JLS Bojonegoro Ditarget Mulai 2027, Solusi Macet Sekaligus Dongkrak Ekonomi Wilayah Selatan
MERAHPUTIH I BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mulai mematangkan langkah pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang ditargetkan dapat mulai dikerjakan pada tahun 2027. Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi jawaban atas persoalan kemacetan di kawasan perkotaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Sekretaris Daerah Bojonegoro, Edi Susanto, menegaskan bahwa pembangunan JLS telah masuk dalam program prioritas Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2027. Sejumlah tahapan awal pun telah dirampungkan, mulai dari studi kelayakan hingga desain pengembangan (development design/DD) oleh Dinas PU Bina Marga.
“Target kami pada 2027 sudah mulai ada kegiatan fisik,” ujar Edi saat memaparkan RKPD dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten di Gedung Pemkab Bojonegoro, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, penyusunan desain pengembangan menjadi langkah krusial karena memuat detail teknis seperti gambar konstruksi, spesifikasi material, hingga estimasi biaya. Dokumen tersebut akan menjadi dasar sebelum masuk ke tahap konstruksi.
Proyek JLS sendiri bukanlah rencana baru. Pembangunan jalan lingkar ini sebelumnya telah masuk dalam RPJMD Bojonegoro 2018–2023, namun belum terealisasi. Kini, proyek tersebut kembali dimasukkan dalam RPJMD 2025–2029 dengan harapan dapat segera diwujudkan.
Secara trase, jalan lingkar selatan dirancang membentang sekitar 37 kilometer, menghubungkan wilayah Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu hingga kawasan Proliman di Kecamatan Kapas. Jalur ini akan melewati sejumlah desa seperti Ngumpakdalem di Kecamatan Dander, serta Bangilan, Tapelan, Tanjungharjo, hingga Kedaton di Kecamatan Kapas.
Menariknya, pada titik tertentu seperti di Desa Ngujo dan Proliman, akan dibangun jalan layang yang melintasi rel kereta api. Infrastruktur ini dirancang untuk mempermudah akses kendaraan besar dari arah barat maupun timur tanpa mengganggu jalur perlintasan kereta.
Dalam konsep awal, JLS akan dibangun sebagai jalan dua jalur dengan masing-masing lebar 8 meter, dilengkapi trotoar di kedua sisi. Konsekuensinya, proses pembebasan lahan menjadi salah satu tahapan penting yang harus disiapkan secara matang.
Kehadiran JLS dinilai sangat mendesak. Berdasarkan kajian Dinas Perhubungan Bojonegoro, tingkat kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan perkotaan sudah mendekati ambang jenuh, dengan rasio volume terhadap kapasitas mencapai lebih dari 0,9. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kecepatan kendaraan yang hanya berkisar 20 kilometer per jam.
Selama ini, arus kendaraan berat dari arah Surabaya maupun Ngawi masih terpusat melewati jalur dalam kota, seperti Jalan Ahmad Yani, Gadjah Mada, Untung Suropati, hingga Rajekwesi. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama kepadatan lalu lintas.
Dengan adanya JLS, arus kendaraan besar diharapkan dapat dialihkan ke jalur lingkar, sehingga beban jalan dalam kota berkurang signifikan. Di sisi lain, pembangunan ini juga diproyeksikan membuka akses baru bagi kawasan selatan Bojonegoro yang selama ini belum berkembang optimal.
Pemkab Bojonegoro optimistis, proyek ini tidak hanya menjadi solusi transportasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru di wilayah pinggiran. Dengan konektivitas yang lebih baik, distribusi barang dan mobilitas masyarakat diyakini akan semakin lancar.(jon)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih