MERAHPUTIH I SURABAYA – Moda transportasi massal andalan warga Jawa Timur, Bus Trans Jatim, segera menjangkau wilayah Malang Raya. Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur memastikan koridor baru ini akan resmi beroperasi pada 20 November 2025, dengan peluncuran langsung oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Kepala Dishub Jatim, Nyono, menyampaikan hal tersebut usai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Rabu (12/11). “Insyaallah akan dilaunching oleh Ibu Gubernur pada 20 November. Semua persiapan sudah matang, dan kami telah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Mohon doa dan dukungannya,” ujar Nyono.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Sebelumnya, sempat beredar kabar adanya penolakan dari sejumlah sopir angkot di wilayah Malang. Namun, Nyono menegaskan hal itu hanyalah kesalahpahaman akibat belum rampungnya sosialisasi.
“Sebetulnya bukan penolakan. Saat itu tim kami masih fokus sosialisasi di Kota Batu. Setelah kami turun ke Kota Malang, teman-teman sopir memahami bahwa mereka tetap bisa beroperasi dan justru akan terkoneksi dengan halte-halte Trans Jatim,” jelasnya.
Menurut Nyono, bus Trans Jatim tidak akan mengganggu jalur utama angkot. “Trans Jatim tidak masuk ke Terminal Arjosari, tapi hanya ke Terminal Tipe B yang memang disiapkan untuk armada Trans Jatim,” tambahnya.
Lebih jauh, Nyono menegaskan, keberadaan Trans Jatim bukan untuk mematikan usaha transportasi lokal, melainkan menguatkan ekosistem transportasi publik di Malang Raya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Pengemudi bus Trans Jatim sebagian besar justru direkrut dari kalangan sopir angkot. Begitu pula dengan tenaga kebersihan dan petugas lainnya. Kami ingin semua tumbuh bersama,” tuturnya.
Adapun rute koridor Malang Raya akan membentang dari Kota Batu, melintasi Terminal Landung Sari dan Jalan Hamid Rusdi, hingga ke koridor utama Kota Malang.
“Trans Jatim hanya melintas di jalur utama, sedangkan angkot berperan sebagai feeder yang mengantarkan penumpang ke halte. Ini hubungan simbiosis mutualisme,” tegas Nyono.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Sementara itu, para sopir angkot disebut telah menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Malang Wahyu Hidayat untuk mendapatkan dukungan dalam bentuk subsidi BTS (Buy The Service). Permintaan itu, kata Nyono, telah disetujui oleh pihak pemerintah kota.
“Intinya, kita berkolaborasi, bukan bersaing. Trans Jatim akan membawa penumpang dari trayek panjang, lalu disambung dengan layanan angkot di wilayah perumahan atau stasiun. Tujuan akhirnya satu, memudahkan mobilitas warga Malang Raya,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Trans Jatim hingga 2025 sudah memiliki 7 koridor yang sudah beroperasi, antara lain Koridor I: Sidoarjo – Surabaya – Gresik, Koridor II: Mojokerto – Surabaya, Koridor III: Mojokerto – Gresik, Koridor IV: Gresik – Lamongan, Koridor V: Surabaya – Bangkalan, Koridor VI: Mojokerto – Sidoarjo, Koridor VII: Lamongan – Dukun (Gresik) – Paciran. (dpr)
Editor : Redaksi