Jawa Timur Kokoh di Puncak Pariwisata Nasional, 181 Juta Pergerakan Wisatawan Warnai Akhir 2025

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Evy Afianasari
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Evy Afianasari

MERAHPUTIH I SURABAYA — Provinsi Jawa Timur kembali menegaskan dominasinya sebagai episentrum pariwisata nasional. Menjelang tutup tahun 2025, Bumi Majapahit tampil sebagai magnet utama pergerakan wisatawan nusantara, meninggalkan provinsi-provinsi besar lainnya dalam hal jumlah kunjungan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Evy Afianasari, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025, total pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Jawa Timur telah menembus angka 181 juta pergerakan. Capaian ini menempatkan Jawa Timur di peringkat pertama secara nasional.

“Angka ini menyumbang sekitar 18 persen dari total pergerakan wisatawan nasional. Jawa Timur berhasil melampaui Jawa Barat dengan 175,5 juta pergerakan dan Jawa Tengah yang mencatatkan 122,7 juta,” ujar Evy kepada harianmerahputih.id di sela kegiatan doa bersama akhir tahun 2025 di Islamic Center Surabaya, Selasa (30/12) malam.

Menurutnya, tren positif tersebut dipastikan belum mencapai titik akhir. Momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) justru diproyeksikan menjadi puncak lonjakan kunjungan, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat di akhir tahun.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan kunjungan wisatawan ke berbagai Daya Tarik Wisata (DTW) selama periode Nataru mencapai 8,5 juta orang. Target tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di angka 8,08 juta kunjungan.

Hingga laporan sementara ini disusun, total kunjungan telah mencapai 6.224.156 orang. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 20,69 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu—sebuah sinyal kuat bahwa sektor pariwisata Jatim masih melaju kencang di tengah dinamika ekonomi nasional.

“Kementerian Perhubungan memprediksi ada 131,04 juta pergerakan nasional selama Nataru. Jawa Timur siap menangkap peluang ini. Puncak kunjungan kami lihat terjadi pada Minggu, 28 Desember, dan diperkirakan akan kembali melonjak pada 1 Januari 2026,” jelas Evy. 

Dari data kunjungan wisatawan, destinasi klasik hingga unggulan alam masih menjadi primadona. Kebun Binatang Surabaya (KBS) tercatat sebagai DTW dengan kunjungan tertinggi, mencapai 159.031 orang. Posisi berikutnya ditempati Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri dengan 56.210 kunjungan, disusul kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang tak pernah kehilangan pesonanya.

Sementara itu, minat wisatawan mancanegara (wisman) juga menunjukkan tren menggembirakan. Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang serta kawasan TNBTS menjadi destinasi paling banyak diburu pelancong asing. Hingga November 2025, kunjungan wisman ke Jawa Timur tercatat tumbuh positif sebesar 27,88 persen.

Di balik gemerlap capaian tersebut, Pemprov Jawa Timur tetap menaruh perhatian serius pada aspek keselamatan wisatawan. Dari total 1.464 daya tarik wisata yang tersebar di seluruh penjuru provinsi, sebanyak 368 DTW masuk kategori rawan bencana.

Rinciannya, potensi tanah longsor mengancam 118 titik DTW, gelombang tinggi berisiko di 112 titik pantai, sementara ancaman banjir mengintai 72 lokasi wisata lainnya.

Sebagai langkah mitigasi, Disbudpar Jatim memastikan sekitar 30 persen DTW rawan bencana telah dilengkapi dengan Early Warning System (EWS). Selain itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat bersama Polda Jatim dan Dinas Perhubungan guna mengawal lonjakan arus kendaraan serta menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan.

Meski demikian, Evy tidak menampik bahwa faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri. Namun, langkah antisipatif yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai mampu menjaga kepercayaan wisatawan.

“Memang ada kendala musim dan cuaca. Tapi Jawa Timur, atas inisiasi Ibu Gubernur, telah melakukan modifikasi cuaca. Ini kami sosialisasikan kepada masyarakat dan wisatawan. Upaya ini membangun rasa aman dan kepercayaan untuk tetap berkunjung ke Jawa Timur,” ujarnya. 

Dengan dukungan infrastruktur pariwisata yang kian matang, termasuk keberadaan 693 Desa Wisata Jawa Timur menegaskan bahwa orientasi pembangunan pariwisata tidak semata mengejar kuantitas kunjungan. Lebih dari itu, kualitas pelayanan, keselamatan, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal menjadi fondasi utama.

Di penghujung 2025, Jawa Timur bukan hanya mencatatkan angka fantastis, tetapi juga meneguhkan diri sebagai lokomotif pariwisata nasional yang tangguh, inklusif, dan berorientasi masa depan.(dpr) 

Editor : Redaksi