Gus Yahya Pilih Bertahan, Tegaskan Mandat Muktamar Tak Bisa Diganggu

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya saat memberikan keterangan pers usai Rapat Koordinasi Ketua PWNU se-Indonesia di Hotel Navator, Surabaya, Minggu (23/11) dini hari.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya saat memberikan keterangan pers usai Rapat Koordinasi Ketua PWNU se-Indonesia di Hotel Navator, Surabaya, Minggu (23/11) dini hari.

MERAHPUTIH I SURABAYA – Di tengah riuh polemik internal yang kian menghangat, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya, menegaskan dirinya tak akan bergeser satu inci pun dari amanah yang tengah ia emban. Tekanan yang datang dari jajaran Syuriyah PBNU untuk meminta dirinya mundur disebutnya tidak mengubah komitmen yang ia bangun sejak Muktamar ke-34 di Bandar Lampung, 2021 silam.

Pernyataan tegas itu ia sampaikan usai menghadiri Rapat Koordinasi Ketua PWNU se-Indonesia di Hotel Navator, Surabaya, Sabtu (22/11) malam yang berlanjut hingga dini hari.

“Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” ucapnya lugas, Minggu (23/11) dini hari.
Menurutnya, jabatan Ketua Umum PBNU bukan sekadar kedudukan organisatoris, tetapi amanah resmi dari forum tertinggi Nahdlatul Ulama yang harus ia tuntaskan hingga akhir masa khidmat, yakni tahun 2026.

“Saya mendapatkan mandat lima tahun dari Muktamar ke-34. Insyaallah akan saya jalani sampai selesai,” tegasnya.

Isu pemakzulan Gus Yahya menyeruak setelah beredarnya dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tertanggal 20 November 2025. Dokumen itu disebut-sebut memuat keputusan agar dirinya mundur, serta diklaim telah ditandatangani Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.

Namun hingga kini, keaslian dokumen tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari jajaran Syuriyah PBNU. Situasi ini kemudian berkembang menjadi perbincangan hangat, tak hanya di internal, tapi juga publik Nahdliyin.

Di tengah bergulirnya isu pencopotan dirinya, perhatian publik juga tertuju pada hubungan antara Gus Yahya dengan Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Ketika disinggung hal itu, Gus Yahya menjawab dengan hati-hati namun jujur.

“Ya, sebetulnya baik-baik saja... mungkin perasaan saya sih,” katanya sembari tersenyum.
Ia mengakui komunikasi dengan Gus Ipul sudah lama tidak terjadi, beralasan sang sekjen kini memikul amanah besar sebagai Menteri Sosial RI.

“Dia mungkin terlalu sibuk, sudah lama sekali tidak menghubungi saya. Saya juga tidak tahu,” ujarnya.

Di saat NU tengah mempersiapkan agenda besar menuju satu abad lebih kiprah perjuangan, dinamika internal jelas bukan perkara sepele. Namun, Gus Yahya meyakini persatuan adalah nilai utama yang tak boleh tergadaikan oleh perbedaan pandangan.

Di hadapan para ketua PWNU se-Indonesia, ia menegaskan bahwa dirinya akan terus fokus menjalankan amanah organisasi.

“NU ini rumah besar. Tanggung jawab saya adalah memastikan rumah ini tetap kokoh,” pungkasnya.

Di sisi lain, meski namanya ikut terseret, Gus Ipul memilih tampil menenangkan. Melalui pernyataannya pada Jumat (21/11), ia mengingatkan bahwa apa yang terjadi adalah dinamika organisasi yang harus dipahami dengan kepala dingin.

“Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan,” tegasnya.
Ia meminta para pengurus NU di berbagai tingkatan menjaga persaudaraan dan tidak membuat langkah yang memperkeruh suasana.

“Ikuti perkembangan hanya dari informasi resmi Syuriyah PBNU,” pesannya.(dpr)

 

Editor : Redaksi