Pemprov Jatim Perkuat Kendali Harga di Bulan Ramadan dan Jelang Idul Fitri, Khofifah Turun Langsung di Pasar Murah

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I MALANG -Pada Bulan Suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur semakin agresif melakukan langkah stabilisasi harga bahan pokok. Komitmen itu ditegaskan langsung oleh Khofifah Indar Parawansa saat membuka Pasar Murah ke-23 Tahun 2026 di Taman Pelangi, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (22/2).

Di bawah hujan gerimis , kawasan Taman Pelangi dipadati warga. Antrean mengular, sebagian besar didominasi ibu rumah tangga yang hendak memenuhi kebutuhan dapur di bulan Ramadan. Kehadiran orang nomor satu di Jawa Timur itu sontak menyedot perhatian. Tanpa sekat, Khofifah menyusuri satu per satu lapak pedagang, menanyakan harga, mengecek kualitas komoditas, hingga berdialog langsung dengan pembeli.

Baca juga: Negara Hadir di Tengah Warga Rentan, Khofifah Gelontorkan Rp7 Miliar Lebih untuk Masyarakat Kabupaten Malang

Suasana terasa hangat dan cair. Sesekali terdengar tawa kecil ketika gubernur berbincang dengan warga yang mengaku terbantu dengan harga bahan pokok yang jauh lebih rendah dibanding pasar tradisional.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyerahkan bantuan sosial secara simbolis berupa 70 sak beras masing-masing 5 kilogram untuk para lanjut usia serta 50 kantong telur bagi anak-anak dan ibu hamil. Bantuan itu menjadi pelengkap intervensi pasar yang dilakukan Pemprov Jatim.

Kepada awak media, Khofifah menegaskan bahwa Pasar Murah ini merupakan yang ke-23 digelar sepanjang tahun 2026. Tujuannya jelas: stabilisasi harga dan pengendalian inflasi.

“Hari ini adalah yang ke-23. Sama, kita ingin melakukan stabilisasi harga, kita ingin melakukan pengendalian inflasi. Pasti Ramadan menjelang Lebaran ada kecenderungan peningkatan kebutuhan logistik di masing-masing keluarga, dan kita juga melihat ada dinamika harga di pasar tradisional,” ujarnya.

Ia memaparkan perbandingan harga yang cukup signifikan. Harga ayam di pasar tradisional berada di kisaran Rp41.000–Rp42.000 per kilogram, sementara di pasar murah dijual Rp30.000. Gula pasir yang di pasaran bisa mencapai Rp17.000 per kilogram, di lokasi pasar murah dilepas Rp14.000. Sementara MinyaKita dijual Rp13.000 per liter, di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp16.800.

“Harapan kita semua bisa membantu pemenuhan kebutuhan logistik masyarakat. Saya selalu berpesan supaya penyelenggaraan pasar murah dijauhkan dari pasar tradisional dan didekatkan dengan pemukiman masyarakat supaya manfaatnya lebih dirasakan,” tegasnya.

Baca juga: Pemprov Jatim Cetak Sejarah, Bukber 20 Ribu Warga di Masjid Al-Akbar Surabaya Raih Rekor MURI

Menurut Khofifah, langkah yang dilakukan Pemprov Jatim bersifat komplementer terhadap upaya yang telah dijalankan pemerintah kabupaten/kota.

“Apa yang sudah dilakukan oleh kabupaten/kota, kita mencoba memberikan komplementaritas supaya makin banyak yang bisa kita cover,” imbuhnya.

Dalam gelaran Pasar Murah tersebut, sejumlah komoditas dijual di bawah harga pasar. Beras premium dilepas Rp14.000 per kilogram dan beras medium Rp11.000 per kilogram. MinyaKita Rp13.000 per liter, telur ayam ras Rp22.000 per kemasan, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, gula pasir Rp14.000 per kilogram, bawang putih Rp6.000 per 250 gram, bawang merah Rp7.000 per 250 gram, serta daging ayam ras Rp30.000 per kemasan.

Yang menjadi pembeda pada pelaksanaan kali ini adalah penyediaan komoditas cabai, yang kerap menjadi pemicu lonjakan inflasi menjelang hari besar keagamaan. Cabai rawit merah dijual Rp4.000 per 100 gram dan cabai merah besar Rp2.000 per 100 gram.

Baca juga: Satu Tahun Konsistensi Khofifah-Emil, Lia Istifhama: Potret Kepemimpinan Paripurna di Jawa Timur

Kebijakan ini dinilai strategis mengingat fluktuasi harga cabai hampir selalu menjadi sorotan saat momentum Ramadan dan Lebaran.

Khofifah mengakui, pola konsumsi masyarakat memang mengalami peningkatan signifikan menjelang Ramadan dan kembali melonjak menjelang Idul Fitri. Karena itu, intervensi harus dilakukan lebih awal agar gejolak harga dapat ditekan.

“Ini sudah makin dekat Ramadan di mana kebutuhan logistik rumah tangga semakin meningkat. Kemudian menjelang Idul Fitri akan meningkat lagi,” ungkapnya.

Melalui Pasar Murah yang digelar secara berkelanjutan, Pemprov Jatim berharap daya beli masyarakat tetap terjaga dan laju inflasi daerah dapat terkendali. Di tengah dinamika harga kebutuhan pokok, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat menjadi pesan kuat bahwa stabilitas ekonomi dan perlindungan daya beli warga tetap menjadi prioritas utama.(dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru