Gol Menit 92 Hancurkan Persebaya di Kandang

Francisco Rivera mencoba melewati penjagaan pemain PSIM Yogyakarta. (Persebaya)
Francisco Rivera mencoba melewati penjagaan pemain PSIM Yogyakarta. (Persebaya)

MERAHPUTIH I SURABAYA – Harapan Persebaya Surabaya untuk membuka perjalanan di Liga Super 2025/2026 dengan raihan poin harus pupus di detik-detik terakhir laga. Bermain di hadapan puluhan ribu Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo, Bajul Ijo dipaksa menyerah 0-1 dari PSIM Yogyakarta, Jumat (8/8). Satu-satunya gol lahir dari kaki Norberto Ezequiel Vidal di menit ke-92, menghantam mental tim tuan rumah yang sudah berjuang habis-habisan.

Sejak peluit awal, Persebaya sebenarnya langsung tancap gas. Beberapa peluang tercipta di babak pertama, namun finishing yang kurang tajam membuat gawang PSIM tetap aman. Eduardo Perez Moran, pelatih Persebaya, tak menutupi rasa kecewa yang ia rasakan. Baginya, jika gol bisa tercipta di paruh pertama, skenarionya bisa sangat berbeda.

"Kalau kami bisa mencetak gol di babak pertama, jalannya pertandingan akan lain. Satu sisi kami kecewa, tapi saya tetap bangga dengan perjuangan pemain," ujar Eduardo. "Besok kami mulai lagi, tak ada alasan untuk menyerah."

Di lapangan, para pemain Persebaya seperti Bruno Moreira tak pernah berhenti mencoba. Tekanan demi tekanan digencarkan, tetapi rapatnya lini pertahanan PSIM membuat serangan Bajul Ijo mentok. Bruno mengakui, kekalahan ini berat dirasakan, apalagi terjadi di kandang sendiri.

"Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Sayangnya, hasil positif belum berpihak pada kami di hadapan pendukung sendiri," kata sang kapten.

Di sisi lain, suasana penuh euforia justru menghiasi ruang ganti PSIM Yogyakarta. Pelatih Pieter van Gastel tak bisa menyembunyikan senyumnya. Menurutnya, kemenangan di laga pembuka ini bukan sekadar soal tiga poin, tapi juga penegasan standar permainan yang ia inginkan musim ini.

"Saya sangat puas. Pemain menjalankan instruksi dengan baik, pertahanan solid, dan kami memanfaatkan peluang. Gol di menit akhir itu bonus besar," ucap pelatih asal Belanda tersebut.

Bek PSIM, Yusaku Yamadera, mengungkapkan kemenangan ini terasa spesial karena dicapai di tengah minimnya waktu persiapan.

"Kami tidak punya banyak waktu pre-season, tapi kerja sama tim menjadi kunci," ujarnya.

Bagi Persebaya, hasil ini jelas menjadi peringatan dini bahwa persaingan Liga Super tak mengenal ampun. Liga baru saja dimulai, namun setiap kelengahan bisa berbuah pahit. Eduardo Perez kini punya pekerjaan rumah besar: memperbaiki penyelesaian akhir dan mengasah konsistensi tim sebelum laga berikutnya. (red)

Editor : Redaksi