Dominan Tanpa Hasil, Persebaya Tumbang di Kandang Sendiri
MERAHPUTIH I SURABAYA — Tekanan tanpa hasil menjadi cerita pahit yang harus diterima Persebaya Surabaya saat menjamu Madura United. Bermain di hadapan publik sendiri, Bajol Ijo dipaksa menyerah dengan skor 1-2, dalam laga yang sejatinya dikuasai hampir sepanjang waktu.
Sejak peluit awal dibunyikan, Persebaya langsung mengambil inisiatif serangan. Dominasi semakin terlihat jelas memasuki babak kedua, ketika tim tuan rumah terus menggempur pertahanan lawan. Namun, keunggulan dalam penguasaan bola tak berbanding lurus dengan hasil akhir di papan skor.
Catatan statistik menunjukkan Persebaya menguasai hingga 72 persen penguasaan bola. Sebanyak 23 tembakan dilepaskan, dengan enam mengarah tepat ke gawang. Sayangnya, produktivitas tersebut tak mampu dikonversi menjadi kemenangan. Sebaliknya, Madura United justru tampil lebih dingin dan efisien dalam memanfaatkan peluang yang ada.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tak menampik persoalan utama timnya terletak pada penyelesaian akhir. Ia menilai, masalah klasik tersebut kembali menjadi penghambat timnya meraih hasil maksimal.
“Memang ini menjadi masalah ketika kami tidak bisa mencetak gol. Kami menciptakan banyak peluang, tetapi akurasinya masih kurang. Itu yang harus kami perbaiki,” ujarnya usai pertandingan.
Menurutnya, secara permainan Persebaya menunjukkan perkembangan positif, khususnya di babak kedua. Intensitas serangan meningkat, aliran bola lebih hidup, serta sejumlah peluang emas berhasil diciptakan. Namun, ketidakberuntungan dan kurangnya ketajaman di depan gawang membuat semua usaha tersebut berujung sia-sia.
“Di babak kedua saya pikir kami menciptakan banyak peluang dan dinamika permainan yang baik. Tetapi terkadang kami kurang beruntung. Ada tembakan yang diblok, ada yang keluar, atau peluang yang tidak berbuah gol,” lanjutnya.
Tavares juga menilai, apa yang dialami timnya bukan hal asing dalam sepak bola modern. Ia menyebut fenomena tim dominan yang justru kalah karena kurang efektif sebagai sesuatu yang kerap terjadi, bahkan di level tertinggi.
“Hal seperti ini juga terjadi pada tim-tim besar di Eropa. Mereka bisa menguasai bola dan menciptakan banyak tembakan, tetapi lawan datang satu atau dua kali ke gawang dan langsung mencetak gol. Hari ini Madura melakukan hal itu,” tegasnya.
Kekalahan di kandang sendiri tentu menjadi pukulan telak bagi Persebaya. Terlebih, para pemain dinilai sudah menunjukkan kerja keras sepanjang pertandingan. Namun, hasil akhir tetap tak bisa dihindari.
“Kami sangat sedih karena kalah di kandang sendiri. Terlebih lagi karena saya melihat para pemain bekerja sangat keras. Tetapi inilah sepak bola,” ucapnya.
Hasil ini membuat Persebaya harus segera berbenah. Fokus tim kini beralih ke laga berikutnya yang tak kalah berat. Dua pertandingan tandang telah menanti, menghadapi Malut United dan rival klasik Arema FC.
Selain evaluasi taktikal, kondisi skuad juga menjadi perhatian. Sejumlah pemain masih dibekap cedera, yang membatasi opsi rotasi tim. Tavares berharap tim medis dapat segera memulihkan kondisi para pemain agar kekuatan tim kembali optimal.
“Kami berharap tim medis bisa membantu memulihkan beberapa pemain agar kami memiliki lebih banyak pilihan. Saat ini saya masih harus melihat siapa saja yang tersedia,” tandasnya.
Persebaya kini dihadapkan pada ujian konsistensi. Dominasi permainan sudah terlihat, namun tanpa ketajaman di lini depan, hasil maksimal akan sulit diraih. Evaluasi cepat menjadi kunci, sebelum Bajol Ijo kembali turun gelanggang dalam misi bangkit dari keterpurukan.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih