MERAHPUTIH I SURABAYA - Ketika sebagian kecil kelompok masyarakat di Jawa Timur memilih turun ke jalan dengan beragam tuntutan politik, mayoritas warga justru mengambil sikap lain. Mereka tidak ingin larut dalam riuh demonstrasi. Sebaliknya, suara publik kini mengerucut pada satu semangat: “Jatim Fokus Kerja.”
Gerakan ini hadir sebagai penegasan dukungan terhadap kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Menariknya, dukungan tersebut muncul tanpa rekayasa, lahir secara organik dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satu yang paling lantang menyuarakan adalah komunitas ojek online (ojol) di Surabaya dan sekitarnya.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Bagi pengemudi ojol, stabilitas daerah dan kesempatan bekerja jauh lebih penting dibanding memenuhi agenda politik jalanan. Rochmad, koordinator salah satu komunitas ojol, menilai sebagian besar aspirasi yang diusung dalam aksi demo tidak realistis.
“Tuntutan seperti penurunan pajak misalnya, itu jelas kewenangan negara. Tidak bisa semata-mata diubah hanya karena desakan massa. Kalau dipaksakan, justru akan merusak sistem,” tegasnya, Minggu (24/8).
Menurut Rochmad, masyarakat kecil sudah terlalu sering menjadi penonton dari panggung demo. “Ujung-ujungnya hanya jadi arena segelintir orang mencari panggung. Kami lebih memilih fokus bekerja, cari rezeki halal. Itu yang paling nyata manfaatnya,” imbuhnya.
Dukungan masyarakat terhadap Khofifah bukan tanpa dasar. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah capaian dinilai memberi dampak langsung bagi warga. Mulai dari penguatan ekonomi daerah, percepatan pembangunan infrastruktur, hingga penguatan kolaborasi dengan pemerintah pusat.
Fahrudin, tokoh masyarakat yang ikut dalam deklarasi “Jatim Fokus Kerja”, menyebut bahwa gerakan ini adalah bukti kedewasaan publik. “Kita tidak mau terjebak dalam konflik politik yang tak ada ujungnya. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah stabilitas. Ekonomi harus jalan, pembangunan harus lanjut. Itu yang lebih prioritas,” ujarnya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Nada yang sama disampaikan oleh Rohmatin, salah satu pengemudi ojol perempuan. Ia mengaku gerah dengan isu-isu demonstrasi yang dianggapnya tidak berpijak pada kebutuhan nyata rakyat kecil.
“Demo Ora Iso Gawe Mangan" (Demo gak ngasih makan). Kalau soal kebijakan, semua ada aturan mainnya. Gubernur tidak bisa semaunya. Jadi jangan dipaksa hanya untuk kepentingan pribadi kelompok tertentu,” tuturnya dalam logat Jawa Timuran.
Rohmatin menegaskan bahwa dirinya dan rekan-rekannya tetap memilih jalan kerja keras. “Kami lebih baik narik order, bawa pulang rezeki halal buat keluarga. Itu jauh lebih bermanfaat daripada ikut demo,” katanya lugas.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Gerakan “Jatim Fokus Kerja” kini berkembang menjadi simbol sikap warga yang menolak kegaduhan politik. Mereka ingin menegaskan bahwa Jawa Timur harus tetap aman, tenteram, dan kondusif agar pembangunan tidak terhambat.
“Selama kepemimpinan Khofifah berjalan sesuai aturan, kami akan terus mendukung. Yang penting daerah ini stabil, rakyat bisa bekerja dengan tenang,” pungkas Rochmad.
Gerakan ini sekaligus menjadi penanda bahwa mayoritas masyarakat Jawa Timur lebih memilih produktivitas daripada provokasi. (dpr)
Editor : Redaksi