MERAHPUTIH I SURABAYA – Ada yang berubah dari rencana doa bersama untuk almarhum Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal dalam demonstrasi di Jakarta pada Kamis (28/8). Semula dijadwalkan Minggu malam (31/8) pukul 20.00 WIB, acara itu kini digeser menjadi Minggu pagi pukul 05.00 WIB di Taman Apsari Surabaya, depan Gedung Grahadi.
Perubahan waktu tersebut, menurut penyelenggara dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur, dilakukan demi menjaga kondusivitas kota. Meski demikian, esensi kegiatan tak berubah: mendoakan Affan, menguatkan keluarga yang ditinggalkan, sekaligus merawat solidaritas warga.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Ini bukan agenda politik. Ini murni doa. Kita ingin semua bisa hadir dalam suasana hening, di pagi hari yang bening, untuk mengirimkan doa terbaik bagi almarhum,” ujar Koordinator Wilayah MAKI Jatim, Heru Satriyo, Sabtu (30/8).
Kepergian Affan, pria sederhana yang sehari-hari mengais rezeki dengan menarik ojek online, meninggalkan luka mendalam. Ia tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat kericuhan demonstrasi pecah. Nama Affan pun menjadi simbol duka sekaligus peringatan bahwa nyawa rakyat kecil tak seharusnya melayang sia-sia.
Heru Satriyo mengaku masih berat hati menyampaikan belasungkawa. Dengan nada lirih ia berkata, “Saya sangat sedih dan prihatin. Setiap kali mengingat peristiwa ini, dada terasa sesak. Kami hanya bisa berdoa agar Affan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.”
Taman Apsari dipilih bukan tanpa alasan. Ruang terbuka publik di jantung kota Surabaya itu kerap menjadi titik temu warga: dari aksi solidaritas, pertunjukan seni, hingga sekadar duduk di bawah rindangnya pepohonan. Kali ini, taman itu akan menjadi saksi hening doa lintas agama.
Dalam acara yang diberi tajuk “Morning of Pray: Alm. Affan dan Panggung Ojol Bicara”, sejumlah tokoh masyarakat dan komunitas sipil dijadwalkan hadir. Doa bersama akan dipanjatkan secara lintas iman, memperlihatkan bahwa duka tidak mengenal sekat agama maupun identitas.
“Surabaya adalah rumah besar kita. Jangan sampai luka ini memecah kita. Justru doa inilah yang akan menyatukan,” imbuh Heru.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Kematian Affan tidak hanya menjadi kehilangan personal bagi keluarga dan rekan sejawatnya, tetapi juga menjadi cermin bagi bangsa. Banyak pihak menilai, aparat harus lebih humanis dan menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama saat menghadapi demonstrasi.
MAKI Jatim berharap doa bersama itu tak sekadar menjadi ritual singkat, melainkan momentum refleksi bersama.
“Kita ingin agar tragedi ini tak terulang. Affan mungkin telah pergi, tetapi suaranya tetap hidup dalam doa dan solidaritas kita semua,” pungkas Heru. (dpr)
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Editor : Redaksi