Ajak Pesantren Dakwah untuk Jauhkan Masyarakat dari Rentenir.

harianmerahputih.id
Gubernur Khofifah menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibn Malik di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (7/3) malam.

MERAHPUTIH I KEDIRI - Gubernur Jawa Timur Khofifah Parawansa menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibn Malik di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Senin (7/3) malam.   

Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan

 Pada acara tersebut Gubernur Khofifah mengajak dai dan daiyah dari pesantren ikut secara masif melakukan dakwah untuk menjauhkan masyarakat dari jerat para rentenir.

Gubernur mengaku dirinya hampir setiap hari keliling ke daerah-daerah di Jawa Timur melakukan tasaruf zakat produktif untuk pelaku usaha ultra mikro.

"Saya tanya apakah mereka sangat terdesak, apakah mereka pinjam ke rentenir dan jawabannya iya, banyak dan seterusnya. Ini pekerjaan rumah kita semua, bagaimana tafaqquh fiddin (mempelajari ilmu agama) bisa diikuti dengan dakwah bil lisan tetap jalan, dakwah bil maal dikuatkan, ini harus selaras," kata Gubernur Khofifah. 

Menurut dia, hal ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi para pendakwah ikut berdakwah memberikan masukan agar warga menjauhi rentenir.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Ia berharap agar para dai dan daiyah, para mubalig memberikan pemahaman dengan harapan agar warga tidak terjerat rentenir. Terlebih saat ini banyak sistem pinjaman daring yang mayoritas ilegal.

Gubernur menambahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Bank Jatim membuat terobosan guna menekan gerak rentenir. Dengan format dakwah yang sudah secara turun temurun, luas dan masif di pesantren, diharapkan hal ini bisa semakin membuat sadar masyarakat agar jangan sampai masuk ke rentenir.

Gubernur mengatakan di pesantren juga diajarkan format dalam menghadapi era industri 4.0, yakni kompleks problem solving. Di pesantren para kiai dan santri bermunajat, istikharah, shalat tahajud dalam beragam hal, sehingga bukan hanya soal teknologi menghadapi era industri 4.0.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

"Jadi, jika diurai betul ada transformasi digital, tapi kebutuhan tertinggi adalah kompleks problem solving. Itulah yang disiapkan oleh pondok pesantren," kata dia.

Acara Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibn Malik digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri dihadiri beberapa pejabat, diantaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bupati Kediri, Bupati Trenggalek dan Bupati Pacitan.  (red) 

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru