MERAHPUTIH I SURABAYA – Ramadan 1447 H menjadi momentum berbeda bagi kalangan mahasiswa di Kota Pahlawan. Di tengah suasana ibadah dan refleksi, DPD Partai Gerindra Jawa Timur menggelar forum bertajuk Tadarus Politik Gen Z, sebuah ruang diskusi yang dirancang khusus untuk generasi muda membedah isu-isu kebangsaan dari perspektif kekinian.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sebanyak tujuh kali selama Ramadan dan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya. Edisi perdana mengangkat tema “Politik Jalur FYP, Membungkus Cita Dalam Citra”, sebuah tema yang merefleksikan bagaimana politik hari ini tak bisa dilepaskan dari algoritma media sosial dan pertarungan opini di ruang digital.
Baca juga: Ramadan Menguatkan Solidaritas, Pemprov Jatim Kucurkan Rp16 Miliar Lebih untuk Warga Probolinggo
Sekitar 75 mahasiswa hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari beragam latar belakang kampus, mulai dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, hingga Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Diskusi berlangsung dinamis, memadukan gaya santai khas Gen Z dengan pembahasan serius tentang arah politik nasional dan global.
Sejumlah kader Gerindra Jawa Timur hadir memberikan “tausiyah politik”, di antaranya Darmawan Sutanto, serta Irda Bella Ajeng. Para mahasiswa tak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif menyampaikan pandangan dan kritik terhadap fenomena politik yang berkembang, terutama di media sosial.
Muhammad Ridho, mahasiswa Unusa, mengaku kegiatan ini memberi perspektif baru tentang politik yang selama ini kerap dipandang kaku dan jauh dari anak muda.
“Kebetulan pembicara hari ini sangat luar biasa. Mereka para wakil rakyat dan memberi materi yang menarik. Bagi saya sebagai Gen Z itu bermanfaat dan untuk masa depan bangsa kita,” ujar Ridho di Kantor DPD Gerindra Jatim, Selasa (24/2/2026).
Ridho berharap forum seperti ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial Ramadan, melainkan berlanjut sebagai jembatan komunikasi antara wakil rakyat dan generasi muda.
“Banyak-banyak membuka ruang aspirasi untuk para Gen Z melalui acara-acara seperti ini,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Muhammad Arif Farhan Firman Syah, mahasiswa UINSA. Ia menilai kegiatan ini memperkaya pemahaman politik yang lebih rasional dan kritis, terutama di tengah derasnya arus informasi di platform seperti TikTok.
“Dengan mengikuti acara ini saya mendapat pengalaman baru terkait pengertian politik. Kita juga nggak harus percaya dengan berita-berita yang ada di TikTok, karena kebanyakan mengandung hoaks,” jelasnya.
Baca juga: Sego Boran Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025, Identitas Lamongan Kian Menguat
Arif mengutip pesan yang disampaikan Anwar Sadad dalam forum tersebut, bahwa generasi muda harus curiga terhadap konten yang cenderung merendahkan pihak lain atau memecah belah.
“Kalau ada berita yang identik dengan merendahkan orang lain, kita harus curiga apakah ada unsur lain di balik berita tersebut,” ujarnya.
Mahasiswa semester enam itu juga mengapresiasi sejumlah program prioritas pemerintah pusat, salah satunya program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dinilainya memberi dampak nyata bagi masyarakat di daerah terpencil.
“Program seperti MBG sudah membantu kalangan kecil, terutama di pelosok. Harapan saya pemerintah tetap semangat memimpin negara ini,” katanya.
Sementara itu, Irda Bella Ajeng, kader Gerindra yang juga Anggota DPRD Sidoarjo, menegaskan bahwa partainya berkomitmen membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk terlibat aktif dalam politik.
Baca juga: Indosat Prediksi Lonjakan Trafik Hingga 196 Persen di Jatim saat Ramadhan 2026
“Adanya Tadarus Gen Z ini semakin mendukung generasi muda yang ingin masuk ke dalam politik supaya tidak termakan hoaks atau berita-berita menyeramkan tentang politik. Partai Gerindra membutuhkan penerus generasi emas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Irda memastikan Tadarus Politik Gen Z akan berlanjut pada Jumat mendatang dengan fokus pembahasan isu kepemudaan. Ia mengajak mahasiswa untuk mendaftar melalui media sosial resmi DPD Gerindra Jatim.
Dalam forum tersebut turut hadir sejumlah kader lainnya seperti Cahyo Yudo Kuncoro, Halimur Rosyid, hingga Bahrudin Abdillah.
Melalui konsep tadarus yang identik dengan pendalaman nilai di bulan suci, Gerindra Jatim mencoba membingkai politik bukan sekadar kontestasi kekuasaan, melainkan ruang belajar, berdialog, dan membangun kesadaran kritis generasi muda. Ramadan kali ini pun menjadi lebih dari sekadar ritual, tetapi juga momentum literasi politik bagi Gen Z Surabaya.(dpr)
Editor : Redaksi