MERAHPUTIH I SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengeluarkan peringatan siaga kepada seluruh 38 kabupaten/kota di Jatim untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi sepanjang pekan ini.
Instruksi tersebut meluas dari informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda yang sebelumnya hanya mengidentifikasi 22 daerah rawan. Namun, BPBD Jatim menilai kondisi cuaca tidak menutup kemungkinan bencana juga terjadi di wilayah lain yang tidak masuk daftar.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Kami menerima informasi dari BMKG bahwa ada 22 kabupaten/kota yang perlu waspada. Tapi melihat pola cuaca, kami memutuskan seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur harus siaga. Cuaca ekstrem bisa muncul di luar prediksi,” tegas Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya BPBD Jatim, Sriyono, di Surabaya, Kamis (11/9).
Potensi Bencana Hidrometeorologi
BMKG Juanda memperkirakan, pada periode 10–17 September 2025, sejumlah daerah di Jawa Timur berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi. Fenomena ini meliputi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Beberapa daerah yang diproyeksi terdampak di antaranya Bondowoso, Jember, Jombang, Kediri, Batu, Malang, Lumajang, Madiun, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Bojonegoro, Tuban, Banyuwangi, dan Trenggalek.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Meski daftar wilayah telah disebutkan, Sriyono menegaskan, risiko bencana bisa saja muncul di luar perkiraan. “Bencana sering kali tidak mengikuti prediksi, karena itu seluruh daerah harus siap menghadapi segala kemungkinan,” ujarnya.
Kesiapan Daerah dan Personel
Sejumlah pemerintah daerah, lanjut Sriyono, sudah menyiagakan alat berat di titik-titik rawan bencana. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi banjir maupun tanah longsor.
Di tingkat provinsi, BPBD Jatim memastikan personelnya berjaga selama 24 jam penuh. “Petugas kami standby bergiliran dan siap diterjunkan kapan saja ke lokasi bencana. Koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota juga terus diperkuat,” kata Sriyono.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Ia menambahkan, kesiapsiagaan ini tidak hanya menyangkut peralatan dan personel, tetapi juga edukasi masyarakat agar tanggap menghadapi potensi bencana. “Yang terpenting adalah masyarakat juga ikut waspada, jangan lengah dengan kondisi cuaca yang tampak biasa-biasa saja,” tandasnya.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa musim pancaroba kerap memicu dinamika cuaca yang sulit diprediksi. Jawa Timur sebagai wilayah dengan topografi beragam, mulai dari pegunungan, pesisir, hingga dataran rendah, disebut Sriyono memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.(dpr)
Editor : Redaksi