Gas Melon Langka di Bojonegoro, Harga Melonjak hingga Rp30 Ribu
MERAHPUTIH I BOJONEGORO – Kelangkaan tabung gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3 kilogram atau yang dikenal dengan sebutan “gas melon” mulai dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir. Selain sulit didapatkan, harga di tingkat pengecer juga merangkak naik jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).
Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh gas subsidi tersebut sejak awal pekan ini. Kondisi ini memaksa mereka membeli di toko pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal, bahkan mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per tabung.
Erni, warga salah satu warga Kelurahan Kamuman di Bojonegoro, mengungkapkan bahwa kelangkaan sudah dirasakannya sejak empat hari terakhir. Ia mengaku telah berkeliling ke sejumlah pangkalan resmi, namun tidak menemukan stok.
“Sudah keliling ke beberapa pangkalan, tapi kosong semua. Akhirnya beli di toko, itu pun harganya mahal sampai Rp30 ribu,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Kondisi serupa juga dialami Teguh, warga Desa Sukorejo. Ia menyebut kelangkaan mulai terasa sejak dua hari terakhir, dan hingga kini belum ada kepastian kapan pasokan kembali normal.
“Biasanya mudah didapat, tapi sekarang susah. Kalau pun ada, harganya sudah tidak wajar,” kata Teguh.
Kelangkaan LPG 3 kilogram ini dinilai sangat memberatkan masyarakat kecil yang selama ini bergantung pada gas subsidi untuk kebutuhan sehari-hari, terutama memasak. Beberapa warga bahkan terpaksa mengurangi penggunaan atau mencari alternatif bahan bakar lain.
Di sisi lain, fenomena lonjakan harga di tingkat pengecer memunculkan dugaan adanya ketidakseimbangan distribusi. Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera turun tangan untuk memastikan ketersediaan stok serta menstabilkan harga di pasaran.
Sejumlah masyarakat juga meminta adanya pengawasan lebih ketat terhadap distribusi LPG subsidi agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kelangkaan tersebut. Namun masyarakat berharap persoalan ini segera ditangani agar tidak berlarut-larut dan semakin membebani ekonomi warga, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan rumah tangga di bulan Ramadan.(jon)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih