Uji Coba Prasmanan MBG di Malang, Siswa Lebih Mandiri, SPPG Evaluasi Skema Distribusi
MERAHPUTIH I MALANG – Upaya menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lebih adaptif dan edukatif mulai diuji coba di Kota Malang. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Unit Gadang 2 memperkenalkan konsep baru dalam pendistribusian menu, yakni menggunakan sistem prasmanan atau buffet, menggantikan metode pembagian paket makanan siap santap.
Kepala SPPG Unit Gadang 2, Ita Herlistyawati, mengatakan inovasi ini masih berada dalam tahap awal pengujian. Penerapannya dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang dengan melibatkan ratusan siswa sebagai bagian dari simulasi penerapan di lapangan.
“Ini adalah uji coba perdana kami. Harapannya, jika konsep ini terbukti efektif dan efisien, maka ke depan bisa menjadi salah satu alternatif distribusi MBG,” ujar Ita, Kamis.
Gagasan penggunaan sistem prasmanan tersebut, lanjut Ita, tidak muncul begitu saja. Konsep ini merupakan hasil pengembangan dari diskusi dan arahan bersama Badan Gizi Nasional (BGN), yang mendorong adanya inovasi dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi, khususnya di lingkungan pendidikan.
Momentum kegiatan halal bihalal di MIN 2 Kota Malang dimanfaatkan sebagai ajang uji coba. Dalam pelaksanaannya, sekitar 1.300 porsi makanan disediakan dengan menu bernuansa hari raya, seperti olahan ayam, sayur labu siam, telur, dan buah-buahan.
Berbeda dengan metode sebelumnya yang menggunakan ompreng atau kotak makanan, para siswa kini diberikan kesempatan untuk mengambil makanan sendiri sesuai selera. Skema ini dinilai tidak hanya memberikan variasi pengalaman makan, tetapi juga melatih kemandirian dan kesadaran siswa terhadap pola konsumsi.
Meski demikian, kebebasan tersebut tetap berada dalam pengawasan ketat. Tim dari SPPG disiagakan untuk memastikan setiap siswa mengambil makanan sesuai dengan standar porsi gizi seimbang.
“Kami tetap melakukan pengawasan melalui tim pemorsian agar asupan yang diambil anak-anak tetap sesuai kebutuhan gizi,” jelas Ita.
Di sisi lain, penerapan sistem prasmanan juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam aspek logistik. Ita mengakui bahwa mekanisme ini membutuhkan pengelolaan yang lebih kompleks dibandingkan metode distribusi konvensional.
Mulai dari penataan makanan, alur antrean siswa, hingga pengawasan langsung di lokasi menjadi faktor yang harus diperhatikan secara menyeluruh. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh akan terus dilakukan untuk menyempurnakan sistem ini.
“Hasil evaluasi akan menjadi dasar kami untuk melakukan perbaikan. Jika ada kendala, tentu akan kami carikan solusi bersama agar ke depan bisa berjalan lebih optimal,” tuturnya.(mal)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih