Mesin 2029 Dipanaskan, Sarmuji Bongkar Peta Rawan Golkar Jatim

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I SURABAYA – Aroma kontestasi 2029 mulai terasa di tubuh Partai Golkar. Dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Golkar Jawa Timur di Surabaya, Senin (16/2/2026), Sekretaris Jenderal DPP Golkar M Sarmuji menabuh genderang konsolidasi lebih awal. Ia datang bukan sekadar memberi sambutan seremonial, melainkan membawa peta politik rinci—lengkap dengan tanda merah di sejumlah daerah pemilihan (dapil) yang dinilai rawan.

Di hadapan jajaran DPD Golkar Jawa Timur, Sarmuji berbicara lugas. Tidak ada ruang untuk berpuas diri. “Ini peta per dapil kita di seluruh Jatim. Ada dapil rawan artinya kursi Golkar bisa hilang, ada dapil dengan risiko tinggi di mana Golkar bisa saja tidak mendapat kursi. Tidak boleh ada yang bersantai, mulai sekarang harus benar-benar diseriusi,” tegasnya.

Baca juga: Golkar Dorong Obligasi Daerah, Jalan Baru Menuju Kemandirian Fiskal

Peta yang dimaksud bukan sekadar angka statistik. Bagi Sarmuji, itu adalah alarm dini. Ia meminta para legislator yang kini duduk di DPR RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten/Kota untuk menjaga basis suara, bahkan meningkatkannya.

Menurutnya, kemenangan politik tidak bisa lagi mengandalkan pola lama. Kerja elektoral harus dimulai jauh hari, dengan pemetaan detail: mana wilayah berpotensi menambah kursi, mana wilayah yang justru terancam kehilangan representasi.

“Kita pasti akan menargetkan penambahan kursi. Kita sudah punya petanya dan kita akan perkuat baik di daerah yang berisiko maupun di daerah yang berpotensi untuk menambah kursi,” jelasnya.

Targetnya pun tidak main-main. Untuk DPR RI dari dapil Jawa Timur, ia menyebut peluang tambahan tiga hingga empat kursi sebagai sesuatu yang realistis untuk dikejar. Pernyataan itu sontak menjadi suntikan semangat bagi kader yang hadir.

Namun, bagi Sarmuji, peta politik hanyalah alat. Kunci sesungguhnya terletak pada kemampuan kader menjawab perubahan zaman. Ia merumuskan dua kata kunci: relevan dan relate.

Relevan, kata dia, berarti program dan sikap politik Golkar harus menjawab kebutuhan riil masyarakat Jawa Timur. Isu kesejahteraan, lapangan kerja, pendidikan, hingga pelayanan publik harus menjadi prioritas konkret, bukan sekadar jargon kampanye.

Sementara relate berarti terhubung secara emosional dan komunikatif dengan masyarakat. Di era media sosial yang serba cepat, interaksi tidak lagi bisa bersifat satu arah.

“Kita harus intens berkomunikasi, membangun relasi, membangun hubungan baik dengan masyarakat. Di era sekarang dengan media sosial yang kuat, kita sebenarnya lebih mudah untuk menjadi relevan dan membangun relasi,” pesannya.

Baca juga: Musda Xl Golkar Magetan Di Surabaya, Ali Mufthi Harap Ketua Terpilih Segera Konsolidasi

Ia optimistis, selama dua prinsip itu dijaga, Golkar tidak hanya bertahan sebagai partai papan atas di Jawa Timur, tetapi juga naik kelas dalam peta politik nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Sarmuji juga mengajak kader melakukan kilas balik sejarah. Ia mengingatkan bahwa Golkar lahir bukan tanpa sebab, melainkan sebagai respons atas situasi politik yang dinilai tidak kondusif pada masanya.

Ia menyinggung fase ketika dinamika ideologis partai-partai begitu keras, hingga program pemerintahan tersendat. Dalam konteks itu, Presiden pertama RI Soekarno—yang akrab disapa Bung Karno—mendorong hadirnya golongan fungsional sebagai penyeimbang. Dari sanalah cikal bakal Golkar menguat.

Sarmuji juga menyinggung tantangan ideologis yang dihadapi saat itu, termasuk pertarungan gagasan dengan Partai Komunis Indonesia yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi komunis.

“Artinya apa? Golkar lahir karena menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Baca juga: Bahlil Jadi Salah Satu Menteri Dengan Kinerja Baik Versi ARCI, Begini Analisa Pakar

Pesan sejarah itu bukan nostalgia belaka. Ia meminta kader Golkar Jawa Timur menempatkan diri dalam konteks kekinian: tantangan ekonomi digital, perubahan demografi pemilih, hingga pergeseran preferensi politik generasi muda.

Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung suara penting dalam setiap pemilu. Dengan jumlah pemilih yang besar dan karakter politik yang dinamis, provinsi ini menjadi barometer kekuatan partai.

Karena itu, konsolidasi sejak 2026 dinilai sebagai langkah strategis. Mesin partai harus dipanaskan lebih awal, struktur diperkuat hingga tingkat akar rumput, dan kaderisasi diperbarui agar mampu menjawab ekspektasi publik.

Rakerda kali ini bukan sekadar forum evaluasi, melainkan momentum penyadaran. Sarmuji menegaskan, perjalanan menuju 2029 masih panjang, tetapi waktu tidak boleh terbuang.

“Sepanjang kita bisa relevan dan relate dengan masyarakat, Golkar akan dicintai. Bukan hanya eksis, tapi naik ke level yang lebih tinggi,” tandasnya.(dpr)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru