KPK Sisir Dua Rumah Pejabat Ponorogo, Jejak Kasus Monumen Reog Menguat
MERAHPUTIH I PONOROGO — Awan gelap kasus korupsi pembangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) kembali bergulung di Ponorogo. Jumat sore, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan dengan langkah lebih agresif. Dua rumah milik tokoh penting, ketua KONI Ponorogo dan mantan pejabat Pemkab disisir secara teliti, mempertegas bahwa pengusutan terhadap Bupati nonaktif Ponorogo, Sugiri Sancoko, memasuki babak baru.
Sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan mobil hitam berpelat khusus terparkir di depan sebuah rumah di Perumahan Kertosari Estate, Kelurahan Kertosari, Babadan. Rumah itu milik Yesi Daniel Tri Baskoro, pensiunan pejabat yang pernah memimpin Bidang Kebudayaan dan Bidang Destinasi Wisata Disbudparpora Ponorogo.
Tanpa banyak suara, penyidik segera masuk setelah menunjukkan surat tugas. Hampir dua jam mereka bekerja di dalam rumah, memeriksa sejumlah ruang dan lemari dokumen. Warga sekitar hanya bisa memperhatikan dari kejauhan, sementara pintu pagar rumah tetap tertutup rapat.
Saat keluar, penyidik membawa sebuah koper besar. Isinya belum diungkap, namun kuat dugaan koper tersebut menyimpan dokumen lama terkait proyek MRMP, dokumen yang berpotensi menjadi kunci baru dalam rangkaian penyidikan.
Belum berhenti di satu lokasi, tim KPK kemudian bergerak ke rumah mewah milik Ketua KONI Ponorogo, Heru Sangoko, kontraktor swasta yang tinggal di kawasan elite Jalan Batoro Katong, Kelurahan Cokromenggalan.
Namun proses penggeledahan tak berjalan mulus sejak awal. Heru tidak berada di rumah sehingga pintu tertutup rapat. Polisi dari Polres Ponorogo yang ikut mengawal hanya berjaga di depan gerbang sementara penyidik menunggu. Warga sekitar sempat menyingkirkan rasa penasaran dengan keluar rumah, meski sebagian memilih hanya mengamati dari balik pagar.
“Yang masuk tadi petugas dari KPK. Tapi soal kasus apa, kami tidak diberi tahu. Hanya lihat polisi berjaga dan pintu langsung ditutup,” ujar Fadollah Aris, tetangga Heru, saat ditemui di depan lingkungan tersebut.
Setelah menunggu lebih dari satu jam, sekitar pukul 18.00 WIB pintu akhirnya dapat dibuka. Penyidik langsung masuk ke dalam rumah dan memulai pemeriksaan. Hingga malam hari, lampu di dalam bangunan mewah itu masih menyala terang, menandakan proses penggeledahan terus berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari KPK ataupun pihak-pihak yang rumahnya digeledah. Polisi di lapangan pun memilih bungkam.
Penggeledahan ini menambah panjang deretan langkah hukum KPK terkait dugaan korupsi proyek Monumen Reog dan Museum Peradaban, proyek ambisius yang kini berubah menjadi polemik hukum dengan kerugian negara yang belum sepenuhnya diungkap publik.
Langkah KPK menggeledah rumah dua tokoh penting ini menandai bahwa penyidikan terus bergerak ke lingkaran lebih luas. Masyarakat Ponorogo, yang sejak awal menanti kejelasan kasus ini, kini menunggu apakah operasi senyap tersebut akan memunculkan tersangka baru atau membuka fakta yang lebih besar dari sekadar proyek mangkrak.
Sementara itu, suasana di dua lokasi penggeledahan masih dijaga ketat. Tim KPK belum keluar dan belum ada satu pun pejabat daerah yang memberikan keterangan. Ponorogo kembali menahan napas, menanti babak lanjutan dari drama hukum ini. (RED)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih