MERAHPUTIH I SURABAYA – Tepat setahun kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Dardak, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar tasyakuran sederhana namun sarat makna di Gedung Negara Gedung Negara Grahadi, Kamis (20/2). Momentum refleksi itu dirangkai dengan santunan bagi anak yatim, pengendara ojek online (ojol) penyandang disabilitas, serta Bunda Ojol yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Baca juga: Mudik Lebaran dan Nyepi Beririsan, Dudy Purwagandhi Imbau Masyarakat Atur Ulang Jadwal Perjalanan
Suasana haru dan khidmat menyelimuti Grahadi. Tidak ada gegap gempita berlebihan. Yang ada adalah doa dan rasa syukur atas perjalanan satu tahun yang, menurut Khofifah, dijalani tanpa mengenal hari dan jam.
“Alhamdulillah, sebetulnya saya ini tidak kenal hari, tidak kenal jam. Pokoknya jalan, kerja. Tiba-tiba ada yang mengingatkan karena beberapa institusi mengonfirmasi kinerja satu tahun. Dan hari ini, 20 Februari, persis satu tahun saya dan Pak Emil dilantik oleh Presiden di Istana saat itu,” ujar Khofifah.
Dalam refleksinya, Khofifah menegaskan bahwa satu tahun bukanlah garis akhir, melainkan titik evaluasi untuk mempercepat langkah. Ia menyebut berbagai indikator pembangunan yang terus digenjot: peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), perbaikan pendidikan dan layanan kesehatan, penguatan infrastruktur, penurunan angka kemiskinan, hingga pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
“Kita terus bekerja memaksimalkan seluruh potensi Jawa Timur. Ke depan, program-program harus benar-benar menjawab tantangan. Harapan kita kualitas SDM makin membaik, pendidikan membaik, kesehatan membaik, infrastruktur membaik, kemiskinan menurun, pertumbuhan ekonomi meningkat,” tegasnya.
Menurutnya, kunci percepatan pembangunan terletak pada sinergi lintas level: lokal, regional, nasional, bahkan global. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar-institusi agar kemajuan dan kemakmuran Jawa Timur dapat dirasakan merata.
“Kemajuan Jawa Timur, kemakmuran masyarakat, dan kedamaian di Jawa Timur harus kita wujudkan bersama-sama,” imbuhnya.
Momentum satu tahun kepemimpinan ini juga bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadan. Doa dipanjatkan bersama, termasuk oleh Al Mukarom Kiai Muzakki, agar setiap langkah dan kebijakan membawa keberkahan.
“Mudah-mudahan semua yang kita lakukan membawa manfaat dan barokah. Di bulan Ramadan ini semoga kita mendapat pahala dan kemuliaan dari Allah SWT,” tutur Khofifah.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Emil Dardak menegaskan, kepemimpinan Khofifah diwarnai kemampuan beradaptasi dengan dinamika kebijakan nasional yang berubah cepat. Ia menyebut Gubernur Jawa Timur tersebut aktif memastikan program pusat berjalan optimal di daerah.
“Ada kebijakan strategis nasional yang berubah signifikan, dan beliau menjalankan peran untuk mensukseskan program-program nasional,” kata Emil.
Sejumlah agenda strategis nasional seperti penguatan ketahanan pangan, swasembada gula dan jagung, hingga pembenahan luas tanam menjadi perhatian serius Pemprov Jatim. Selain itu, program Sekolah Rakyat dan berbagai inisiatif peningkatan kesejahteraan juga masuk dalam prioritas.
Namun, Emil menekankan bahwa di saat bersamaan, Khofifah tetap menjaga agar program-program khas Pemprov Jatim yang menjadi harapan masyarakat tidak terabaikan.
Salah satu yang disorot adalah kebijakan agar tidak ada lagi ijazah siswa yang tertahan karena kendala biaya. Cabang dinas yang berhasil memastikan 100 persen ijazah tersalurkan telah diberi penghargaan.
“Sekarang justru sistemnya sekolah yang mengejar murid, bukan murid yang mengejar sekolah untuk mencari ijazah,” ujar Emil.
Di sektor transportasi publik, perluasan koridor Trans Jatim juga terus dilakukan sebagai bagian dari penguatan konektivitas dan pelayanan masyarakat.
“Saya melihat kerja beliau ini seperti ‘double gardan’. Mensukseskan program pusat sebaik-baiknya dan melanjutkan program Pemprov yang menjadi harapan masyarakat,” katanya.
Emil juga mengingatkan bahwa capaian satu tahun ini bukan semata hasil kerja pemerintah provinsi, melainkan buah kolaborasi dengan Forkopimda, pemangku kepentingan, dan seluruh elemen masyarakat.
“Mudah-mudahan beliau diberikan kesehatan, karena ini bukan tugas yang mudah. Kami akan berusaha mengimbangi kepemimpinan Bu Khofifah yang luar biasa. Ini kerja keras bersama,” tuturnya.
Refleksi satu tahun kepemimpinan Khofifah–Emil di Grahadi bukan sekadar seremoni. Santunan kepada anak yatim dan para pejuang nafkah di jalanan menjadi simbol bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi juga dari kehadiran negara bagi mereka yang membutuhkan.
Memasuki tahun kedua, duet kepemimpinan ini menegaskan komitmen: kerja berkelanjutan, sinergi tanpa sekat, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil. Jawa Timur diharapkan terus melaju, tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga menguat secara sosial dan spiritual.(dpr)
Editor : Redaksi