MERAHPUTIH I SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi program literasi yang digalakkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Menurut Khofifah, literasi, transformasi digital, dan disrupsi pasar kerja menjadi bagian dari peluang dan tantangan kerja era revolusi industri 4.0.
Revolusi industri 4.0 menitiberatkan kemampuan SDM dengan keahlian tinggi dan spesifik. Maka, kecakapan literasi akan menjadi salah satu indikator penting dalam pasar bebas dunia.
Baca juga: Komisi A DPRD Jatim Mulai Turun Tangan, Aset RS Pura Raharja Didesak Kembali ke KORPRI
Dia menyontohkan miliuner dunia asal Tiongkok, Jack Ma, berani memprediksi di 2030 nanti, ekonomi dunia akan dikuasai e-commerce, yakni sebesar 85 persen. Perdagangan online akan didominasi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
"Bisa dikatakan tulang punggung (back bone) ekonomi dunia pada 2030 mendatang adalah UMKM yang berbasis e-commerce," terang khofifah di sela-sela kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Gedung Grahadi, Surabaya, Sabtu (16/4).
Oleh karenanya, penting membekali para pelaku UMKM dengan kemampuan literasi, utamanya literasi digital. Apalagi mayoritas pelaku usaha di Indonesia notabene adalah UMKM. Kolaborasi UMKM dengan perpustakaan sangat bisa diandalkan dalam pertumbuhan dan pertambahan UMKM mau pun start up secara signifikan di Jawa Timur.
"Saya mengapresiasi dukungan luar biasa yang diberikan Perpustakaan Nasional lewat program literasi untuk kesejahteraan yang berdampak langsung di masyarakat. Lewat program tersebut, masyarakat Jawa Timur khususnya yang berada di pedesaan menjadi lebih berdaya. Bahkan, per Juli 2021 sudah tidak ada lagi desa tertinggal di Jawa Timur," jelas Khofifah.
Baca juga: Tekan Putus Sekolah, Jatim Beri Tunjangan Pendidikan untuk 48.077 Murid
Pada acara yang sama, anggota Komiis X DPR RI Zainuddin Maliki menegaskan pentingnya literasi. Seluruh aspek kehidupan bersinggungan dengan literasi.
Bahkan, masih banyak yang belum menyadari kalau kualitas literasi berdampak pada kesejahteraan hidup masyarakat. Padahal, Indonesia dikaruniai anugerah kekayaan alam yang luar biasa.
"Yang kurang subur malah maju. Yang subur belum kunjung. Tentu kecerdasan literasi mempengaruhi di dalamnya. Persoalan baca-tulis memang belum tuntas, tinggal sedikit lagi. Namun, di sisi lain terjadi pertumbuhan internet yang luar biasa. Indonesia kini menempati peringkat nomor tiga di dunia dalam hal pengguna internet," terang Zainudin.
Baca juga: Pemprov Jatim Pacu Lompatan Mutu Pendidikan Lewat GEMPITA Awards 2025
Sentara itu, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, hulu dari pembentukan literasi adalah budaya membaca. Maka, tugas perpustakaan bukan lagi sebatas mengoleksi bahan bacaan, tetapi bagaimana koleksi yang dimiliki berdaya guna sesuai dengan potensi demografi dan geografi masyarakatnya. Di sinilah peran perpustakaan membangun masyarakat untuk menghadapi perdagangan global.
"Di dalam perpustakaan terkandung ilmu, teori, dan praktek. Dari jika dilatih secara konsisten akan menghasilkan kecerdasan dan skill. Inilah bentuk kecakapan literasi sebagai salah satu indikator penting menghadapi pasar bebas dunia. Literasi memiliki kontribusi positif dalam rangka menciptakan tenaga kerja terampil, berkeahlian, kreatif, dan inovatif," kata Syarif Bando. (red)
Editor : prass prasetyo