Dindik Jatim Bagikan 42 Ribu Seragam Gratis, MPLS Ramah Tekankan Integritas dan Antiperundungan

harianmerahputih.id
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai

MERAHPUTIH I MALANG – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan (Dindik) terus memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Memasuki hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, Senin, Dindik Jatim menyalurkan sebanyak 42 ribu paket seragam sekolah gratis kepada peserta didik baru dari keluarga kurang mampu yang diterima melalui jalur afirmasi.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan agar siswa dari keluarga prasejahtera dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa terbebani biaya pembelian seragam di awal tahun ajaran.

Baca juga: Khofifah Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Sekolah Aman Bebas Kekerasan

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan seluruh penerima bantuan merupakan peserta didik yang telah terdata melalui jalur afirmasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

"Ada 42 ribu seragam gratis yang dibagikan kepada murid yang statusnya afirmasi, jadi mereka berasal dari keluarga tidak mampu," ujar Aries usai menghadiri pembukaan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 di SMK Negeri 2 Singosari, Kabupaten Malang, Senin (13/7).

Setiap siswa penerima memperoleh dua jenis seragam wajib, yakni satu stel seragam putih abu-abu dan satu stel seragam pramuka. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban ekonomi orang tua sekaligus memastikan seluruh peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti kegiatan belajar sejak hari pertama sekolah.

Aries menjelaskan, proses penyaluran dilakukan berdasarkan pendataan yang dilakukan masing-masing sekolah. Satuan pendidikan menjadi pihak yang paling mengetahui kondisi ekonomi peserta didik sehingga penyaluran bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam memastikan tidak ada siswa yang terkendala mengikuti pendidikan hanya karena persoalan biaya perlengkapan sekolah.

"Sekolah yang mengetahui murid-murid yang membutuhkan seragam. Sekolah juga yang akan menyiapkan berdasarkan data yang sudah ada," katanya.

Selain penyaluran bantuan seragam, Dindik Jawa Timur juga menaruh perhatian besar terhadap pelaksanaan MPLS yang semakin mengedepankan pendekatan humanis. Program orientasi bagi peserta didik baru kini diarahkan menjadi sarana membangun karakter, memperkenalkan budaya sekolah, serta membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru.

Baca juga: SMA Muhi Yogya Bekali 432 Siswa Baru dengan Karakter, Kepemimpinan, dan Prestasi

Aries menegaskan, pelaksanaan MPLS di seluruh SMA, SMK, dan SLB di Jawa Timur harus berlangsung secara ramah, aman, dan bebas dari praktik perundungan maupun perpeloncoan yang selama ini identik dengan masa orientasi.

Menurutnya, perubahan paradigma tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat sehingga siswa merasa nyaman sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.

"Setiap tahun pelaksanaan MPLS terus mengalami perkembangan menjadi kegiatan yang memberikan dampak positif bagi proses adaptasi peserta didik. Yang terpenting, suasananya ramah dan tidak ada perpeloncoan," ujarnya.

Pelaksanaan MPLS Ramah di Jawa Timur juga mendapat perhatian langsung dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang membuka secara nasional kegiatan tersebut di SMK Negeri 2 Singosari.

Aries menilai arahan pemerintah pusat sejalan dengan kebijakan Dindik Jawa Timur yang selama ini mendorong orientasi sekolah sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan nilai kebangsaan, hingga membangun hubungan harmonis antara peserta didik dengan guru maupun sesama siswa.

Baca juga: Ning Lia Dukung Regulasi Larangan Penyebaran Budaya LGBTQ, Tekankan Peran Keluarga dan Ulama

Tidak hanya itu, tahun ini materi MPLS juga diperkuat dengan pendidikan antikorupsi sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini. Dindik Jatim menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memperkenalkan pentingnya nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab kepada para peserta didik baru.

Menurut Aries, sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan budaya antikorupsi sejak awal sehingga nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para pelajar.

"Tujuan itulah yang kami lakukan secara bersama-sama. Kami menginisiasi integritas di lingkungan sekolah. Tadi juga disampaikan KPK bahwa MPLS harus memuat materi tentang kejujuran, salah satunya mengenalkan pendidikan antikorupsi kepada peserta didik," tuturnya.

Melalui kombinasi antara bantuan seragam gratis, pelaksanaan MPLS yang ramah anak, serta penguatan pendidikan karakter dan integritas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap seluruh peserta didik baru dapat memulai perjalanan pendidikan mereka dengan semangat, rasa percaya diri, dan lingkungan sekolah yang aman serta mendukung tumbuh kembang mereka.(pps)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru