MERAHPUTIH I SURABAYA — Gelombang dukungan mengalir deras kepada H. Imam Utomo S. dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-18 Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur. Tanpa drama, tanpa friksi, mantan Gubernur Jawa Timur dua periode ini kembali dipercaya memimpin PMI Jatim untuk masa bakti 2025–2030. Penetapan aklamasi pada Selasa (25/11/2025) di Hotel Santika Premier, Surabaya menjadi penegasan betapa kuatnya soliditas organisasi kemanusiaan tersebut di bawah kepemimpinan Imam Utomo.
Sebanyak 38 PMI kabupaten/kota, sebagai pemilik suara sah, satu suara pun tak berpaling. Seluruhnya bulat menetapkan Imam Utomo sebagai nakhoda untuk lima tahun ke depan. Aklamasi ini bukan sekadar “karena hanya ada satu calon”, melainkan karena rekam jejaknya dianggap mampu menjaga PMI tetap stabil, responsif, dan relevan di tengah berbagai tantangan kemanusiaan.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Sidang yang dipimpin Edi Purwinarno berlangsung ringkas namun substantif. Laporan pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya diterima tanpa catatan. Para peserta sepakat: kinerja PMI Jatim masih berada di jalur yang benar.
“Alhamdulillah, kepengurusan PMI dari kabupaten/kota hingga provinsi sangat kompak. Musprov ini berjalan lancar dan cepat,” ujar Imam Utomo di hadapan para delegasi, menegaskan bahwa konsolidasi internal adalah fondasi utama PMI selama ini.
Selain mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh, Imam menegaskan bahwa memimpin PMI bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan komitmen moral.
“Ini panggilan jiwa. Ini tentang kemanusiaan. Tentang kepedulian pada sesama. Nilai-nilai itu harus menjadi roh bagi seluruh pengurus PMI,” tegas mantan Pangdam V/Brawijaya itu.
Ia memastikan periode keduanya nanti akan difokuskan pada penguatan kapasitas relawan, percepatan respons kebencanaan, dan ketersediaan layanan kemanusiaan hingga ke pelosok Jawa Timur.
Di ruang sidang Musprov, perhatian tak hanya tertuju pada pemilihan ketua. Forum juga menggarisbawahi isu vital: meningkatkan partisipasi generasi muda dalam donor darah. Kelompok muda dianggap sebagai tulang punggung ketersediaan darah, terutama menghadapi situasi darurat.
Donor darah diibaratkan sebagai “lifeline” yang tak mengenal waktu. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pengingat penting bagaimana layanan darah PMI berperan krusial, terutama ketika kebutuhan plasma konvalesen melonjak.
“Kesiapan dan modernisasi layanan darah harus terus berjalan. Pengalaman pandemi memberi pelajaran berharga tentang pentingnya teknologi dan manajemen darah yang efektif,” demikian poin yang disampaikan dalam forum.
Baca juga: Wagub Emil Tegaskan Peran Strategis PMI dalam Fondasi Kesehatan Jatim
PMI Jawa Timur juga menegaskan bahwa ke depan diperlukan penguatan jejaring bank darah, rantai dingin (cold chain), dan sistem distribusi yang lebih efisien. Keselarasan antara PMI dan fasilitas layanan kesehatan akan menjadi kunci.
Imam Utomo menambahkan, meskipun pemerintah hadir dalam penanganan bencana dan layanan medis, PMI tetap membutuhkan dukungan masyarakat luas.
“Ketersediaan darah bukan hanya soal PMI. Ini gotong-royong kemanusiaan. Tidak bisa dibebankan ke satu pihak saja,” tegasnya.
Selama kepemimpinan Imam Utomo, tingkat partisipasi masyarakat dalam donor darah sukarela meningkat signifikan. Peningkatan jumlah penghargaan donor darah sukarela menjadi indikator kuat bahwa masyarakat menaruh kepercayaan besar pada PMI Jawa Timur.
“Kepercayaan publik adalah modal terbesar PMI,” demikian salah satu kesimpulan sidang Musprov.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Meski capaian PMI cukup solid, tidak semua daerah berada pada kapasitas yang sama. Beberapa wilayah membutuhkan peningkatan fasilitas, peningkatan partisipasi donor, dan dukungan pemerintah daerah. Semua akan dibahas detail dalam rapat kerja mendatang.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak turut hadir dalam Musprov PMI Jatim ini
"kita bersyukur senior kami yaitu bapak Imam Utomo, mantan Gubernur Jawa Timur masih berkenan untuk mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk memimpin PMI Jawa Timur ke depannya hingga 2030," ucap Emil. (dpr)
Editor : Redaksi