MERAHPUTIH I SURABAYA — Polemik kepemimpinan di Rumah Sakit Pura Raharja Surabaya akhirnya memasuki babak baru. Perkumpulan Abdi Negara Jawa Timur secara resmi mengambil alih pengelolaan rumah sakit tersebut dari CEO lama Ishaq Jayabrata dan Direktur dr. Ary Sylviati, M.Kes, pada Senin (5/1).
Pengambilalihan itu dilakukan langsung oleh Sekretaris Dewan Pengurus Korpri Jatim yang juga Sekretaris Perkumpulan Abdi Negara Jatim, Indah Wahyuni, didampingi tim kuasa hukum perkumpulan, Syaiful Ma’arif, S.H., M.H. dan Edward Dewaruci, S.H., M.H. Kehadiran mereka sekaligus menandai dimulainya masa transisi manajemen RS Pura Raharja.
Baca juga: Lia Istifhama Apresiasi Inovasi Homecare Digital RSUD Karsa Husada Batu
Namun, saat rombongan pengurus tiba di lokasi, CEO lama Ishaq Jayabrata dan Direktur dr. Ary Sylviati tidak berada di tempat. Kondisi tersebut tidak menghalangi langkah Perkumpulan Abdi Negara Jatim untuk menegaskan sikap dan keputusan organisasinya.
Di hadapan jajaran kepala bagian RS Pura Raharja (Kabag layanan medis, Kabag Keuangan, Kabag Layanan Umum dan Kabag Sarana Prasarana) Indah Wahyuni, yang akrab disapa Yuyun, menyampaikan bahwa pengambilalihan dilakukan berdasarkan pertimbangan hukum yang jelas. Ia menegaskan bahwa tidak ada lagi dasar legal bagi Ishaq Jayabrata untuk menjabat sebagai CEO sejak tahun 2023.
“Jadi kami ke sini dengan adanya dicabutnya surat pernyataan dari Pak Rasio, bukan dicabut, tetapi tidak diakuinya bahwa beliau pernah memberikan persetujuan dan menandatangani SK perpanjangan jabatan CEO,” ujar Indah.
Menurutnya, penegasan dari Pak Rasio tersebut secara otomatis menggugurkan legal standing perpanjangan jabatan Ishaq Jayabrata untuk periode 2023 hingga 2025. Karena itu, Perkumpulan Abdi Negara Jatim menilai perlu mengambil langkah tegas demi kepastian hukum dan keberlangsungan organisasi.
“Sehingga otomatis dari tahun 2023 sampai 2025 tidak ada legal standing buat Pak Jaya. Dan itulah dasar kami datang ke sini untuk mengambil alih posisi pengelolaan Rumah Sakit Pura Raharja,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Indah juga memperkenalkan jajaran pengurus perkumpulan serta tim kuasa hukum yang hadir. Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk keterbukaan dan penegasan bahwa keputusan yang diambil merupakan keputusan kolektif organisasi, bukan sepihak.
Baca juga: Khofifah Ajak Warga Kurangi Jeruk Impor dari Kebun Tutur Pasuruan
Lebih lanjut, Indah menyampaikan bahwa Perkumpulan Abdi Negara Jatim telah menunjuk pimpinan baru untuk mengelola rumah sakit. Direktur baru, dr.Makhyan Jibril, secara resmi mulai berkantor di RS Pura Raharja sejak hari itu.
“Yang di tengah ini adalah Direktur yang ditunjuk oleh Prof. Dr. dr. Joni Wahyuhadi, Sp.BS (K), MARS, selaku CEO yang baru tahun 2024. Mulai hari ini, kami mengantarkan dr. Jibril Makhyan untuk berkantor di sini,” katanya.
Meski terjadi pergantian pucuk pimpinan, Indah menegaskan bahwa pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak boleh terganggu. Ia memastikan tidak ada perubahan fungsi maupun arah layanan RS Pura Raharja.
“Kami minta semua karyawan tetap memberikan pelayanan kepada seluruh pasien seperti biasanya. Tidak ada perubahan. Kami tidak akan mengubah peruntukan rumah sakit. Tetap,” ujarnya.
Indah juga berupaya menenangkan seluruh karyawan dengan menegaskan bahwa tidak akan ada pemutusan hubungan kerja secara massal. Menurutnya, hanya dua posisi yang diberhentikan, yakni CEO lama dan Direktur lama, karena alasan legalitas jabatan.
Baca juga: Khofifah Tancap Gas 2026, 38 Sekolah di Malang Raya Direvitalisasi
“Kami hanya dua yang kami berhentikan: CEO karena sudah tidak ada legal standing-nya, dan yang kedua adalah Direktur. Semua karyawan tetap bekerja seperti biasa, tidak ada yang akan kami berhentikan,” tegasnya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pentingnya loyalitas kepada Perkumpulan Abdi Negara Jatim sebagai pemilik dan pengelola rumah sakit. Loyalitas tersebut dinilai sebagai bagian dari profesionalisme dan komitmen organisasi.
“Kecuali tidak loyal terhadap perkumpulan. Itu saja. Yang lain semua bekerja seperti biasa,” katanya.
Pengambilalihan ini menandai fase baru dalam tata kelola RS Pura Raharja Surabaya. Perkumpulan Abdi Negara Jatim menegaskan komitmennya untuk memastikan rumah sakit tetap berjalan normal, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik, sembari menuntaskan persoalan hukum dan administratif yang selama ini membelit kepemimpinan sebelumnya. (dpr)
Editor : Redaksi