Waspada Campak Saat Lebaran, Ning Lia Ingatkan Lindungi Anak dari Penularan
MERAHPUTIH I SURABAYA – Peningkatan mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berpotensi memicu penyebaran penyakit menular, salah satunya campak. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya dalam melindungi bayi dan balita yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengingatkan bahwa tradisi silaturahmi saat Lebaran yang melibatkan banyak pertemuan dan kerumunan dapat memperbesar risiko penularan penyakit.
“Mobilitas masyarakat meningkat saat Lebaran dan banyak aktivitas berkumpul. Kondisi ini tentu meningkatkan potensi penyebaran penyakit menular,” ujar Ning Lia, sapaan akrabnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan anak kecil ketika bersilaturahmi. Kebiasaan memegang atau mencium bayi dan balita secara langsung dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
“Jangan sembarangan memegang atau mencium bayi dan balita karena daya tahan tubuh mereka masih rentan,” katanya.
Peringatan tersebut sejalan dengan imbauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang meminta masyarakat tetap waspada terhadap penularan campak menjelang masa mudik dan libur Lebaran.
Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi serta enam kasus kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Meski tren kasus sempat meningkat pada Januari 2026 dan mulai menurun pada Februari, masyarakat tetap diminta tidak lengah karena tingginya mobilitas dan pertemuan keluarga besar saat Lebaran berpotensi memicu penularan.
Ning Lia menegaskan, imunisasi merupakan langkah paling efektif untuk mencegah campak. Ia meminta para orang tua memastikan anak-anak mereka mendapatkan vaksin sesuai jadwal.
“Vaksin membantu tubuh anak membentuk antibodi sehingga lebih siap melawan virus atau bakteri penyebab penyakit,” jelasnya.
Imunisasi campak-rubela sendiri diberikan dalam tiga dosis, yakni saat anak berusia 9 bulan, kemudian dosis penguat pada usia 18 bulan dan saat anak berusia 6–7 tahun.
Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan.
“Silaturahmi tetap penting, tetapi kesehatan juga harus dijaga. Mari lindungi anak-anak dengan meningkatkan kewaspadaan dan memastikan imunisasi mereka lengkap,” pungkasnya. (pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih