MERAHPUTIH I SURABAYA — Aroma rivalitas kembali menguar dari Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Sabtu malam, 18 Oktober 2025, pukul 19.00 WIB, arena megah di ujung barat Surabaya itu akan menjadi saksi bentrokan dua kekuatan tradisional sepak bola Indonesia, Persebaya Surabaya kontra Persija Jakarta. Sebuah laga yang bukan sekadar pertandingan, melainkan pertarungan gengsi antara dua kota besar, dua basis suporter fanatik, dan dua sejarah panjang yang kerap menyalakan bara kompetisi di tanah air.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, menyadari sepenuhnya tensi tinggi duel klasik ini. Sejak awal pekan, juru taktik asal Brasil itu menuntun anak asuhnya dalam sesi latihan intensif di Sawangan. Fokusnya kali ini jelas: memperbaiki lini belakang yang dalam tiga laga terakhir rapuh dan mudah ditembus.
Baca juga: Persebaya Gaspol ke Lampung, Uston Pastikan Skuad Tetap Bugar Meski Jadwal Melelahkan
“Kami fokus pada area organisasi bertahan. Di laga sebelumnya kami kebobolan cukup banyak, jadi pekan ini kami benar-benar memusatkan perhatian untuk memperbaiki struktur pertahanan,” ujar Mauricio dengan nada serius saat ditemui seusai latihan terakhir di Jakarta.
Rentetan hasil minor memang menghantui Macan Kemayoran. Dalam tiga pertandingan terakhir, Persija hanya mampu mencatat satu hasil imbang kontra Bali United (1-1), dan dua kekalahan saat bertandang ke PSM Makassar (0-2) serta Borneo FC (1-3). Enam gol bersarang di gawang mereka menjadi tamparan keras bagi tim yang sempat digadang sebagai kandidat juara Super League musim ini.
Namun Mauricio menegaskan bahwa statistik bukan segalanya. Ia melihat potensi besar dari cara bermain timnya, terutama dari sisi ofensif. “Jika kami bisa bertahan dengan baik dan tetap menjaga kualitas menyerang seperti saat melawan Borneo FC, peluang menang akan selalu terbuka,” tegasnya.
Pelatih berusia 49 tahun itu menyoroti catatan impresif Persija dalam laga terakhir, 24 tembakan dengan 10 di antaranya tepat sasaran, berbanding 12 dan delapan milik lawan.
“Artinya kami menciptakan banyak peluang. Tinggal bagaimana lini belakang kami lebih disiplin agar hasil akhir berpihak pada kami,” tambahnya.
Tak bisa dipungkiri, tiga laga tanpa kemenangan membuat posisi Mauricio dalam sorotan. Di dunia sepak bola, tekanan semacam itu bisa menjadi ujian berat bagi pelatih manapun. Tapi bagi eks pelatih Botafogo tersebut, tekanan adalah bagian dari permainan yang justru memacu semangat.
Baca juga: PERSIB Langsung Terbang ke Surabaya, Siapkan Diri Hadapi Madura United di Tengah Padatnya Jadwal
“Tekanan adalah bagian dari sepak bola. Direktur selalu mengingatkan saya bahwa pekerjaan ini adalah untuk keluarga, jadi kami harus bekerja keras setiap minggu. Sepak bola harus dinikmati, kalau tidak bisa menikmati tekanan, sulit untuk sukses,” ungkapnya dengan tenang.
Ia menilai bahwa motivasi terbesar timnya kini datang dari keinginan kuat untuk kembali ke jalur kemenangan, terlebih menghadapi rival sekelas Persebaya di hadapan puluhan ribu Bonek.
“Kami tahu atmosfer di Surabaya luar biasa. Tapi justru di situ tantangan sebenarnya, kami datang untuk bermain dengan kepala dingin, tapi hati panas,” ujarnya, tersenyum tipis.
Duel kontra Persebaya diyakini akan menjadi ajang pembuktian bagi barisan belakang Persija. Nama-nama seperti Ondej Kudela, Firza Andika, hingga Ryuji Utomo akan memikul tanggung jawab berat menghadang gempuran lini depan Bajol Ijo yang dikenal agresif di kandang sendiri.
Baca juga: Persebaya Pecat Eduardo Perez, Gejolak di GBT Berbuah Keputusan Besar
Di lini depan, publik menantikan ketajaman Marko Šimi yang mulai menemukan ritme permainan, ditopang oleh kreativitas Riko Simanjuntak dan Witan Sulaeman dari sisi sayap. Mauricio kemungkinan tetap mengandalkan formasi 4-2-3-1, dengan dua gelandang jangkar untuk memperkuat lapisan pertahanan.
Meski Persija datang dengan catatan kurang meyakinkan, laga di GBT sering kali menyajikan kejutan. Rivalitas panjang kedua tim membuat hasil di atas kertas kerap tak berlaku. Bagi Mauricio Souza, kemenangan di Surabaya bukan hanya tentang tiga poin — melainkan tentang membangkitkan kembali marwah Macan Kemayoran di Super League.
“Pertandingan ini penting, bukan hanya untuk tim, tapi juga untuk para pendukung kami. Kami akan bermain dengan semangat penuh. Kami datang ke Surabaya bukan untuk bertahan, tapi untuk bertarung,” tutup Mauricio, menatap tajam ke arah kamera.
Sabtu malam nanti, ketika peluit pertama dibunyikan dan sorak Bonek menggema di langit GBT, laga klasik ini akan kembali membuktikan satu hal: sepak bola Indonesia tak pernah kehilangan magisnya, terutama saat Persija dan Persebaya saling berhadapan di medan penuh emosi bernama Gelora Bung Tomo.(RED)
Editor : Redaksi