MERAHPUTIH I MALANG - Lamongan tak lagi sekadar identik dengan soto dan hasil lautnya yang melimpah. Dari dapur-dapur sederhana dan bakul yang dipanggul para perempuan tangguh, lahir kebanggaan baru bagi kota pesisir ini. Sego Boran, kuliner legendaris khas Lamongan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025.
Penetapan tersebut diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dengan sertifikat yang diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, dalam agenda penyerahan apresiasi seniman dan pelaku budaya di Malang, Minggu (22/2/2026).
Baca juga: Gubernur Khofifah–Bupati Haris Turun Tangan, Penanganan Banjir Probolinggo Dikebut
Momentum itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penegasan bahwa tradisi kuliner—lengkap dengan proses, nilai, dan sejarah sosialnya, merupakan warisan budaya yang hidup dan layak dijaga lintas generasi.
Bagi masyarakat Lamongan, Sego Boran bukan sekadar sepiring nasi hangat dengan siraman kuah santan. Ia adalah cerita tentang perempuan-perempuan penjual nasi yang menyusuri malam dengan bakul besar di kepala atau dipanggul, menawarkan hidangan lengkap dengan lauk dan bumbu khas.
Dalam setiap porsi Sego Boran, tersimpan narasi ketekunan dan kearifan lokal. Kuah santan kental berbumbu rempah disiramkan di atas nasi putih hangat, menghadirkan aroma kunyit, ketumbar, lengkuas, dan serai yang menggoda. Lauknya beragam, ayam suwir berbumbu, ikan sili goreng, telur pindang, urap-urap, hingga pletuk (kerupuk berbahan dasar nasi). Rasa gurih, pedas, dan sedikit manis berpadu dalam harmoni yang khas.
Sego Boran lazim dijajakan sejak malam hingga dini hari. Ia menjadi santapan para pekerja malam, perantau, hingga warga yang mencari kehangatan selepas aktivitas panjang. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan.
Wakil Bupati Lamongan, yang akrab disapa Mas Dirham, menegaskan bahwa pengakuan ini bukan hanya kebanggaan simbolik. Lebih dari itu, terdapat peluang strategis untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
“Penetapan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mempromosikan dan mengembangkan kuliner khas Lamongan agar semakin dikenal luas dan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Dirham, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, pelestarian budaya, termasuk kuliner tradisional merupakan bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Identitas daerah tidak boleh hanya dijaga sebagai romantisme masa lalu, tetapi harus diolah menjadi kekuatan ekonomi masa depan.
Baca juga: Pasar Murah Pemprov Jatim Diserbu Warga, Ning Lia: Hadirkan Multiplier Effect dan Keberkahan Ramadan
Sego Boran sendiri ditetapkan dalam kategori WBTb bidang Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Artinya, yang diakui bukan semata-mata makanannya, melainkan juga keterampilan meracik, menyajikan, hingga nilai sosial yang menyertainya.
Sebelum Sego Boran, Lamongan telah memiliki sejumlah warisan budaya takbenda yang diakui secara nasional, antara lain Kentrung, Jaran Jenggo, Mendhak Sanggring, dan Perahu Ijon-Ijon. Deretan tersebut memperkuat posisi Lamongan sebagai daerah yang kaya tradisi dan konsisten merawat identitasnya.
“Budaya adalah identitas sekaligus kekuatan Lamongan,” tegas Mas Dirham.
Pengakuan terhadap Sego Boran diharapkan menjadi pemantik semangat seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat dan membanggakan warisan daerah, baik dalam bentuk seni pertunjukan, ritual tradisi, maupun kuliner.
Kuliner yang dahulu hanya mudah ditemui di sudut-sudut Lamongan, kini mulai hadir di berbagai kota. Dari bakul sederhana di pinggir jalan hingga potensi dikemas dalam konsep restoran modern, Sego Boran membuktikan bahwa cita rasa lokal mampu menembus panggung nasional, bahkan berpeluang mendunia.
Dalam agenda penyerahan apresiasi yang berlangsung di Malang, pemerintah juga menyerahkan tunjangan kehormatan sebesar Rp1,5 juta kepada para juru pelihara cagar budaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka menjaga situs-situs bersejarah.
Penetapan Sego Boran sebagai WBTb Indonesia 2025 menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau infrastruktur, tetapi juga pada warisan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Dari sepiring nasi hangat di bawah langit malam Lamongan, lahir identitas yang kini diakui negara. Sego Boran bukan lagi sekadar kuliner, ia adalah simbol ketahanan tradisi dan kebanggaan daerah yang terus bergerak maju. (red)
Editor : Redaksi