katanya.

Pesan yang dibawa Bunda Rini dalam acara itu sederhana namun kuat: jangan biarkan anak tumbuh tanpa pendengar. Orang tua bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga sahabat setia yang mampu menciptakan ruang aman.

“Jadi mama yang asyik, jadi papa yang asyik. Karena nanti, yang akan mendoakan kita adalah mereka, anak-anak yang saleh dan salihah,” tutupnya. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru