MERAHPUTIH I GRESIK – Lautan manusia memenuhi Alun-Alun Gresik saat penutupan Festival Ramadan 2026, Selasa (3/3/2026). Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai penjuru kota tumpah ruah menikmati rangkaian acara terakhir yang dikemas meriah melalui bazar UMKM, hiburan religi, hingga pembagian hadiah lomba Islami.
Festival yang telah berlangsung sejak 27 Februari itu menjelma menjadi ruang temu warga sekaligus penggerak ekonomi menjelang bulan suci. Deretan stan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi magnet utama. Pengunjung tampak antusias berburu aneka kuliner tradisional, busana muslim, hingga produk kerajinan lokal.
Baca juga: Ning Lia Apresiasi Mudik Gratis 7.000 Kuota Pemprov Jatim
Momentum Ramadan yang identik dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dimanfaatkan optimal oleh para pelaku usaha. Perputaran transaksi di area bazar terlihat signifikan, mencerminkan geliat ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari ruang-ruang publik.
Tak hanya aktivitas ekonomi, nuansa religius juga terasa kental. Panitia menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Lomba Dai Cilik Gresik, Fashion Show Islami, Lomba Al Banjari Piala Ketua DPRD Gresik, serta program Sinau Bareng Bupati dan Wakil Bupati Gresik 2025. Tepuk tangan dan sorak bangga keluarga peserta menambah hangat suasana malam penutupan.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memberikan apresiasi atas konsistensi media lokal dalam menghadirkan kegiatan yang tidak sekadar berorientasi hiburan, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam membangun optimisme publik serta memperluas jangkauan informasi yang konstruktif. “Media menjadi bagian penting dalam menyampaikan aspirasi dan program masyarakat secara luas,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Sementara itu, Ketua DPRD Gresik, M. Syahrul Munir, menilai Festival Ramadan sebagai wujud kolaborasi konkret antara media, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan komunitas. Ia menegaskan bahwa kegiatan semacam ini bukan hanya ruang hiburan, melainkan sarana mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat promosi produk lokal.
“Festival ini menjadi panggung bersama. UMKM mendapat ruang promosi, masyarakat memperoleh hiburan dan kebutuhan Ramadan, sementara pemerintah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, antusiasme ribuan pengunjung menjadi bukti bahwa Festival Ramadan memiliki daya tarik tersendiri. Selain memeriahkan bulan suci, kegiatan ini dinilai efektif menciptakan perputaran ekonomi lokal yang berdampak langsung bagi warga.
Dengan respons positif masyarakat, Festival Ramadan 2026 diharapkan dapat berlanjut sebagai agenda tahunan di Kabupaten Gresik. Tidak hanya menjadi perayaan spiritual dan budaya, tetapi juga pengungkit ekonomi yang memperkuat fondasi kemandirian UMKM setempat.(dpr)
Editor : Redaksi