MERAHPUTIH I SURABAYA – Suara hentakan kaki dan pukulan terdengar bergemuruh dari dalam arena latihan. Tubuh para karateka bergerak dinamis mengikuti aba-aba Sensei (guru). Latihan berlangsung dengan intensitas tinggi, tetapi bukan sekadar untuk menempa fisik dan kemampuan bertarung semata.
Di balik sistem latihan yang dikenal dengan full body contact, Pembinaan Mental Karate (PMK) Kyokushinkai Karate-Do Indonesia membawa misi yang jauh lebih dalam, yakni membentuk mental baja, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, sekaligus karakter luhur para karateka.
Baca juga: HUT Pertama GAS Pemuda, Charly Haryono Tegaskan Komitmen Aksi Sosial dan Pelestarian Lingkungan
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam pembinaan Kyokushinkai di Surabaya. Salah satu basis pembinaan yang aktif melahirkan atlet dan regenerasi berada di sejumlah dojo terkemuka, di antaranya PMK Kyokushinkai Dojo Graha Family, di samping pusat latihan yang berlangsung di GOR Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Shihan Hartanto Chandra, salah satu senior instruktur PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia, mengungkapkan bahwa latihan fisik merupakan fondasi utama dalam membangun seorang karateka sejati. Namun, kekuatan fisik mutlak harus berjalan beriringan dengan ketangguhan mental.
“Selain fisik, pembinaan mental para atlet sangat diperlukan agar terbangun mentalitas yang tangguh, terutama saat menghadapi kompetisi dan kejuaraan,” ujarnya.
Menurut Hartanto, keberhasilan pembinaan ini juga sangat membutuhkan sinergi dan dukungan orang tua. Para orang tua perlu memahami bahwa metode latihan yang terlihat keras sama sekali tidak bertujuan mengajarkan kekerasan. Sebaliknya, kerasnya latihan difungsikan secara disiplin sebagai sarana pembentukan karakter.
“Memang diperlukan kedisiplinan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat keras atau kasar. Padahal, tujuannya murni untuk kedisiplinan. Itu yang jauh lebih utama,” tegasnya.
Bukan Sekadar Bisa Bertarung
Karakteristik Kyokushinkai memang memiliki kekhasan dibandingkan aliran karate lainnya. Sistem yang diterapkan mengedepankan full body contact, sehingga para karateka dipersiapkan secara terstruktur dan bertahap untuk mampu menghadapi benturan fisik secara aman.
Sensei Lukman Hadi, pelatih dan pembina senior Kyokushinkai Surabaya yang telah bergabung sejak awal dekade 1970-an dan pernah membina sejumlah cabang sebelum melanjutkan pembinaan di Surabaya, menjelaskan bahwa fisik, stamina, dan teknik adalah pilar utama latihan. Namun, seluruh elemen tersebut bermuara pada satu tujuan: pembentukan mental dan kepatuhan pada nilai positif.
“Fisik, stamina, dan teknik itu utama. Filosofi full body contact digunakan untuk pembentukan mental, kedisiplinan, dan kepatuhan,” kata Lukman.
Ia menambahkan, karakter latihan Kyokushinkai juga tampak dari proses penguatan otot dan teknik yang dilakukan bertahap. Bahkan, tradisi berteriak di dalam dojo bukan sekadar ungkapan keberanian, melainkan bagian dari teknik pernapasan dan penguatan inti tubuh.
“Setelah fisik dan kepercayaan diri terbentuk, baru kemudian berkembang ke teknik. Itu yang kita fokuskan terlebih dahulu,” ujarnya.
Berawal dari Pengalaman Mengatasi Bullying
Menariknya, motivasi anak-anak muda bergabung dengan Kyokushinkai sering kali berakar dari pengalaman nyata di lingkungan sekolah, salah satunya isu bullying.
Rinjani Aurellia, karateka berusia 15 tahun asal SMP Negeri 10 Surabaya, mengaku mulai bergabung karena ingin membangun kepercayaan diri setelah mengalami pengalaman sosial yang kurang menyenangkan. Setelah empat hingga lima tahun berlatih, ia merasakan transformasi drastis pada dirinya.
“Saya ingin meningkatkan kepercayaan diri. Setelah ikut karate, perubahannya cukup drastis; saya lebih bisa mengontrol emosi dan berkomunikasi dengan baik, baik dengan teman sebaya maupun lawan jenis,” tutur Rinjani.
Baca juga: Pemkot Surabaya Dukung Restorative Justice, Peserta Jalani Kerja Sosial di Liponsos
Bagi Rinjani, karate bukan sekadar kemampuan menghadapi lawan di arena. Latihan justru membuat dirinya lebih tenang menghadapi situasi sehari-hari.
Hal serupa dirasakan oleh karateka perempuan lainnya.
Salah seorang warga karate PMK Kyokushinkai Surabaya, Rianna Forto, mengatakan karate membekalinya dengan rasa percaya diri ketika harus beraktivitas secara mandiri.
“Karate sangat penting, terutama di zaman sekarang ketika kejahatan semakin banyak. Ikut karate membuat kita lebih percaya diri dan bisa melindungi diri,” katanya.
Selain kemampuan bela diri, ia juga merasakan manfaat kebugaran tubuh serta kedisiplinan dalam menghormati orang yang lebih tua dan pelatih. Setelah empat bulan berlatih, ia menjadi lebih tenang beraktivitas hingga malam hari.
Peran Keluarga: Dari Satu Anak, Menular ke Saudara
Pembinaan Kyokushinkai juga mendapat respons mendalam dari keluarga. Salah seorang orang tua, Desi, bahkan mengikutsertakan ketiga anaknya, yang terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki dalam rentang usia remaja hingga anak-anak ke dalam latihan.
Keputusan tersebut berawal dari pengalaman anak pertamanya yang pernah mengalami bullying dan nyaris menjadi korban pelecehan. Pengalaman tersebut membuatnya berpikir bahwa anak-anak mutlak harus memiliki keberanian dan kemampuan menjaga diri.
“Saya bilang, enggak 24 jam mami akan stay buat kamu. Anak perempuan juga harus fight,” tuturnya.
Baca juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Massa Demo di Grahadi Tuntut MBG Dihentikan hingga Presiden Mundur
Dari anak pertama, kedua adiknya kemudian mengikuti latihan. Menariknya, ketiganya sama-sama memiliki pengalaman bullying di sekolah. Setelah mengikuti karate, perubahan yang dirasakan cukup signifikan: anak-anak menjadi lebih percaya diri, disiplin, mampu mengontrol emosi, dan berani melindungi diri serta membantu teman. Bahkan, dua di antaranya telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan nasional.
Surabaya Jadi Salah Satu Basis Penting
Pembinaan yang konsisten membuat Surabaya berkembang menjadi salah satu basis penting Kyokushinkai di Jawa Timur dengan jumlah anggota yang tergolong terbesar.
Sensei Arief Sugiarto, pembina di Dojo Kupang Jaya, menjelaskan bahwa kurikulum terpusat diterapkan untuk memetakan bakat atlet, baik yang diarahkan ke nomor Kumite (pertarungan) maupun Kata (seni jurus), di mana minat terhadap keduanya terpantau seimbang. Antusiasme masyarakat terus meningkat seiring tingginya kepedulian orang tua terhadap masalah bullying.
Karate dan Kepedulian Sosial
Pembentukan karakter tidak berhenti di dalam dojo, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata kemasyarakatan. Salah satunya melalui kegiatan bakti sosial ke YPAC Surabaya untuk menanamkan empati dan rasa hormat kepada sesama, termasuk kepada penyandang disabilitas dengan tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan stamina.
Sejarah Panjang Sejak 1967
Nilai-nilai luhur ini berakar dari sejarah panjang yang dirintis oleh mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A., pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung di bawah didikan Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo. Embrio perguruan ini lahir di Kota Batu, Malang, pada tahun 1967 dengan nama awal Go No Sen, sebelum akhirnya berkembang menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Menyiapkan Regenerasi menjadi fokus utama organisasi. Shihan Hartanto menegaskan bahwa pembinaan prestasi dan regenerasi harus berjalan beriringan agar melahirkan generasi yang memiliki keberanian, disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan diri. Sebab dalam filosofi Kyokushinkai, kekuatan sejati diuji ketika seorang karateka mampu menaklukkan diri sendiri dan menghadapi tantangan kehidupan.(red)
Editor : Redaksi