MAKI Jatim Ajak 1.000 Pelajar Banyuwangi Lawan Perundungan

Reporter : prass prasetyo

MERAHPUTIH I BANYUWANGI – Seribu pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Banyuwangi menyatakan komitmen menolak segala bentuk perundungan atau bullying. Komitmen tersebut disuarakan melalui Deklarasi Anti-Bullying yang digelar Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur dalam rangkaian hari kedua The Biggest Culture of Jatim with UKM/UMKM Ekraf Festa 2026, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan ini menjadi upaya membangun kesadaran pelajar tentang pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan. Tidak hanya menyangkut tindakan fisik, deklarasi tersebut juga menyoroti perundungan verbal, pengucilan sosial, intimidasi hingga kekerasan melalui media digital.

Baca juga: Dindik Jatim Pacu Bursa Kerja Sekolah, Buka Lebih Banyak Peluang Kerja bagi Lulusan SMA-SMK

Ketua MAKI Jatim, Heru Satriyo, mengatakan gerakan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak sebagai generasi penerus bangsa. Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh ruang untuk belajar dan mengembangkan potensi tanpa dihantui rasa takut akibat perlakuan teman sebaya.

"Ini semata-mata merupakan bentuk kepedulian MAKI Jatim kepada anak-anak, generasi penerus bangsa. Kami ingin memastikan bahwa dalam proses mengejar cita-cita, mereka mendapatkan perlindungan dari seluruh insan, terutama dari lingkungan terdekatnya, termasuk sesama teman di sekolah," tegas Heru.

Ia mengingatkan sekolah semestinya menjadi tempat membangun pengetahuan, karakter, dan masa depan, bukan justru menghadirkan tekanan maupun luka psikologis bagi peserta didik.

Heru menilai perundungan tidak bisa lagi dianggap sebagai candaan atau kenakalan remaja yang lumrah. Perilaku tersebut berpotensi merusak kepercayaan diri korban, mengganggu konsentrasi belajar, memicu tekanan mental, bahkan membuat anak takut berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Karena itu, pemahaman mengenai bentuk-bentuk bullying perlu diperluas. Ejekan terhadap kondisi fisik, penghinaan latar belakang keluarga, pengucilan dalam pergaulan, hingga serangan melalui platform digital merupakan tindakan yang tidak boleh ditoleransi.

Deklarasi di Banyuwangi ini sekaligus menjadi pelaksanaan keempat yang dilakukan MAKI Jatim. Konsistensi tersebut menunjukkan upaya melawan perundungan membutuhkan gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kampanye sesaat.

Baca juga: Baso Juherman Kembali Pimpin Muaythai Jatim, Bidik Juara Umum PON 2028

MAKI Jatim juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang melindungi anak. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan guru dan sekolah, tetapi juga orang tua, pemerintah, masyarakat, serta para pelajar sendiri.

Salah satu hal yang ditekankan ialah keberanian untuk bertindak ketika menyaksikan perundungan. Pelajar diharapkan tidak memilih diam saat melihat temannya menjadi korban, melainkan berani memberikan dukungan dan melaporkan kejadian kepada guru, orang tua, atau pihak berwenang.

Selain membangun kesadaran, gerakan anti-bullying perlu diikuti langkah nyata. Di antaranya memperkuat edukasi, menyediakan saluran pengaduan yang aman, memberikan pendampingan kepada korban, serta melakukan pembinaan terhadap pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya.

Heru berharap deklarasi yang melibatkan sekitar 1.000 pelajar tersebut tidak berhenti pada ikrar bersama. Komitmen yang disampaikan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam menghargai perbedaan dan menjaga hubungan antarsesama.

Baca juga: Guru SMK Ponorogo Angkat Legenda Reog Lewat Animasi, Raih Juara Pelatihan AI

Di tengah penyelenggaraan festival budaya dan ekonomi kreatif di Banyuwangi, gerakan ini juga membawa pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan kreativitas masyarakat. Perlindungan anak serta pembentukan karakter generasi muda menjadi bagian penting dari kemajuan daerah.

Melalui deklarasi tersebut, MAKI Jatim ingin menanamkan pemahaman bahwa kekuatan bukan ditunjukkan dengan merendahkan orang lain, melainkan melalui keberanian melindungi sesama.

Gerakan ini diharapkan mendorong sekolah menjadi ruang yang ramah bagi seluruh peserta didik. Sebab, keberhasilan membangun generasi masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan prestasi, tetapi juga kepedulian, empati, serta penghormatan terhadap martabat orang lain. (pps)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru