MERAHPUTIH I SURABAYA — Momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diproyeksikan menjadi pengungkit penting sektor pariwisata Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan kesiapan destinasi wisata, terutama wisata alam, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, termasuk dari mancanegara, dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menyebut tren positif tersebut membawa dampak langsung bagi perekonomian masyarakat lokal. Menurutnya, peningkatan wisatawan asing menjadi sinyal kuat bahwa daya tarik destinasi alam Jawa Timur semakin diakui di tingkat global.
Baca juga: Hari Ibu ke-97 di Jatim: Perempuan Bergerak, Bangsa Menguat
“Iya, yang jelas wisatawan mancanegara memang meningkat tahun ini dibanding tahun kemarin, karena objek-objek wisata alam khususnya. Dampaknya bagi masyarakat Jawa Timur tentu sangat besar, karena produk-produk lokal seperti UMKM, kerajinan, batik, dan produk khas lainnya ikut terpromosikan,” ujar Evy di Surabaya, Rabu (24/12).
Ia menegaskan, pariwisata tidak hanya soal angka kunjungan, tetapi juga soal efek berganda bagi ekonomi daerah. Kehadiran wisatawan mancanegara membuka ruang promosi alami bagi produk unggulan Jawa Timur, sekaligus mendorong perputaran ekonomi di tingkat akar rumput.
Di sisi lain, Pemprov Jatim terus memperkuat kesiapan destinasi wisata menjelang libur Nataru. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah menerbitkan surat edaran yang menekankan pentingnya aspek keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan selama masa liburan.
“Destinasi wisata kita, khususnya wisata alam, sekarang sedang diperkuat. Ibu Gubernur juga sudah mengeluarkan surat edaran untuk persiapan libur Nataru 2025–2026, dan menghimbau seluruh pelaku usaha pariwisata agar benar-benar siap dari sisi keamanan dan kenyamanan,” jelas Evy.
Sebagai bentuk keseriusan, Disbudpar Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota juga telah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah titik wisata. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh standar keselamatan diterapkan secara optimal, terutama di destinasi dengan risiko tinggi seperti kawasan pegunungan dan wisata alam ekstrem.
Baca juga: Libur Nataru, Dishub Jatim Pastikan Trans Jatim dan Trans Laut Tetap beroperasi
Dalam peta destinasi unggulan, kawasan Air Terjun Tumpak Sewu dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih menjadi primadona wisatawan mancanegara. Namun, tingginya minat tersebut juga diikuti dengan perhatian serius terhadap faktor keselamatan, menyusul adanya insiden kecelakaan di kawasan Bromo beberapa waktu lalu.
“Kami memastikan pengelola destinasi sudah bersiap. Terkait kecelakaan di Bromo kemarin, itu sebenarnya akibat kelalaian wisatawan. Karena itu, kami tidak hanya menuntut kesiapan pengelola, tapi juga kesadaran wisatawan,” tegasnya.
Evy menambahkan, edukasi keselamatan terus digencarkan, termasuk imbauan bagi wisatawan dan pengemudi agar tidak memaksakan perjalanan saat lelah atau mengantuk. Sejumlah rest area kini telah disiapkan oleh pemerintah daerah dan pengelola destinasi sebagai fasilitas wajib, khususnya bagi para driver wisata.
“Sekarang rest area sudah menjadi salah satu persyaratan wajib di setiap destinasi wisata, terutama untuk mendukung keselamatan pengemudi,” tambahnya.
Baca juga: UMP Jatim 2026 Resmi Naik, Khofifah Tegaskan Komitmen Jaga Daya Beli Pekerja
Terkait proyeksi jumlah kunjungan selama libur Nataru, Evy mengungkapkan bahwa Kementerian Perhubungan telah merilis target sekitar 8,5 juta pergerakan orang menuju Jawa Timur dalam periode tersebut. Angka itu merupakan versi mudik dan mobilitas Nataru.
“Mudah-mudahan separuhnya bisa menjadi wisatawan yang benar-benar berlibur dan menikmati destinasi di Jawa Timur,” ujarnya optimistis.
Dengan kesiapan infrastruktur, penguatan keamanan, serta sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha pariwisata, Jawa Timur berharap momentum Nataru 2025–2026 tidak hanya menghadirkan lonjakan kunjungan, tetapi juga membawa manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat daerah.(dpr)
Editor : Redaksi